10

Cerita di Balik Warna Biru

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keempat.
Aku suka warna biru. Dimana-mana ku temukan warna biru. Langit biru. Laut biru. Semua biru. Menurut temanku, biru itu tak hanya menunjukkan ekspresi, namun juga memberikan makna, mengungkap rasa, dan menciptakan melodi. Bagiku, biru memberikan suasana tenang dan damai.
Langit yang biru
Aku suka warna biru. Tapi itu dulu, sebelum sepotong kejadian ‘biru’ terjadi. Semua ini berawal dari terdaftarnya aku sebagai mahasiswa baru sebuah politeknik swasta di Jakarta, Politeknik Manufaktur Astra (Polman Astra).
Mahasiswa baru tentu tak lepas dari yang namanya OSPEK. Di Polman Astra, kami menyebutnya PPK atau Program Pengenalan Kampus. Tentu saja perlengkapan yang aneh-aneh harus kami siapkan. Tak lupa juga dengan kostum yang dikenakan.
PPK
Kostum yang diharuskan tidaklah memberatkan. Di hari pertama, kami diwajibkan mengenakan kemeja putih lengan panjang, bawahan hitam panjang. Hari kedua, kemeja lengan panjang warna biru gelap, bawahan hitam. Dan di hari ketiga memakai batik lengan panjang dengan bawahan hitam. Tidak ada ketentuan yang aneh-aneh seperti tas kantung gandum, topi besek, atau yang lainnya.
Akan tetapi, bagiku hal tersebut sangat memberatkan. Mengapa? Karena aku anak perantauan dan aku tidak mungkin pulang ke rumah (di Purworejo) untuk mempersiapkan segalanya. Sementara itu, aku belum mengenal Jakarta. Aku tak tahu dimana aku harus membeli kemeja, batik, dan keperluan lainnya.
Sungguh beruntungnya aku karena di Jakarta ini aku punya budhe meski hubungan kekeluargaan kami cukup jauh. Budhe-ku ini adalah kakak dari suami kakak ibu aku. Ya, ceritanya untuk sementara waktu aku akan tinggal di rumah budheku, setidaknya sampai aku bisa beradaptasi dengan lingkungan Jakarta. Kebetulan budheku mempunyai lima orang anak dan dua diantaranya tinggal bersama budhe. Maka dibantulah aku mencari keperluan PPK oleh Mbak Hesti, anak kelima budheku.
Yang utama dan paling utama adalah berburu kostum. Kebetulan aku sudah mempunyai kemeja putih dan rok hitam. Berarti aku tinggal membeli kemeja biru dan rok batik.
Di hari yang telah ditentukan, kami (aku  dan Mbak Hesti) pergi memulai perburuan. Kami naik angkot 02 menuju Ramayana Semper. Disana kami berkeliling-keliling, mulai dari lantai 1 hingga lantai paling atas. Target pertama kami; kemeja biru. Kesana kemari tak kudapati kemeja biru untuk cewek. Naik turun, ke kanan ke bawah, hampir setiap sudut telah kami jelajahi. Bukan karena tak cocok dengan model, harga atau sebagainya, namun seingatku aku tak menemukan kemeja warna biru. Mbak Hesti kemudian mengajakku ke toko-toko di sekitar Ramayana. Dan lagi-lagi tak ku temukan kemeja warna biru.
Ku tahu Mbak Hesti telah lelah. Apalagi saat itu dia sedang berpuasa. Namun, demi melihatku senang, Mbak Hesti mengajakku ke ITC Cempaka Mas untuk melanjutkan perburuan. Kami naik 07. Sepanjang perjalanan, Mbak Hesti banyak bercerita. Dia selalu mengingatkanku untuk selalu waspada saat naik kendaraan umum. Tak terasa kami telah sampai di ITC Cempaka Mas.
***
Ini pertama kalinya aku berbelanja di pusat perbelanjaan sebesar ITC. Awalnya aku merasa aneh dengan para pelayan toko yang ada disana.
“Boleeeh, belanja.” Teriak mbak-mbak penjaga toko.
Di kotaku Purworejo, biasanya para pelayan toko menyambut ‘para tamu berharga’ dengan mengatakan “Mau beli apa, Mbak? Celana, baju, ada disini. Ayo dilihat dulu!” dan ini berbeda dengan yang di Jakarta.
***
Kami mulai menyusuri setiap sudut. Kami datangi tiap toko yang menjual kemeja. Sayangnya kemeja biru (berlengan panjang) tak mudah ku temukan. Kebanyakan dari mereka menjual kemeja biru berlengan pendek. Lagi-lagi kami harus naik turun, kesana kemari untuk mencari kemeja biru berlengan panjang. Sambil berburu kemeja biru, kami sekalian mencari batik. Tak terlalu susah untuk mencari batik karena hanya mengunjungi beberapa toko, kami sudah menemukannya.
Kami pun melanjutkan perjalanan. Sesekali kami duduk di bangku dekat escalator. Ku lihat muka pucat Mbak Hesti. Dia terlihat kelelahan, demikian pula aku.
“Barang itu kalau dibutuhkan, susah dicari ya!” kata Mbak Hesti.
“Iya, Mbak.”
“Kita tadi udah muter-muter, tapi nggak ada.”
“Iya. Kemeja biru adanya yang pendek semua.”
“Ada yang panjang, tapi kemeja cowok. Kalau kemeja biru cowok banyak.”
Setelah berpikir beberapa saat, aku pun akhirnya memutuskan untuk membeli kemeja biru cowok. Akhirnya kami berdua pergi ke toko yang menjual kemeja cowok. Disana banyak dijual kemeja berlengan panjang. Namun, lagi-lagi aku dibingungkan.
“Biru seperti apa yang harus ku beli?”
Ada biru cerah, biru gelap, biru muda, biru tua, dan beragam warna biru lainnya. Aku bingung. Informasi yang ku dapatkan tak menyebutkan biru seperti apa, hanya biru gelap. Tapi segelap apa? Biru oh biru. Yang mana yang harus ku pilih? Ku tanya teman baruku, ternyata dia belum membeli kemeja biru. Akhirnya setelah menimbang dan memilih, aku memutuskan untuk membeli kemeja cowok lengan panjang dengan warna biru gelap namun tak terlalu tua. Deal.
ilustrasi: warna kemeja biruku seperti ini
Sesampainya di rumah budheku, aku kepikiran untuk bertanya ke salah satu panitia PPK, lewat SMS tentunya. “Kak, buat PPK, birunya seperti apa ya?”
“Biru Dongker.”
Jedhhiieerrrrrrrr… Biru dongker? Seperti apakah itu? Setelah ku cari tahu, biru dongker adalah biru yang mendekati warna hitam. Salah beli kemeja dong? Tentu saja. Apa yang harus aku lalukan? Gimana kalau aku dihukum gara-gara kemejaku terlalu mencolok? Gimana ini?
Aku kembali SMS ke temanku mengabarkan kalau biru yang dimaksud adalah biru dongker. Temanku menjawab, dia sudah beli kemeja biru, belum dongker, tapi sudah cukup gelap.
Aku semakin ketakutan. Takut jika nanti dihukum kakak-kakak keamanan. Gimana kalau hanya aku yang memakai baju biru yang lumayan cerah, bukan dongker? Hukuman seperti apa yang akan aku dapatkan?
Serem banget jika harus berhadapan dengan Sie Keamanan
Aku mengirimkan SMS ke teman baruku yang lain. Kebetulan dia belum beli kemeja biru. Akhirnya aku bilang padanya, “Kalau mau beli kemeja biru bareng ya. Aku salah warna nih!”
Di hari yang telah ditentukan, kami (aku dan temanku) pergi mencari kemeja biru. Temanku mengajak ke Ramayana Koja. Aku belum pernah kesana.
Sesampainya disana kami langsung menuju ke bagian kemeja dan baju kerja. Setelah cukup lama berkeliling-keliling, kami tak menemukan kemeja biru cewek dongker berlengan panjang satu pun. (Dan lagi-lagi) akhirnya kami membeli kemeja cowok lengan panjang. Yang membedakan dengan sebelumnya yaitu warna birunya. Kali ini kemeja biru yang ku beli berwarna biru dongker. Yey.
ilustrasi: ini baru biru dongker >.<
Di hari kedua PPK, dimana kami diharuskan memakai kemeja biru. Saat itulah aku mengenakan kemeja biru dongkerku dipadu dengan dasi kupu-kupu yang ku buat dari kertas. Kemeja biru satunya? Lupakan. Ia terlipat rapi dan berada ditumpukan paling bawah di lemariku.
Entah apa yang ku rasakan hari itu. Sebagian besar camaba (calon mahasiswa baru) mengenakan kemeja biru dongker. Sebagian kecil berwarna biru seperti kemeja biru yang pertama ku beli. Beberapa anak mengenakan kemeja putih karena ‘mengaku’ belum sempat beli kemeja biru. Mereka yang berkemeja putihlah yang mendapat hukuman. Sementara itu, mereka yang mengenakan warna biru seperti kemeja biruku yang pertama, tak disinggung sama sekali. Oh, God!
Ternyata aku begitu taat dengan peraturan. Atau karena tak ingin mencari masalah dengan Sie Keamanan? Entahlah. Yang jelas, kedua kemeja biru yang ku beli khusus PPK sampai saat ini belum pernah ku pakai lagi setelah PPK usai. Mereka mendiami tumpukan paling bawah lemariku. Biarlah. Biarlah mereka menjadi kenangan ‘biru’ ku.
Ini nih, kedua baju biru yang ku beli khusus buat PPK

10 comments:

  1. wah pecinta biru ^^v
    pasti suka ama twitter and FB :D

    ReplyDelete
  2. ooo...biru berawal dari kampus, kirain tadi diangkat jadi ketua parpol dari partai yang memakai warna biru. hehehee

    good job..:)

    ReplyDelete
  3. kayaknya satu spesies nih dengan mbak yang suka biru juga :)
    Kemejanya keren mbak, mau dong :)

    mampir juga yah di blogku yang ada warna2 birunya :)

    ReplyDelete
  4. apa sampe skrg msh suka dg warna biru? atau malah trauma dg si biru? smg msh suka dg warna biru ya...

    ReplyDelete
  5. keren kemejanya. mirip temanku yang juga suka warna biru. ngelihat warn biru seperti tenang apalagi jika tiduran ditanah lapang ditemani angin sepoi sambil menantap birunya langit

    ReplyDelete
  6. waaah suka belanja di ITC yaaa? diskonnya gede gak?

    dulu saya juga suka biru, sekarang gak lagi. penyuka biru biasanya diartikan orang yang mellow, kalau kamu sendiri setuju gak?

    ReplyDelete
  7. wah kemeja birunya sayang sekali kalau berdiam di lemari ya, disumbangin saja Kaka.. ke panti asuhan, banyak yg mau kayaknya.. salam kenal...

    ReplyDelete
  8. sama dong, pecinta biru...
    Tapi kenangan ospek memang menggelikan ya, kita bisa segitu patuhnya sama senior, padahal kan sama2 mahasiswa..hehe

    ReplyDelete
  9. Di sumbangin aza mba baju birunya... saya juga suka biru :-)

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top