0

Cuci Motor

Ada pemandangan yang berbeda di sekitaran masjid hari ini. Beberapa orang tengah mencuci sepeda motor ditempat wudhu. Percakapan pun terjadi diantara kami.

"Kalau Mbak Mia, yang nyuciin siapa? Bapaknya pasti ya?" tanya salah satu temanku.
"Nyuci sendiri saya Pak." Jawabku.
"Nyuci baju."
"Motor kan? Saya nyuci sendiri."
"Rajin ya?!"
"Ya kalau lagi rajin. Kalau lagi enggak ya saya ke tempat cuci motor."

***


Bapakku bukan tipe Bapak seperti Bapak kosanku yang sangat peka terhadap kondisi sekitar. Dulu, tanpa aku mintai tolong, Bapak kosan selalu minta kunci motorku saat aku pulang kerja. Rupanya beliau mencucikan motorku yang sudah kotor. Nggak rutin sih, hanya saat motorku benar-benar terlihat kotor. Entah akunya yang kurang peduli terhadap motorku atau Bapak kosanku yang memang sangat peduli padaku.

Itu Bapak kosanku, berbeda dengan Bapakku. Melihat motorku yang kotor saja, beliau tidak komentar, apalagi menyucikannya untukku. Awalnya sih aku lebih memilih ke tempat cuci motor, lumayan hanya Rp 8.000,- motor sudah bersih, licin, dan cantik. Tapi aku belajar dari ibuku. Beliau mencuci motornya sendiri. Biar kata hanya sekedar "raup (=cuci muka)", yang penting motor tidak terlihat begitu kotor.

Melihat ibuku yang mandiri, maka ku ikuti jejaknya. Kini aku lebih sering mencuci motor sendiri dibanding membawanya ke tempat cuci motor. Meski tak terlalu bersih dan tidak licin, kotoran yang menempel di bagian yang terlihat sudah menghilang. Dan tentunya ada rasa puas ketika melihat motorku yang terlihat lebih bersih dibanding sebelumnya.

Mencuci motor bukan pekerjaan yang membutuhkan gender tertentu. Tapi ya, syukur-syukur besok dapat suami yang peka, yang membantu banyak pekerjaan tanpa diminta :p

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top