2

Dia yang Pandai Bercerita

Beberapa waktu yang lalu aku mengaguminya. Dia sungguh hebat luar biasa. Aku sangat iri karena aku tak bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan.

Aku tak perlu menyebut namanya. Yang jelas, aku dan dia sangat berbeda. Saking sedihnya aku karena tak bisa menyamainya, terkadang aku berpikir 'Mengapa Tuhan menciptakanku seperti ini?'

Bermula ketika dia mengangkat telepon dari seseorang. Dia bercerita panjang lebar dengan orang yang ada di seberang sana. Dia seakan tak kehabisan ide akan menceritakan apa saja ke orang tersebut.

Aku iri, bukan karena si penelpon itu tidak menelponku juga. Aku iri (sekaligus kagum) pada dia yang mampu berbicara banyak hal kepada lawan bicaranya. Dia selalu bisa menghidupkan suasana. Dia mampu membuat orang lain mendengarkan apa saja yang dia ceritakan. Aku tak bisa melakukan itu semua.

Pernah suatu hari aku mendapatkan telpon dari seorang teman yang sekedar ingin mengisi waktu luangnya dengan bercakap-cakap di telepon. Tapi aku, aku tak terbiasa dengan hal itu. Aku merasa canggung. Aku merasa kikuk tak tahu harus membicarakan apa. Bahkan aku sempat menyuruhnya menutup telpon jika tak ada hal penting yang perlu dibahas.
"Lu kenapa sih Mi? Emang lu lagi ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain sih."
"Yaudah, ngobrol dulu aja kita."

Ahhh... Andai aku bisa seperti dia. Aku bisa berjam-jam ngobrol di telpon. Aku bisa cerita banyak hal ke semua orang. Aku bisa punya lebih banyak teman. Aku bisa bla... bla... bla...

Sayangnya, aku bukan dia. Akupun tak ingin menjadi dia, karena dibalik kemampuannya itu, sering kali aku tak habis pikir. Dia terlalu berlebihan dalam bercerita, dan (maaf) cenderung mencari perhatian. Dan aku tak suka itu. 'Kapan dia melepas jaket di hari itu' aja dia ceritakan. Lah?

Semakin kesini aku semakin merasa, kok perbedaan kita semakin jauh ya? Dan perbedaan itu tak membuatku ingin bergerak mendekatinya, namun justru ingin berlari menjauhinya.

Aku selalu menyimpan segala sesuatu di benakku, aku jarang cerita ke orang. Kalaupun cerita, itu pasti karena orang lain bertanya terlebih dahulu. Kalaupun tidak ditanya, aku biasa menceritakannya dalam bentuk tulisan. Aku jarang berinteraksi dengan orang.

Berbeda dengan dirinya, segala sesuatu diceritakan ke orang-orang, bahkan hal sesepele apapun. Mungkin dengan cerita, dia bisa menghidupkan suasana dan tidak lengang. Dia pun sangat pandai menanggapi cerita orang lain.

Tapi, semakin banyak dia bercerita, semakin aku tak ingin mendengarnya. Mungkin sisi 'introvert'-ku kini semakin merasuk ke dalam jiwa ragaku. Meski Introvert adalah pendengar yang sangat baik dan sangat serius ketika mendengarkan, Introvert tidak menyukai pembicaraan yang ringan.

Maafkan aku :(

2 comments:

  1. Aku cerita dimana mana mba mi... lewat tulisan sama ngomong.. tapi ngomong langsung ya.. paling kalo gak gitu lewat whatsapp lah.. tapi telfon lama-lama cuma karena ngisi waktu kayaknya aku juga gak bisa kalo gitu hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi..
      Tiap orang beda-beda ya Mir.. Jadi ya sama2 saling pengertian aja.

      Yang banyak omong, coba sedikit di rem jika lawan bicara merasa bosan dengan obrolannya.
      Yang ga banyak omong, ya hargai dan dengerin orang yg lagi bicara.
      Hehehe

      Delete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top