Cuti Melahirkan : Rencana VS Realita

Monday, March 18, 2019
"Rencana tinggallah sebuah rencana"

Di usia kandungan 37w2d ini (3 minggu sebelum HPL) aku memulai cuti melahirkan, sesuai apa yang sudah aku agendakan di awal bulan. Meski demikian semua tak berjalan sesuai rencana.
Agenda

Sebenarnya aku bisa saja tak mengambil cuti 1,5 bulan sebelum HPL yang jatuh di tanggal 7 April. Aku kerja di rumah sakit, kontraksi sewaktu-waktu, IGD mudah sekali dijangkau, kamar bersalin tepat di sebelah ruang kerja. Pokoknya aman lah kalau mau lahiran sewaktu-waktu.

Akan tetapi, aku butuh memberdayakan diri. Nggak yang gimana-gimana sih, tapi setidaknya aku ingin mempersiapkan fisik dan mentalku menuju persalinan yang minim trauma. Aku tak ingin menghadapi persalinan tanpa persiapan apapun. Lagipula kadang aku merasa sedih ketika hari demi hari terlewati begitu saja dan tersadar 'lho sudah tanggal segini'. Bukan hanya perasaan sedih, tapi berjuta rasa lainnya.

Kenapa sedih? Bukannya bahagia karena sebentar lagi bertemu dengan sang buah hati. Tentu aku bahagia "dia" akan segera hadir diantara kami. Tapi entah kenapa aku juga merasa sedih karena tak ada lagi yang menendang perutku dari dalam, merasakan bagaimana dia menggeliat dan bergerak sesuka hati. Selain itu ada rasa takut dan khawatir, bisa nggak ya aku merawat bayi baru lahir (secara gendong bayi orang masih kaku setengah mati, bahkan cenderung menolak kalau ditawari untuk menggendong), bisa nggak ya aku tahan dengan omongan orang tentangku dan bayiku, harus begini begitu, nggak boleh ini nggak boleh itu, rasanya kok sudah lelah duluan kalau harus menanggapi komentar orang lain. Oleh karena itu, aku ingin mempersiapkan segala sesuatunya sebelum bayi ini lahir, agar aku tak kehilangan momen sebelum persalinan, agar fisik dan mentalku siap baik sebelum maupun sesudah persalinan.

Rencana
Minggu, 17 Maret 2019, aku pulang ke rumah orang tua, menghabiskan satu minggu penuh disana. Aku ingin benar-benar memberdayakan tubuhku; pagi dan/sore jalan kaki, dilanjut ngepel jongkok (hari ini ruang tamu, besoknya kamar tidur, besoknya lagi ruangan lain), selanjutnya beberapa menit melakukan gerakan yoga atau senam hamil. Kalau capek, istirahat sambil ngemil nanas, buah naga, dan kurma. Setidaknya itulah gambaran kegiatan selama seminggu ke depan di rumah orang tua. Kenapa ingin melakukannya di rumah orang tua? Kenapa dengan rumah mertua? Aku merasa akan mati gaya di rumah mertua saat ditinggal suami kerja. Mau ngapa-ngapain merasa rikuh, garuh, dan juga di rumah ada keponakan, rasanya kurang bisa memberdayakan diri dengan maksimal. Itu sebabnya aku lebih memilih di rumah orang tua, mau jungkir balik juga nggak ada yang komentar. Pokoknya suasananya lebih kondusif dan tentunya bisa menaikkan hormon oksitosin (hormon bahagia) karena di lingkungan yang nyaman.

Sekembalinya dari rumah orang tua, tanggal 24 Maret, yang mana usia kandungan sudah masuk di 38w, aku akan cuci steril baju dan peralatan si bayi. Kenapa baru di usia segitu? Ya karena biar nggak mati gaya banget di rumah mertua. Setidaknya ada aktivitas yang dikerjakan sebelum akhirnya si bayi lahir. (Hasil diskusi dengan suami; selama menunggu persalinan kami tinggal di rumah mertua). Saat semua perlengkapan sudah siap, selanjutnya beri afirmasi ke bayi untuk segera lahir. Berharap sekali di tanggal 30/31 Maret bayi sudah lahir.

Dan pada akhirnya, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan.

Realita
Minggu, 17 Maret 2019, hujan sedari pagi turun tanpa jeda. Kami tak mau ambil resiko basah selama perjalanan, jadi nggak maksa keadaan. Kalau sampai sore hujan emang belum reda, yasudah pulang ke rumah orang tua besok saja. Qadarullah, hujan masih turun hingga malam tiba dan menjelang pukul 23.00 WIB, ibu mengabari bahwa saat ini banjir tengah melanda dan bahkan masuk rumah. Ya Allah 😥
banjir masuk rumah untuk pertama kalinya

Senin, 18 Maret 2019, aku memulai hari pertama cuti di rumah mertua dengan cuaca masih mendung dan sesekali hujan. Nggak terlalu mati gaya sih, tapi kurang optimal dalam memperdayakan diri. Mau nyicil cuci baju si bayi, kok ya mendung. Dan yang paling agak menyebalkan di hari ini ketika dilapori ada kasus error di kantor. Apalagi kasusnya cukup kompleks dan butuh mikir. Arrghh, gimana aku bisa menikmati masa cutiku dan mempersiapkan persalinanku. Hiks, semoga tak ada error aplikasi lagi. Huhu.

Sore hari, meski mendung sudah pergi, aku memutuskan pulang ke rumah orang tua besok saja. Sekarang pasti jalanan masih menggenang, basah, dan cukup licin untuk dilalui. Cari aman saja.

Semoga besok cuaca sudah normal dan aku bisa mulai nyicil cuci baju bayi.

Mungkin aku kelihatan nyantai banget ya, di usia kandungan 37w aku belum menyiapkan tas berisi perlengkapan melahirkan. Jangankan tas, baju aja belum dicuci. Padahal sekarang ini sudah masuk musim penghujan.

Akan tetapi, justru karena sudah memasuki musim penghujan, tapi hujan tak sesering tahun lalu, aku merasa cuaca akan terus begini hingga akhir musim hujan. Pagi hingga sore panas, malam sesekali hujan. Jadi aku merasa santai saja mengagendakan cuci baju di minggu ke 38. Semoga cuci bajunya keburu ya sebelum si bayi lahir. Maafkan Ibumu ini, Nak :p

No comments:

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.