0

Aku dan Sirsak

Buah Sirsak
Aku penyuka buah sirsak, kalau orang-orang di desaku menyebutnya 'nangka sabrang'. Aku lupa kapan pertama kalinya aku makan buah berduri itu. Aku juga lupa mengapa dulu aku bisa menyukai buah itu, bahkan aku menobatkannya sebagai buah kesukaanku.
Aku punya teman kecil bernama Estri. Di samping rumahnya tumbuh satu pohon buah sirsak. Saat aku main ke rumah temanku, aku mengamati pohon itu. Bagaimana bentuk daunnya dan bunganya. Saking senangnya dengan buah sirsak, aku selalu mengamati perkembangan buah sirsak milik temanku itu. Ingin rasanya aku memetiknya saat masak. Namun, aku segera sadar, itu bukan punyaku.
Aku senang sekali saat ibuku pulang kerja membawa buah tangan, apalagi kalau itu buah sirsak. Walaupun sebenarnya ibuku jarang sekali membeli buah sirsak. Ibuku hanya membeli buah tersebut saat kasihan pada si penjualnya atau saat aku memintanya.
Buah sirsak oleh-oleh ibu, aku letakkan di piring. Ku ambil pisau dan ku belah buah sirsak itu. Putih daging buahnya membuatku meneteskan air liur, tak sabar mencicipinya. Ku ambil satu bagian dan hmmm...asam manis menyegarkan.
Itu ceritaku saat aku kecil. Semakin aku beranjak remaja, buah sirsak itu sedikit terlupakan. Mungkin karena banyaknya buah-buah lain yang beraneka ragam mulai bermunculan. 
Namun, saat aku memasuki SMA, lebih tepatnya kelas XII, kenanganku dengan buah sirsak kembali. Mengapa? karena saat aku melihat ke arah jendela, aku menemukan pohon buah sirsak. Pohon itu tumbuh di seberang pagar yang menghadap jendelaku. Walaupun terhadang pagar, aku masih bisa melihatnya. Daunnya dan tentu saja buahnya.
Aku menceritakannya ke Dhita, ia teman sebangkuku. Kami berdua mengamati buah sirsak yang dari hari ke hari semakin besar dan masak. Tapi, lihatlah. Saat ada guru di kelas kami, terlihat tangan-tangan usil yang sedang berusaha memetik buah sirsak yang sudah masak. Aku sedih. 
Di lain hari, saat istirahat tiba, aku mendapati mereka, pemilik tangan usil yang kini masih berusaha memetik buah sirsak yang lain. 
Begitu sukanya dengan buah sirsak, saat psikotes dan disuruh menggambar pohon berbatang, aku menggambar pohon sirsak, dengan sesekali melihat ke arah jendela, memandangi pohon sirsak yang tak tersisa buahnya.
&&&

Aku penyuka tanaman buah-buahan. Aku senang sekali melihat buah-buah yang bergelantung di pohonnya. Mungkin itulah alasannya mengapa aku terobsesi sekali untuk pergi ke Mekarsari. Sebenarnya, tak perlu jauh-jauh aku pergi ke taman buah. Akhir-akhir ini bapakku tengah rajinnya menanam buah-buahan di pekarangan samping rumah. Ada pohon coklat, jambu air, rambutan, manggis, jeruk. Walaupun cuma ada satu pohon, tapi beraneka ragam. Dulunya ada pohon sawo, jeruk bali, mangga, durian (masih kecil) namun kini sudah tak ada lagi. Kurang produktif dan hasilnya kurang memuaskan. Itu alasan mengapa bapakku menebang pohon-pohon itu. Kemarin, aku lihat bapakku membawa tiga bibit pohon sirsak. Semoga pohon itu bisa tumbuh subur dan aku bisa menikmati segarnya buah sirsak.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top