0

Pangeran Berkuda Putih


Aku adalah orang yang sportif. Ketika ada orang yang lebih layak menjadi pemenang, maka aku berbesar hati menerima kekalahan. Akan tetapi, aku tidak suka  adanya perbedaan/pengistimewaan atau sesuatu yang membuat proses itu menjadi berbeda antara satu dengan yang lain. Bayangkan jika untuk menjadi pemenang, seseorang harus melewati step 1, 2, dan 3. Si A sukses melewati ketiga step dengan lancar. Si B meski tersendat-sendat juga bisa melewati ketiga step. Sementara Si C baru di step 2, ia sudah dinyatakan gagal dan tidak bisa melanjutkan ke step berikutnya. Padahal di awal sudah ada perjanjian bahwa tidak ada batas waktu dan tidak ada sistem gugur. 
Jika aku jadi A, aku akan senang karena kesempatanku tuk jadi pemenang begitu besar. Jika aku jadi B, aku harus siap kalah karena bagaimanapun kualitasku lebih rendah dari Si A. Walau demikian, aku puas karena aku telah menyelesaikan tantangan. Sementara itu, jika aku jadi C, ... Bagaimana jika kau jadi C, apa yang kau rasakan? Ketika kau tiba-tiba dinyatakan gagal padahal kau belum menyelesaikan step yang diberikan, padahal mungkin saja di step yang terakhir kau akan berikan yang terbaik darimu.
Itu hanya pengandaian saja. Bagaimana jika itu jadi kenyataan? Yah, aku merasakannya. Aku jadi Si C. Aku tidak sakit hati, tapi aku merasa tidak dihargai dan dianggap remeh. Dan jujur, aku tidak bisa berbesar hati dalam kasus ini.
Akan tetapi, seperti di film-film layar lebar, akan selalu hadir seorang pahlawan yang membela ketidakadilan. Demikian pula dalam kisahku ini. Pahlawan itu tak lain adalah ‘Pangeran Berkuda Putih’. Ia datang dengan gagahnya membesarkan hati ini. Mungkin sebelumnya, ia telah berdiskusi dengan Sailor moon, Saras 008, dan juga sHuperman. Namun, karena Pangeran Berkuda Putih yang mempunyai ‘kendaraan’, maka dialah yang datang sebagai pahlawan. Di sela-sela waktunya yang padat, ia menyempatkan diri untuk membicarakan kasus ini enam mata. Mengapa enam mata? Karena tak hanya aku yang ‘menjadi  Si C’. Hingga suatu malam yang cerah, Pangeran Berkuda Putih mengajak bertemu di dunia maya, membahas semuanya, dan tentu saja, membesarkan hati kami. Walau tak lebih dari satu jam, namun keberadaan Pangeran Berkuda Putih membuat kami bisa menerima semua keadaan. Karena dia pula, kami bisa melanjutkan kehidupan.
Hingga enam bulan berlalu. Pihak yang sama kembali mengadakan suatu ‘kontes kemenangan’. Memintaku untuk melanjutkan step yang dulu pernah dinyatakan gagal. Memintaku untuk mengulang serangkaian step namun (mungkin) dipermudah. Dan kembali muncullah Pangeran Berkuda Putih demi mendengarkan apa yang sebenarnya aku inginkan, apakah aku akan menerima penawaran itu atau tidak. Kali ini ia tak mengajak bertemu di dunia maya, namun secara langsung di dunia nyata dan lagi-lagi enam mata. Meski tak genap setengah jam bersamanya, rasanya ia dengan mudah menangkap apa yang kami inginkan. Aku ingin menjadi Si A di tempat yang berbeda dan dengan penuh perhatian, Pangeran Berkuda Putih mendukungku (kami).
Terima kasih Pangeran Berkuda Putih, kau selalu datang di waktu yang tepat. Membesarkan hati ini agar selalu bisa bertahan melanjutkan kehidupan. ^^

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top