Melepaskanmu

Baru 2 minggu aku menjadi karyawan di perusahaan ini. Lingkungan baru ini benar-benar membuatku hidup. Tak cukup sulit beradaptasi dengan orang-orang disini. Semuanya ramah dan menyenangkan. Satu yang paling dekat denganku adalah Mas Xeon. Mungkin karena kami satu bagian dan di bawah pengawasan bos yang sama. 

Aku belajar banyak dari Mas Xeon, khususnya tentang pekerjaan. Soal urusan pribadi, kami belum terbuka satu sama lain. Dia lebih banyak bertanya soal dimana aku tinggal, bagaimana kerjaanku di kantor yang lama, dan hal-hal umum lainnya.


Suatu hari, Mas Xeon mengajakku makan siang ke luar. Selagi makan, kami ngobrol banyak hal tentang makanan. Kini aku tahu apa yang menjadi makanan kesukaan Mas Xeon. Di tengah-tengah asyiknya kami mengobrol, tiba-tiba datang perempuan yang usianya kira-kira dua tahun di atasku. 

"Katanya kamu males makan, Mas! Ternyata makan sama cewek lain ya?" kata perempuan tadi.
Ku lihat Mas Xeon diam saja. Menahan amarah, tapi tak berani menatap perempuan yang saat ini sedang terbakar emosinya. Pandangannya justru tetap tertahan di mangkuk mie ayam yang isinya sudah habis setengah.

Melihat Mas Xeon yang tanpa reaksi, aku pun mencoba menenangkan. "Mbak, jangan salah sangka Mbak. Saya teman kerjanya Mas Xeon. Saya baru kenal dia dua minggu yang lalu Mbak."

"Tega ya kamu!" kata perempuan itu tanpa menggubris kata-kataku. "Padahal kamu bilang dua bulan lagi kamu mau melamarku. Tahun depan kita menikah!"

Mas Xeon tetap diam.

"Pantesan akhir-akhir ini kamu susah dihubungi. Sekarang aku tahu kenapa alasannya!" lanjut perempuan tadi sambil terisak.

"Sudah ngomongnya? Iya, dia pacar baruku. Maaf belum sempat ngenalin ke kamu. Kita nggak jadi menikah!"

Aku kaget sekaget-kagetnya. Apa maksud Mas Xeon berkata seperti itu? Bukannya meluruskan ketidaksepahaman, justru membuat semuanya menjadi drama.

"NGGAK Mbak. Beneran saya BUKAN pacar barunya Mbak. Mbak salah sangka."
"Mas Xeon, kamu ngomong apa sih? Di antara kita nggak ada hubungan apa-apa. Kenapa bilang seperti itu kepada Mbak ini?"

Aku mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya, meski rasanya tidak berhasil. 

"Oke. Aku mengerti sekarang. Kita PUTUS!" kata perempuan itu sambil meninggalkan kami. Tangisnya tak bisa dihindari. Kawannya segera menyusul kepergiannya, tak jadi makan siang.

Aku melongo. Apa yang barusan terjadi? Drama apa yang sedang ku tonton?

Ku lihat ke arah Mas Xeon. Kebahagian terpancar dari wajahnya. Tapi muka sedihnya pun tak bisa ia sembunyikan.

"Huh akhirnya..." Ucap Mas Xeon lega.
"Mas?" Aku yang masih bingung, mencoba mencari penjelasan.
"Ah, maaf ya sudah melibatkanmu dalam masalah ini. Tapi ini yang terbaik buat dia!"

"Terbaik buat dia?"
"Namanya Xeryn. Pacarku selama 5 tahun. Orang bilang kami ini cocok. Kami sudah membayangkan bagaimana bahagianya kami jika kelak menikah. Tapi rupanya, orang tuanya tak merestui hubungan kami ini."

"5 tahun? tidak mendapat restu?"
"Ya, awalnya aku pikir, seiring berjalannya waktu, aku bisa meluluhkan hati kedua orang tua Xeryn. Orang tua mana sih yang nggak akan bahagia melihat anaknya bahagia. Selama 5 tahun itu pula aku selalu berusaha membuat Xeryn bahagia."

"Terus?"
"Aku rasa, Xeryn bahagia bersamaku. Tapi, saat Xeryn membujuk orang tuanya untuk menerimaku, ayahnya justru hendak menjodohkan Xeryn dengan Xan. Dia adalah teman SMA Xeryn, yang juga anak dari sahabat ayahnya. Xeryn cerita kalau dulu dia pernah jatuh hati pada Xan. Tapi karena Xan masuk ke dalam cowok populer, cintanya hanya ia simpan di hati. Tanpa ia duga sebelumnya, ternyata Xan adalah anak sahabat karib ayahnya dan sekarang ia dijodohkan dengan pria itu."

"Apakah Xeryn menerima perjodohan itu? Bukankah dia tadi membahas Mas Xeon yang akan melamarnya?"
"Dia menolak rencana perjodohan itu. Walaupun sebenarnya ia hanya menolak dengan setengah hati."

"Setengah hati? Maksudnya?"
"Ia tak benar-benar ingin menolak perjodohan itu. Tiap kali membahas perjodohannya dengan Xan, ia sangat bahagia. Meskipun yang ia tampakkan adalah wajah sedihnya. Ia tak bisa melepaskanku. Mungkin dia tak ingin mengecewakanku. Itu sebabnya, dia ingin aku untuk segera melamarnya, sebelum perjodohan itu benar-benar terjadi."
"Kami mulai membahas acara lamaran. Tapi sepertinya, dia sudah kehilangan fokus. Tanpa dia sadari, aku pernah membuka handphonenya. Ku lihat obrolan dia dengan Xan. Kata dia; "Aku senang dengan rencana perjodohan kita. Tapi saat ini aku sudah punya pacar. Kami akan menikah."

"Bukankah itu berarti Xeryn lebih memilihmu Mas?"
"Iya, tapi semakin kesini, hubunganku dengan dia justru semakin hambar. Jika tadi Xeryn bilang kalau sekarang ini aku susah dihubungi, itu bukan karena aku yang menghindar. Tapi karena dia lebih sering menghubungi Xan dibanding aku."
"Tapi sekarang aku lega. Sekarang dia bisa bebas mencintai pria pilihannya. Dia tak akan terbebani lagi karena aku yang melepaskannya, bukan dia."
"Terima kasih ya sudah membantuku hari ini dan maaf membuatmu bingung. Aku sengaja mengajakmu kesini karena aku tahu Xeryn pasti makan siang disini juga."
"Yaudah yuk, balik kantor. Sebelum bel habis istirahat bunyi."

Kini aku yang terdiam. Mencerna setiap ceritanya dan tak tahu harus berbuat apa.

1 comment:

  1. semoga aku bisa melepaskan juga. terimakasih sudah mengingatkan dengan ceritanya

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top