0

Seminar Keputrian 2013

Gunting sampah yang tidak penting. Omongan orang, dengarkan dan analisasi. Jika sesuai dengan diri kita, maka instropeksi diri. Jika omongan orang kita rasa tidak penting, maka biarkanlah, jangan diambil hati.
Gunting sampah yang tidak penting. Terkadang EGP (Emang Gue Pikirin) itu perlu, tapi hanya untuk keadaan tertentu. Tidak mungkin kan jika seseorang mengajak pada kebaikan, kita mengabaikannya begitu saja.
Demikianlah yang disampaikan Ustadzah Kadariyah dalam Seminar Keputrian Rohis Asy-Syabab 2013 yang diselenggarakan hari ini, Sabtu, 8 Juni 2013 di Ruang 403 – 404 Politeknik Manufaktur Astra.
Seminar Keputrian ini merupakan seminar ketiga yang diadakan oleh Keputrian Rohis Polman Astra. Seminar kali ini mengangkat tema, “Be A Smart Akhwat for Golden Generation” dengan pembicara Ustadzah Kadariyah dan talkshow bersama Ustadzah Wirianingsih, seorang ibu dengan 10 anak penghapal Al-Qur’an.
Luar Biasa. Banyak ilmu yang bisa diambil dengan mengikuti seminar ini. Salah satunya adalah pentingnya menuntut ilmu, khususnya bagi para muslimah. Bagaimana tidak? Para muslimah adalah calon ibu yang melahirkan generasi-generasi bangsa. Jika para ibu tidak punya ilmu, bagaimana dengan nasib si anak? Apalagi melihat kondisi saat ini, pornografi, seks bebas tengah merajalela. Jika si ibu tidak peduli dengan masalah seperti itu, maka jangan salahkan si anak jika ikut-ikutan dalam pergaulan bebas. Nah, disinilah peran si ILMU. Dengan ilmu, ibu akan menjadi melek akan informasi di sekitar dan selalu memperhatikan perkembangan si anak agar anak menjadi Gold Generation.

ILMU tak hanya sekedar ilmu yang diperoleh di bangku sekolah karena ilmu mempunyai arti yang luas. Saat kita akan masak, maka kita butuh ilmu tentang memasak. Bisa dibayangkan jika seseorang yang ingin memasak tak punya ilmu, bisa jadi air keran digunakannya untuk menggoreng tempe. Itu hanya sebagai contoh kecil, tapi bisa saja terjadi bukan? Itulah ilmu. Dalam mendidik anak juga dibutuhkan ilmu. Mengapa bisa demikian?

Mendidik anak itu harus sesuai dengan perkembangan jaman. Sekarang ini, kita sering lihat anak-anak kecil bermain tablet, handal sekali memainkan jarinya di atas layar monitor. HP mereka pun kini canggih-canggih, bukan lagi HP yang sekedar digunakan untuk kirim sms dan telepon. Sosial media pun menjamur. Ada twitter, facebook, dan lain sebagainya. Sebagai seorang ibu, maka perkembangan anak seperti itu harus diikuti. Jika anak bisa main tablet, maka si ibu juga harus bisa. Setidaknya ibu harus tahu apa yang dilakukan si anak. Jika anak sibuk dengan facebook, maka ibu harus tahu sebenarnya facebook itu apa, ada fitur apa saja, berbahaya atau tidak bagi si anak. Semakin anak berkembang, semakin banyak pula ilmu yang harus dipelajari oleh seorang ibu. Hal itu semata-mata demi terciptanya generasi yang berkualitas.

Pesan dari Ustadzah Kadariyah, jika kelak punya anak maka sering-sering lah dibelai, dipeluk, dicium, terutama saat anak belum akil baligh karena biasanya jika anak sudah akil baligh ia malu untuk diperlakukan seperti anak kecil. Selanjutnya, tetap jaga komunikasi. Perkenalkan anak-anak dengan cita-cita. Di umurnya yang masih dini, tanyakan apa yang menjadi cita-citanya. Jika anak punya cita-cita, punya keinginan kelak jika besar jadi apa, maka orang tua khususnya ibu akan mudah mengendalikan si anak, "Adek, katanya pengen jadi dokter. Adek harus rajin belajar dong!" Buat si anak sibuk oleh kegiatan yang positif dengan menyalurkan hobi mereka.

Satu hal lagi, sebagai seorang muslimah, tentu saja tidak hanya memiliki peran sebagai seorang ibu. Tetapi, ia juga punya peran sebagai seorang anak, seorang istri, seorang pribadi di masyarakat. Oleh karena itu, ilmu yang dimiliki seorang muslimah harus diaplikasi sesuai dengan perannya masing-masing. Seorang muslimah harus eksis, dalam artian bermanfaat sesuai dengan perannya. 

Nah, salah seorang muslimah yang eksis salah satunya adalah Ustadzah Wirianingsih, pembicara dalam Talkshow seminar. Beliau memiliki 10 orang anak, namun masih tetap aktif dalam organisasi. Beliau memiliki cara-cara hebat dalam mendidik putra-putrinya, salah satunya adalah mengajarkan tertib dalam hal-hal kecil; membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan diri sendiri, dan membiasakan berdoa setiap melakukan aktivitas.

Terkadang seorang muslimah berpikir, "Boleh nggak sih kalau seorang wanita itu berkeinginan untuk kuliah di luar negeri, menyelesaikan S2, S3, pengen ini, pengen itu. Tapi sampai mana batasannya?" Mengingat seorang muslimah adalah calon istri dari seorang suami dan calon ibu bagi anak-anak pasti terlintas pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Sebagai seorang wanita biasa, ia tentu punya segudang impian. Namun, perannya sebagai seorang istri dan ibu, pastilah akan membatasinya. Lantas bagaimana?

Ustadzah Wirianingsih menjelaskan bahwa selama mimpi atau keinginan itu mampu meningkatkan ilmu dan amal tak menjadi masalah. Yang tidak diperbolehkan adalah jika keinginan tersebut menyangkut harta. Seorang muslimah memang diharapkan bisa berpenghasilan, namun bukan menjadi seorang yang begitu ambisius dengan yang namanya mal/harta.

Demikianlah sedikit ilmu yang diperoleh dalam Seminar Keputrian 2013. Semoga kita sebagai seorang muslimah selalu haus akan ilmu yang nantinya bermanfaat, bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga bagi orang lain, serta mampu menjadi Smart Akhwat yang mencetak Gold Generation.
di akhir acara :')

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top