4

Pernikahanmu di Pati

Ini kali kedua aku datang ke rumahmu. Tapi, berbeda dengan sebelumnya, aku kesana tak bersamamu. Aku datang bersama rombongan lain untuk menemuimu, mendoakan yang terbaik di hari pernikahanmu.

Pati. Itulah kota dimana kamu tinggal dan disanalah perhelatan akbar diadakan. Meski sudah diinfokan jauh-jauh hari kapan hari H itu akan datang, merencanakan perjalanan ke Pati adalah sesuatu yang ribet di sepanjang tahun ini. Mungkin karena aku terbiasa duet maut denganmu saat akan mengadakan perjalanan. Tapi sekarang giliranmu yang kami kunjungi. Aku harus mengatur perjalanan ini tanpamu. Meskipun pada akhirnya kau juga ikut ribet membantuku.

Banyak yang ingin hadir di pesta perkawinanmu dan banyak pula opsi yang bisa diambil untuk menuju Pati.
1. Sewa mobil dari Jakarta langsung menuju Pati
2. Naik bus dari Jakarta langsung menuju Pati
3. Naik kereta turun di Semarang, menuju Pati menggunakan bus umum atau sewa mobil
4. Naik pesawat turun di Semarang, menuju Pati menggunakan bus umum atau sewa mobil

Itulah yang membuat kami kesusahan untuk memutuskan armada apa yang akan digunakan dan keadaan menjadi menjadi semakin sulit ketika sebagian dari mereka yang ikut hanya keep silent, tidak berkata "ya" dan juga tidak berkata "tidak" untuk opsi yang akan diambil.

Keputusan awal yang diambil adalah 1 rombongan akan naik mobil dari Jakarta (karena ada teman yang sudah terbiasa menyetir jarak jauh) dan 1 rombongan akan naik bus (karena tak satupun yang bisa menyetir mobil). Ok, deal. Mendekati hari H, satu persatu orang yang tadinya ikut, mendadak membatalkan keikutsertaannya, termasuk dia yang akan menyetir mobil dari Jakarta ke Pati. Akhirnya kita rombak ulang rencananya.

Kami semua akan naik bus dengan fix personel yang akan berangkat 9 orang. Selanjutnya kami memikirkan mobil dan hotel selama berada disana. Dua dari sembilan orang akan pulang pada hari itu juga. Itu artinya kami hanya akan bertujuh, ditambah 1 orang teman yang datang dari Surabaya. Kami berdelapan, tak cukup jika hanya menyewa 1 mobil. Kami butuh 2 mobil, tapi hanya 1 orang yang sudah certified dalam menyetir. Ada 1 orang lagi yang bisa menyetir namun dengan syarat mobil matic. Baiklah, kami coba mencari tempat sewa mobil yang murah. Kami juga mencari hotel yang nyaman. Sesuai saran darimu, kami akan menginap di hotel di Semarang, bukan di Pati.

Hotel sudah selesai di-booking. Kami memilih Gets Hotel di Jalan MT. Haryono. Pe-eR kami selanjutnya tinggal satu, mencari mobil. Ternyata lumayan susah mencari sewa mobil di Semarang karena kebanyakan tidak bisa lepas kunci. Kalaupun lepas kunci, harus ber-KTP Semarang atau setidaknya memiliki saudara/kerabat di Semarang. Dan lagi-lagi kamu membantu kami mencarikan kontak yang bisa dihubungi untuk sewa mobil.

Sebelum deal sewa mobil, ke-ribet-an mulai terjadi kembali. Satu dari delapan orang tetiba memutuskan untuk pulang setelah acara karena besoknya ada arisan (dia yang pegang uang, jadi harus segera pulang). Dua orang yang lain bermasalah dengan urusan cuti. Acaramu yang diadakan di hari Jumat membuat kami harus mengajukan cuti di kantor kami masing-masing. Dan ternyata dua orang bermasalah dengan hal itu dan memutuskan pulang di hari Sabtunya. Satu orang dari Surabaya pun ikut pulang di hari Sabtu karena dia tak ingin menjadi pria paling tampan di antara rombongan wanita. Jadi beginilah komposisi akhir kami:
Jumat : 9 orang + 1 orang dari Surabaya
Sabtu : 7 orang
Minggu : 4 orang
Dan akhirnya diputuskan kami hanya akan menyewa 1 mobil untuk 2 hari.

Semuanya berjalan lancar hingga hari H. Tanggal 12 Januari kami bersembilan berkumpul di Terminal Bus Terpadu Sentra Timur Pulo Gebang pukul 18.00 WIB. Semua datang tepat waktu. Kami akan naik bus Haryanto, sesuai dengan tiket bus yang kamu belikan untuk kami.

Kesan pertamaku saat naik bus ini "Busnya bagus, ada sandaran kakinya, ada selimutnya pula. Dengan harga 200ribu, worth it lah, apalagi dapat kue dan air mineral, ditambah pula dapat makan gratis di rest area pool Haryanto. Benar-benar berbeda dengan bus jalur Selatan. Apalagi gaya menyetirnya. Benar-benar calon pembalap. Aku rasa sopir angkot akan kalah jika dibandingkan sopir Haryanto. Bus yang dikendarainya bermanuver dengan lincah, bahkan dalam kondisi macet sekalipun. Mungkin tidak nyaman saat tidur, apalagi pas di jalanan rusak. Tapi perjalanan menjadi lebih singkat. Jakarta - Pati hanya 10 jam. Luar biasa."

Kami turun di Pasar Puri, Pati, pukul 05.00 WIB. Disana sudah ada satu elf yang kamu sediakan untuk menjemput kami. Sebelum menuju rumahmu, kami mampir ke Masjid Raya Pati untuk menunaikan sholat subuh. Setelahnya, kami bergerak menuju Desa Kuniran, rumahmu. Kamu pasti tengah didandani saat itu.

Kami tidak diantar ke rumahmu karena disana pasti ramai orang. Elf mengantar kami menuju ke rumah saudaramu, "Mbah Carik", begitu orang sana memanggilnya. Rumahnya luas, banyak kamar kosong, dan sangat nyaman untuk kami beristirahat sejenak dan berganti pakaian. Satu per satu dari kami mulai antri kamar mandi.
Tak berapa lama, datang 1 rombongan menggunakan mobil pribadi. Ternyata itu teman-teman kantormu yang datang dari Jakarta, naik kereta, dan menyewa mobil dari Semarang. 

Pukul 08.00 WIB kami sudah siap. Kamu juga sudah mengharapkan kehadiran kami. Mungkin saat itu kamu sedang gugup setengah mati.

Kami hadir tepat waktu. Acara baru saja dimulai, akad belum terucap. Kami melihatmu duduk dengan mengenakan baju putih, terlihat cantik. Dirimu nampak gelisah menanti status yang akan segera berubah di beberapa menit kedepan.
Kamu sebelum akad
Semuanya berjalan lancar hingga akad itu terucap. Kini kamu sudah resmi menjadi istrinya. Perasaan sedih sekaligus bahagia terlihat di wajah kami. Sedih karena biasanya kita bermain bersama, jalan bersama, kini semacam ada batasan "harus ijin suami" dan bahagia karena memang ini momen bahagia, sesuatu yang memang dinantikan semua umat manusia.
Detik-detik menuju akad
SAH!
Foto bersamamu dan suami
Tadinya setelah akad selesai, foto-foto, kami berniat pamitan pulang. Tapi ibumu dan mertuamu menahan kami, memaksa kami untuk melihatmu mengenakan baju yang bagus, begitu katanya. Karena kami menghormati keluargamu, kami akan menunggu hingga jam 13.00 WIB, saat resepsi. Selama menunggu waktu itu, kami kembali ke rumah Mbah Carik. Begitu senangnya ketika tetanggamu mengenali kami sebagai "teman Mbak Intan dari Jakarta", mereka pun mengantar kami ke rumah Mbah Carik dengan naik motor. Sesampainya disana kami pun beristirahat.
Pukul 13.00 WIB kami sudah siap. Elf menjemput kami. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih ke Mbah Carik, kami menuju rumahmu. Disana sudah ramai, tapi masih ada tempat untuk kami duduk menghadiri pestamu. Rasanya senang sekali melihatmu duduk di kursi pelaminan. "Akhirnya, jadi juga." Beberapa kali ku dengar komentar seperti itu. Hehehe.

Setelah menikmati beberapa hidangan yang disajikan, kami mendapat panggilan dari MC untuk berfoto bersamamu dan suamimu. Mungkin sekaligus kesempatan bagi kami untuk berpamitan pulang menuju Semarang.
Foto terakhir sebelum pulang
Turun dari panggung, seseorang menarik tanganku,"Mau pulang sekarang, Mbak Mia?"
Ya ampun, aku sungguh terharu ternyata nenekmu masih mengingatku. Tapi obrolan kami terhenti karena ada mbak-mbak yang permisi untuk membagikan makanan.
Sekitar pukul 14.30 WIB akhirnya kami baru bisa meninggalkan kota Pati dengan diantar elf yang menjemput kami di pagi hari.

Kami tiba di Semarang dengan selamat dan tak lupa mengucapkan banyak terima kasih ke Mas Dikin, sopir elf yang mengantar kami kesana kemari.

Terima kasih juga buat kamu yang sudah menyediakan segala fasilitas untuk kami. Semoga keluarga barumu senantiasa bahagia dan segera diberikan momongan untuk menambah keceriaan di keluarga kecilmu :*

4 comments:

  1. AKu sedih campur terharu baca ini mams,,,, semoga kamu segera menyusul ya... mams intan chantik sangat ...

    ReplyDelete
  2. Miiiiaaaa -_- Aku pengin comment :) :) :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top