0

Merasa Bersalah

Akhir-akhir ini aku bingung mau mengerjakan apa. Secara fungsi, aplikasi yang ku buat sudah selesai. Trial untuk beberapa data juga sudah ku lakukan. Kesalahan dan kerancuan data rasanya sudah tidak ada. Seharusnya langkah selanjutnya adalah menunjukkan ke user apakah ada yang perlu ditambahkan/direvisi/diperbaiki. Namun, itu belum ada di agenda kami. Kami akan menunjukkannya secara serentak ketika keseluruhan sistem siap digunakan. Perkara nanti tidak sesuai dengan kehendak user, ya nanti kami cari solusinya. Tentunya ada pertimbangan khusus kenapa kami mengambil langkah ini.

Ada satu yang membuat kami belum bisa mengatakan aplikasi ini telah selesai, PRINT. Ini menjadi masalah ketika kami tidak bisa mencetak sesuai dengan yang kami inginkan.

***

Dalam seminggu terakhir (atau mungkin sudah dua minggu), salah satu temanku tengah berusaha sekuat tenaga mencari cara bagaimana aplikasi berbasis web ini bisa menjalankan perintah PRINT. Aku? Aku cukup menunggu dia berhasil menemukan caranya, nanti aku tinggal lihat kodingannya, ubah query-nya, selesai. Yeay.

Temanku yang satu itu memang sangat totalitas dalam bekerja. Kodingan yang 'bertele-tele' dia hapus semua. Dia ganti script kodingan sesuai dengan logika berpikirnya. Berbeda sekali dengan aku yang memegang prinsip 'yang penting aplikasinya jalan (tak peduli dibalik semua itu ada kodingan yang berantakan)'. Dan sekarang dia juga sedang menunjukkan totalitasnya, mencari cara untuk bisa mencetak. Lihat saja meja kerjanya; 1 CPU, 2 monitor, 3 printer. Udah kayak apaan aja -.-

Satu printer di kanan, dua monitor di depan, dua printer di kiri. Warbiyasak yak (-.-)" mending kalau kecil, itu monitor sama printer, gedhe-gedhe semua.

Balik lagi ke dia. Semenjak ketiga printer itu tersambung ke komputernya, tak jarang kami mendengar "ck", "aah", "uh" dari dirinya yang merasa frustasi karena tak berhasil mencetak. Melihat dia yang seperti itu, kami, orang-orang yang seruangan dengan dia, sudah menganggap itu hal yang biasa. Dia memang terbiasa dengan hal-hal 'njlimet' seperti itu. Dia mau berpikir dua atau tiga kali lebih keras hingga hasilnya bisa sesuai dengan yang dia inginkan. Jadi ya wajar, ketika dia ngomel nggak jelas, kami cuek tak bertanya apa dan mengapa. Dia biasanya hanya akan bercerita ke teman sebelahnya saat mentok, notok, dan butuh bantuan.

Jadi, dari tiga printer yang ada, satu tidak ada masalah. Dia bisa mencetak sesuai yang diharapkan. Namun, ada kendala pada dua printer yang difungsikan untuk mencetak label obat. Kedua printer tersebut tipenya sama. Hanya saja, karena kami membedakan kertas untuk mencetak obat dalam dan obat luar, maka kami butuh dua printer tersebut.

Aku sendiri kurang paham masalah apa yang ditemukan temanku hingga printer tersebut membuatnya stres. Awalnya dia bilang, printer itu tidak mau mencetak dari web. Namun, setelah diotak-atik lagi, kemarin dia bersorak kegirangan "Yeah, akhirnya bisa!" Aku pun diajari bagaimana setting Printer Properties agar printer tersebut bisa digunakan.

Aku kira case closed dong, masalah selesai. Tapi ternyata tidak. Masih ada satu kendala dimana hasil label yang tercetak bentuknya plain. Polos. Kami tidak bisa mengatur jenis font, ukuran font, dan alignment. Selain kurang menarik, nama obat yang terlalu panjang akan terpotong.

Naaaaahhh, karena itulah, aku diperbantukan untuk mencari cara agar bisa setting font untuk label tersebut. Duh!

Pertama yang ku lakukan adalah menginstall driver dari printer tersebut. Setelah itu, aku cobalah settingan Printer Properties yang sudah diajarkan temanku. Disana ada tab Fonts yang ku pikir disitulah aku harus memodifikasi pengaturannya.

Singkat cerita, aku menemukan sebuah aplikasi untuk update driver printer. Setelah aku coba install, ternyata ada yang berubah di tab Fonts. Kini aku bisa memilih jenis font, font style, size, dan sebagainya. Berhubung aku tidak bisa mencoba apakah temuanku ini mempengaruhi hasil print atau tidak, aku bilang ke temanku. Dia pun mengupdate driver printer, sama seperti yang ku lakukan.

"Harus setting ulang lagi nih printernya." kata dia.
"Tapi font-nya keluar kan? Gapapalah." kataku.

Disitu aku merasa KEREN. Tapi ke-keren-an ku itu tidak berlangsung lama ketika melihat ekspresi temanku yang mulai berubah.
"Bisa nggak?" tanyaku.
"Enggak ada pengaruhnya."

TOENG.

Aku pun kembali searching tentang pengaturan font tersebut. Dan aku ada pada kesimpulan akhir dimana Fonts tersebut tidak akan berpengaruh selama Print Processor nya bertipe TEXT. Itu hipotesaku saja sih, aku belum membuktikannya.

"Ck, explorerku minta restart terus! Gara-gara update driver nih."

Waduh, opo meneh kiye?

"Aku restore sistem aja lah."

Beberapa menit kemudian...

"Hwaa kok installan printerku jadi ilang."

TOENG.

Seketika aku merasa bersalah karena sudah merekomendasikan temanku untuk mengupdate driver printer yang ternyata memberi dampak buruk dan menambah kadar stresnya.
1. Settingan Font tidak mempengaruhi hasil print
2. Explorer menjadi error dan minta restart
3. Setelah direstore, installan printer menghilang

Dia tidak serta merta menyalahkanku, hanya saja kekecewaannya berujung pada kalimat,"Mia, kamu ambil nih satu printer. Kamu coba-coba, siapa tahu nemu caranya."

Eta terangkanlah~

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top