3

Rembulan Tenggelam Di Wajahmu


Diar terbaring dengan muka bersimbah darah. Bukan hanya muka, tapi sekujur tubuh. Tubuh itu remuk tak-bersisa. Muka lebam, tangan patah, kaki patah. Juga bengkak oleh bekas gebukan, injakan, dan entahlah. Sisa rusuh sepanjang siang tadi di toilet terminal.
Aku terdiam lama. Perlahan air mata mengalir membasahi pipi. Panas. Sesak. Ku atur nafasku, mencoba tak mengeluarkan suara yang bisa memecah heningnya malam. Aku tetap terdiam, meski air mata ini tak terbendung tuk mengalir. Malam ini aku menangis.
Novel pengingat :')
Aku mengingatmu, sempurna mengingatmu. Sepotong paragraf itu benar-benar mengingatkanku padamu. Novel itu menjadi pengingatku akan dirimu.
Aku mengingatmu. Aku ingat betapa ingatnya dirimu saat menangis membaca satu dari puluhan paragraf di novel itu. Dan kini aku menangis di paragraf yang sama denganmu. Bukan hanya karena larut dalam ceritanya, namun aku juga larut dengan ceritaku, cerita saat bersamamu.
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Itulah judul novel itu. Sebuah novel karya Tere Liye yang menjadi novel favoritku. Dan kini, setelah aku membacanya kembali, novel itu tak hanya apik ceritanya, namun juga menjadi bagian dari ceritaku. Cerita saat aku pernah menjadi bagian kecil dalam hidupmu.
Melalui novel itu, aku mengingatmu. Ingat bagaimana kita berpisah, ingat bagaimana kita harus memulai kehidupan tanpa kebersamaan. Kebersamaan yang terjalin belum lama itu harus terpisah. Kita tak bisa bersama-sama lagi. Akulah orang yang mengantarmu dalam perpisahan ini. Aku bersama dia. Dia yang menjadi sebab mengapa kita berpisah.
Senyumku mengembang walau air mata tak kuasa ku tahan. Aku menangis dalam tawaku. Melambaikan tangan simbol perpisahan walau sejatinya kita tidak berpisah. Di saat itulah dia meyakinkanku. Dia yang menjadi sebab perpisahan ini menjelaskan dengan baik hubungan sebab-akibat itu, seperti yang ingin disampaikan Tere Liye dalam novelnya.
Hubungan sebab-akibat?
Ya. Itulah yang menjadi inti dari novel berjudul Rembulan Tenggelam Di Wajahmu itu. Suatu hubungan yang rumit walau sebenarnya sederhana. Hubungan yang sederhana, namun rumit. Susah menjelaskannya dan tidak mudah untuk sebuah pemahaman.
Ketika tak ada yang sia-sia di dunia ini. Apa yang menjadi keputusan kita, tepat atau tidak tepat, salah atau benar, semuanya membawa kebaikan. Jika tidak membawa kebaikan untuk kita, maka kebaikan itu diperuntukkan untuk orang lain, untuk orang lainnya lagi, bahkan untuk orang yang tidak kita kenal sama sekali. Kita tak pernah tahu potongan-potongan kisah kehidupan kita yang menjadi bagian dari kisah orang lain. Tidak ada yang sia-sia karena apa yang kita lakukan menjadi sebab bagi orang lain, dan orang lain tersebut menjadi sebab bagi yang lain, dan demikian seterusnya. Itulah hubungan sebab akibat kehidupan dan itu pulalah yang dia jelaskan padaku. Hubungan sebab-akibat dimana dia sedang memainkan perannya sebagai sebab dalam kisah perpisahanku denganmu.
Aku memang tak tahu, tak pernah tahu, atau belum saatnya aku tahu mengapa perpisahan kita harus terjadi. Namun, seperti apa yang dia jelaskan berkali-kali padaku, aku yakin, hubungan sebab-akibat itu, aku yakin bahwa ada kebaikan dari perpisahan kita. Mungkin saja, jika kau tak berpisah denganku, kau tak akan pernah merasakan kebahagiaan yang kini kau rasakan. Mungkin, jika kau tetap bersamaku, kau akan selamanya terjebak dalam kisah menyedihkanmu, membuatmu menangis tiap saat dan mengharuskanku mendengarkan kisah sedih yang berulang-ulang itu. Kini kau bahagia, sama bahagianya dengan dia yang saat ini bersamaku.
Malam ini aku menangis, mengenang saat kita bersama dan saat berpisah. Tidak. Aku tidak hanya mengenang itu. Ada banyak potongan kisah hidup yang kini mengisi penuh memoriku. Walau aku tak tahu pada siapa dan bagaimana potongan kisahku yang lain, aku mencoba berpikir positif. Pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan ini ku coba jawab sendiri dengan sebuah pemahaman yang berbeda. Aku yakin pasti ada sebuah penjelasan tentang itu semua, namun jawabanku atas setiap pertanyaan-pertanyaan itu cukup membuatku untuk tidak mengatakan betapa tidak adilnya hidup ini.
Mengapa aku terlahir seperti ini?
Mengapa aku dibesarkan di keluarga ini?
Mengapa saat ini aku disini?
Potongan kisah masa lalu dan masa sekarang muncul bergantian. Tidak. Mereka berlalu-lalang tak karuan. Orang tuaku muncul pertama. Wajah tenang ayahku dan wajah lelah ibuku. Ibuku yang menangis di akhir sholatnya, ibuku yang meminta di gelapnya sepertiga malam dan aku yang terkadang membuatnya terluka. Seperti tak menghargai doa-doa ibu yang terpilin atas namaku, aku mempergunakan waktu, peluang, dan kesempatan dengan semauku. Selalu saja mempertanyakan, mengapa aku disini, menjalani hari-hari yang ku rasa ‘kurang cocok’ denganku, tanpa pernah memikirkan aku disini menjadi sebab untuk siapa dan siapa yang menjadi sebab untukku, dan sebab-sebab yang lain.
Air mataku mengalir semakin deras, menambah sesak malam ini. Di gelapnya langit malam, di dinginnya udara malam, aku buncah dengan segala perasaan.
Kamu? Tentu saja bayanganmu hadir. Begitu juga dia. Teringat, saat pertama kali aku bertemu dengannya di gedung yang kini tak asing bagi kita. Saat pertama kali mengenalmu dalam perjalanan melewati kota yang tak lagi baru untuk kita. Saat bagaimana dia mengantarkan pertemuanku denganmu. Saat aku menghabiskan separuh waktuku bersamanya dan separuh waktuku untuk tinggal seatap bersamamu. Ada kalanya aku merasa ‘bermasalah’ denganmu dan ada kalanya aku memiliki ‘masalah’ dengannya. Hingga saat itu, saat dimana dia menjadi sebab atas perpisahan kita, saat aku mulai menjalani kisah-kisah bersamanya dan kau menjalani kisah dengan dia yang lain.
Aku tak tahu detail cerita selanjutnya tentangmu. Ku harap kau bahagia dengan cerita sebab-akibatmu dengan orang lain. Ku harap kau temukan potongan kisah yang indah tentangmu. Dan untuk dia yang saat ini bersamaku, ku harap aku bisa menjadi bagian dari potongan kisah indahnya. Ku harap dia bisa bahagia bersamaku.
Aku merindukanmu. Aku tak ingin kehilangan dia. Kalian pelengkap kisah indahku.

Terima kasih,
Untukmu, orang yang mengenalkanku pada ‘dunia’.
Untuknya, orang yang mengajariku bagaimana bersikap di ‘dunia’.

Jakarta, 07 November 2012

3 comments:

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top