Kisah Sang Penandai dalam Impian

Tentu kita tidak asing dengan buku-buku di atas bukan? Ketenaran buku-buku itu tentu saja karena cerita yang disajikan begitu menarik perhatian pembaca. Namun, ketenaran buku tersebut juga didukung dengan adanya film yang mengangkat kisah dari buku tersebut. Tak jarang film justru lebih dikenal daripada buku itu sendiri. Sebut saja Harry Potter. Hampir setiap orang menantikan filmnya. Namun, bagi para kutu buku, membaca buku jauh lebih menarik dibandingkan menonton filmnya. Jauh lebih puas menikmati tiap alur ceritanya.
Aku pun merasakannya. Terlebih ketika menonton film "Hafalan Shalat Delisa". Saat aku membaca buku karangan Tere Liye ini, aku begitu hanyut dengan ceritanya, betapa berdebarnya saat ombak mulai naik ke daratan, ikut merasakan kehilangan ketika tak ku temukan seorang pun saat ku membuka mata, dan betapa susahnya bertahan dengan keadaaan yang 'tak biasa'. Aku benar-benar bagai korban bencana tsunami.
Ketika menonton filmnya, kepuasan saat membaca bukunya tak dapatkan saat ku menonton filmnya. Rasanya ada yang kurang. Akan tetapi, dengan adanya film tersebut, aku justru bisa merasakan kenikmatan membaca. Dengan membaca kita bisa menemukan berjuta hal yang tak bisa kita dapatkan dengan hanya menonton biasa.
Akan tetapi, saat ini aku ingin menonton film yang diangkat dari sebuah novel karangan Tere Liye yang berjudul "Kisah Sang Penandai".

Duhai, apakah kau akan memilih mati ketika cinta-sejatimu tidak terwujudkan? Ataukah hanya bisa memeluk lutut, menangis tersedu, bersembunyi di balik pintu seperti anak kecil tidak kebagian sebutir permen? Adalah Jim, pemuda yatim-piatu dipilih oleh Sang Penandai (penjaga dongeng-dongeng), untuk mengukir kisah melupakan sang pujaan hati, Nayla. Adalah Jim, pemuda yang jangankan memegang pedang, membaca pun dia tidak bisa, terpilih untuk menggurat cerita tentang berdamai dengan masa-lalu. Dia harus menyelesaikan pahit-getir perjalanannya—apapun harganya! Karena kita sungguh membutuhkan dongeng ini.
“Apakah kau juga akan mati untukku?” Nayla bertanya lirih. Jim mengangguk, anggukan yang terlalu berani.
Novel ini memang menceritakan sebuah kisah cinta antara dua insan manusia. Namun, jika kau membaca novel ini secara keseluruhan, maka kau akan temukan kisah petualangan yang luar biasa.
"Pembaca harus siap-siap memasuki dunia panorama samudera, gerakannya kolosal, tidak merujuk pada pilar sejarah dan geografi yang eksak, dengan plot tak terduga. Ribuan capung. Sang penandai yang tak kenal masa. Nayla dan cintanya—semua kita terima sebagai pelangi fantasi Tere-Liye" (TAUFIQ ISMAIL, Penyair)
Jim, si tokoh utama harus mengarungi samudera, berpetualang di tengah lautan, dengan badai dan hantaman ombak. Ingin rasanya menonton film ini. Akan jauh terlihat hebat, jika film ini disutradarai, diproduseri, dan dimainkan oleh para pemain Hollywood. Terciptalah film fantasi yang menakjubkan. Semoga saja ^^
"Postingan ini diikutsertakan dalam BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop yang diadakan oleh My Heaven on Earth dalam rangka merayakan Ulang Tahun BBI yang kedua"

1 comment:

  1. hhaii meeoongg... thanks ya udah ikutan giveaway-ku

    ditunggu pengumumannya besok yaaa... :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top