0

Aku Mengerti


"Aaahhh... Aku gila!" teriaknya sembari meninggalkan meja kerjanya.
Rupanya dia belum menyerah setelah kembali menginstall ulang printernya. Dia masih mencari cara dan berujung pada teriakan putus asanya.

Keesokan harinya, saat hari sudah siang, dia menyerahkan hasil cetakan label ke teman sebelahnya. "Nih, coba scan barcodenya. Harusnya muncul angka 19, kode resep."

'Wih, udah selesai nih.' batinku.

"Udah bisa Mas?" tanyaku pada dia yang masih sibuk dengan layar hitamnya.
"Pake PDF jadinya."
"Hahaha. Yaudahlah, daripada stres." kataku.
"Jadinya pake cara yang dulu? nampilin ke pdf?" imbuh teman sebelahnya. "Yowis, rapopo..."
Aku tak lagi mendengarkan pembicaraan mereka karena sudah pamit pulang.

***

Hari ini, aku bersama mereka mengunjungi Depo Farmasi Rawat Inap. Pada akhirnya, aku mengerti kekhawatiran dia tentang cetak label ini. Aku jadi tahu kenapa dia mati-matian mencari cara agar bisa mencetak sesedarhana mungkin. Ketika user sudah merasa nyaman dengan kondisi sekarang dan harus berubah dengan proses yang lebih panjang, tentunya tidak akan mudah untuk menerima.

Jadi, seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, obat dibagi menjadi dua; obat dalam dan obat luar. Obat dalam dicetak pada kertas warna putih dan obat luar dicetak pada kertas warna biru. Dengan menggunakan sistem yang sekarang, sekali user klik 'Cetak' kedua printer akan segera merespon dan menjalankan sesuai fungsinya.

Akan tetapi, dengan sistem yang dibangun sekarang ini, proses akan menjadi sedikit lebih panjang. Ketika klik 'Cetak' akan muncul dua tab pdf preview; satu untuk obat dalam dan satu untuk obat luar. Ketika akan mencetak, user membuka satu satu tab terlebih dahulu, memilih printer yang akan digunakan, cetak. Selanjutnya, user membuka tab satunya, pilih printer, cetak. Kalaupun komputer sudah disetting default printer, pastinya user tetap akan memilih printer di salah satu tab pdf. Bagi user yang sudah terbiasa dengan sekali tekan, label langsung keluar, tentunya sistem baru ini sangat merepotkan, menambah pekerjaan, dan mungkin akan berdalih dengan alasan mengganggu pelayanan (leadtime menjadi lebih lama).

Perubahan ini mungkin akan terasa menyakitkan untuk mereka. Namun, percayalah, ini untuk kebaikan kita bersama.

Kita analogikan organisasi ini seperti tubuh. Tubuh ini sekarang sedang sakit maag, misalnya. Nah, Depo Farmasi ini ibarat mulut. Ketika makan apapun, mulut ini masih bisa merasakan kenikmatan makanan. Namun, ketika sampai di perut, lambung terasa perih kesakitan. Tentunya kita harus memberikan obat untuk tubuh yang sakit ini. Disini, sistem yang baru berperan sebagai obat. Ketika obat dimasukkan ke mulut, tentunya mulut yang harus menanggung rasa obat yang pahit. Tapi hasilnya, tubuh akan kembali sehat, perut tidak lagi sakit, dan mulut bisa menikmati makanan enak lagi.

Hanya menunggu waktu agar kalian bisa terbiasa dengan sistem yang baru ini. Jadi, tolong terima sistem ini apa adanya. Disisi lain, kami akan terus memperbaiki bagaimana sistem ini bisa membantu kalian sebaik mungkin. Tentunya kami tak ingin membuat sesuatu yang merepotkan kalian. Kami bagian dari tubuh ini. Kami ingin memberikan yang terbaik, tapi kami juga punya keterbatasan.

Ah~ aku tak sabar menanti perubahan besar-besaran di tahun ini. Tentunya akan ada banyak teriakan dari para pengguna sistem. Tapi hal ini membuatku bersemangat! Yosha!

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top