4

Surat Cintaku

Aku tersenyum simpul menatap surat cinta yang dikirimkan oleh kekasihku. Kapten Bhirawa, demikian aku menyebutnya. Ah, itu hanyalah panggilan sayangku untuk Kang Pardi. Rasanya nama Kapten Bhirawa lebih tepat menggambarkan sosoknya yang tegas dan lantang. Ia juga romantis. Tak pernah ia telat mengirimiku surat tiap bulannya. Membuat hati ini selalu tak sabar menanti Pak Pos menyambangi rumahku di awal bulan.

Masih ingat pertama kali aku bertemu dengannya di perempatan kota Surabaya. Dia, aih… senyumnya begitu menawan, membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku saat menatap matanya. Dia, aih… tak ku sangka ia mengajakku berkenalan, meremas jariku yang dingin saking terpesona. Dia, aih… rasanya kenangan itu tak terlupakan.

Aku mendekap lebih erat surat cinta dari Kapten Bhirawa. Surat terakhir yang ku terima sejak satu bulan yang lalu. Tidak. Satu tahun yang lalu. Tidak. Surat itu ku terima dua tahun yang lalu. Sudah lama sekali Kapten-ku tak mengirimiku surat. Aku merindukannya. Aku sungguh merindukannya. Kini mataku sudah berair. Menatap nista surat yang ada dalam dekapanku.
“Mungkinkah Kapten Bhirawa sudah menemukan wanita yang lebih baik dariku?”
“Mengapa Kapten Bhirawa tak lagi mengirimkan kabar lewat surat-suratnya?”
“Dimanakah Kapten Bhirawa beradaaaa? Apakah dia tak merindukankuuuu?”
Aku teriak sekeras-kerasnya. Aku tak memedulikan keadaan sekitarku. Toh, sepertinya mereka tak mendengarkanku. Tak peduli padaku. Tak mengerti betapa rindunya aku pada Kapten Bhirawaku.
“Aku sungguh merindukannyaaaa. Dimanakah dia sekaraanggg?” teriakku sekali lagi.
Ku tatap lebih dalam surat yang masih erat ku genggam. Ku pandangi. Ku baca sekali lagi isi surat itu dan aku tersenyum melihat tulisan tangan dari Sang Kapten. “Aku percaya kau pasti akan datang menjemputku, Kapten. Ya, aku percaya. Aku tak peduli jika orang lain berkata kau tak akan mengirimiku surat lagi. Mereka tak mengerti benar hubungan kita. Bukan begitu Kapten? Aku selalu menunggumu.”

***

“Ada apa? Katemi berulah lagi.” Tanya perempuan berbaju putih pada temannya.
“Ya. Lihatlah dia. Sejak kekasihnya meninggal dua tahun yang lalu, beginilah ia sekarang. Kertas yang tadi ku buang di tempat sampah dipungutnya dan dianggapnya sebagai surat cinta dari kekasihnya.”
“Sungguh malang nasibnya.”

4 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Flash Fiction Senandung Cinta.

    Ikuti juga Kontes Unggulan Blog Review Saling Berhadapan di BlogCamp (http://abdulcholik.com)

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Waakksss.. ternyata Katemi stres gegara ditinggal meninggal kekasihnya, kasihan juga sih :(

    ReplyDelete
  3. Aiihh..merindukannya teramat dalam ya..
    Salam buat Kang PArdi

    sukses ngontesnyaa

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top