2

[UnTu] Peyek Enak

UnTu (Unni dan Tunni) bukanlah dua orang gadis pemalu, melainkan gadis yang malu-malu-in. Yah, demikianlah adanya, seperti kejadian berikut ini.

UnTu magang di kampus sendiri. Mereka mendapat meja kerja yang seruangan dengan dosen-dosen mereka, mulai dari dosen yang mengajar tingkat satu hingga dosen yang mengajar tingkat tiga. Bahkan pembimbing akademik dan pembimbing industri satu ruangan dengan mereka.

Ada hal unik di tempat UnTu magang, yakni tiap kali ada yang ulang tahun atau tiap kali ada yang bepergian jauh, mereka membawa makanan yang dibagikan ke rekan-rekan kerja. Makanan tersebut diletakkan di sebuah meja yang dapat dijangkau oleh rekan kerja seruangan.

Di ruangan tempat UnTu magang, biasanya makanan-makanan gratis tersebut diletakkan di dekat meja Mas Radix. Mas Radix adalah salah satu dosen UnTu yang mengajar mereka dari semester dua hingga semester lima.

Mungkin karena merasa sungkan (secara satu ruangan isinya dosen semua dan hampir semua pernah mengajar UnTu), UnTu tidak pernah mengambil makanan yang tersaji di meja Mas Radix. Mulai dari gorengan, kue, cakwe, pizza, tak pernah UnTu mengambilnya. Biasanya Mbak Wiwik (salah satu dosen UnTu pula) dengan baik hati ke meja UnTu memberikan makanan.

"Kalian itu kalau nggak diambilin, nggak mau ngambil. Nggak usah malu." kata Mbak Wiwik sembari memberikan sepotong kue.
"Hehe,, iya Mbak." kata UnTu sembari nyengir.

Selain Mbak Wiwik, yang berbaik hati mengambilkan UnTu makanan adalah Mas Radix. Suatu hari, di meja Mas Radix ada beberapa bungkus peyek. Entah siapa yang membawanya. Mungkin Mas Radix. Peyek itu disediakan untuk semua orang yang ada di ruangan tempat UnTu magang.

Hingga sore hari, beberapa bungkus peyek masih tersisa. Dan seperti biasa, UnTu tak berani ambil makanan yang terhidang tersebut. Beruntung ada Mas Radix yang datang ke meja UnTu memberikan satu bungkus peyek.

"Ini buat kalian. Kalian nggak mau ambil sih di meja aku." kata Mas Radix.
"Hehe,, iya Mas." kata UnTu sembari nyengir (lagi).

Sore harinya, saat hampir seluruh orang di ruangan itu pulang dan hanya menyisakan UnTu yang memanfaatkan wifi gratis untuk facebook-an, Unni membuka peyek pemberian mas Radix.

'Krenyessss... wah, enak' batin Unni. Langsung lah dia update status dengan me-mention Tunni seperti ini.
Selang beberapa jam kemudian, muncul notifikasi di facebook Unni dimana ada beberapa orang yang mengomentari statusnya dan salah satunya ..... Mas Radix.
Tak berani membalas komentar, Unni hanya bisa memberikan jempolnya untuk komentar Mas Radix. -___-
***
Keesokan harinya, UnTu berangkat magang seperti biasa, bertemu dengan orang-orang seruangan, dan berkutat pada laptopnya masing-masing. Tiba-tiba dari arah depan, Mas Radix datang menuju meja UnTu dengan membawa sesuatu di tangannya. 

"Ini. Aku suruh ambil di mejaku nggak mau. Jangan rebutan lagi yah. Haha." kata Mas Radix memberikan sebungkus peyek (lagi) ke UnTu.
"Hehe,, iya Mas." kata UnTu (lagi-lagi) nyengir.
***
Nantikan kisah UnTu selanjutnya ^^

2 comments:

  1. Malu-malu tapi mau hahaha
    Kalau nggak mau, ya cuma ngiler. Untung ada yang berbaik hati ngambilin. Jaim-nya gede banget.

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top