Aku Melahirkan

Saturday, March 23, 2019
Kita tak pernah tahu apa yang terjadi di hari esok, apalagi untuk urusan hidup, mati, jodoh, dan rejeki. Sebaik apapun rencana/keinginannya, sekeras apapun usahanya, adalah hak Allah SWT untuk menentukan nasib hambaNya.

Rasanya baru kemaren aku memulai cuti melahirkan, yang awalnya melenceng dari rencana, makin kesini justru makin melenceng lebih jauh lagi. Jadi makin percaya kuasa-Mu ya Allah.


Seminggu pertama cuti, di usia kandungan 37w, aku memulai induksi alami. Pagi hari jalan kaki meski hanya 30 menit, makan kurma, nanas, dan juga buah naga untuk meningkatkan hemoglobin.

Pulang dari jalan kaki, meski cuaca mendung, aku nyicil mencuci baju bayi. Hari Jumat, aku sudah menyelesaikan cucianku, menyetrikanya, tinggal mengemasnya saja. Iseng ku ajak bicara bayi dalam perut "Baju Adek udah dicuci semua lho, kapan kita ketemuan?"

Makan nanas baru 1 buah, buah naga baru 1 buah (2 buah yang baru dibeli belum sempat dimakan), belum pulang ke rumah orang tua untuk memaksimalkan pemberdayaan diri, ternyata bayi sudah mengirim sinyal untuk segera dilahirkan. Bukan gelombang cinta, bukan flek darah, tapi ketuban pecah duluan. Di usia kandungan yang sudah masuk bulan (untuk dilahirkan), mau tak mau bayi ini harus segera lahir, hari ini, seminggu lebih awal dari tanggal yang ku inginkan atau dua minggu lebih cepat dari HPL. Tapi, ku pikir bayiku ini cukup cerdas memilih tanggal cantik sebagai tanggal lahirnya yaitu 2 hari setelah tanggal lahir bapaknya dan 2 minggu sebelum tanggal lahir ibunya.

Aku akan menuliskan cerita persalinanku agar pengalaman ini tidak hanya tersimpan di memori, tapi juga bisa diingat kembali lewat tulisan.

Part 1 : Ketuban Pecah Dini (KPD)

Part 2 : Perjuangan di Kamar Bersalin

Part 3 : Susah Buang Air Kecil (BAK) Pasca Melahirkan

Part 4 : Ruang Perinatologi

Part 5 : Perjuangan ASI Selama di Rumah Sakit 

No comments:

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.