0

AYO KITA NAIK GUNUNG! - Pendakian Gn. Prau 2565 mdpl


08 November 2014. Pendakian Gn. Prau dimulai
Sekitar pukul 08:00 WIB, kami sudah smapai di Stasiun Purwokerto, satu jam telat dari jadwal yang ada. Oke tak masalah.

Di stasiun ini, kami berpisah dengan Mas Ghofur. Dia akan melanjutkan perjalanan ke Jogja.

Keluar dari stasiun, kami sempat bingung harus menggunakan kendaraan apa untuk bisa sampai ke Wonosobo. Di depan stasiun sebenarnya banyak travel kosong. Namun, ternyata travel-travel tersebut sudah dibooking oleh rombongan lai. Ya, selain kami, banyak sekali orang yang berpenampilan sama dengan kami, penampilan naik gunung.

Berhubung kami tak mau ribet, dan hari semakin siang, akhirnya kami menyarter angkot menuju terminal Purwokerto. Masing-masing orang membayar Rp. 10.000,- Mahal sih sebenarnya, tapi yaudah lah yaa.. :p

Kami turun di luar terminal. Menurut sopir angkot, akan lebih mudah mencari bus di luar terminal. Cukup cari bus yang berpintu dua menuju Wonosobo.

Kami sempat bersitegang karena ada minibus satu pintu yang 'katanya' lewat terminal Wonosobo tapi di kendaraannya tidak ada tulisan Wonosobo.

Oke oke, akhirnya bus berpintu dua pun datang ke arah kami. Kami pun melaju menuju terminal Wonosobo menemui Mbak Issa.

Biaya yang kami keluarkan dari terminal Purwokerto ke terminal Wonosobo adalah Rp. 25.000,- masing-masing orang. Kami berangkat pukul 09.00 WIB.

Dari Purwokerto, kami melewati Purbalingga, Banjarnegara, dan akhirnya Wonosobo. Bagi aku pribadi, ini pengalaman yang menarik.

Tak ada hal heboh selama di bus. Yang kami lakukan hanyalah tidur dan tidur. Dan ketika kami membuka mata, kami mendapati kenyataan bahwa perjalanan masih panjang.

Hingga pada akhirnya sekitar pukul 12.30 WIB kami sampai di terminal Wonosobo. Disanalah kami bertemu dengan Mbak Issa. Dan kini lengkaplah kami bertujuh serombongan. Saatnya menuju Patak Banteng. Yey.

Entah bagaimana ceritanya, kami memilih naik minibus menuju Patak Banteng. Awalnya kami senang. Sang sopir bilang bahwa minibus akan langsung membawa kami ke tempat tujuan.

Naik lah kami bertujuh ke minibus. Minibus berjalan pelan, masuk ke dalam terminal, dan ... minibus berhenti.

Sepertinya Pak Sopir ingin memenuhi minibusnya. Baiklah, akhirnya satu per satu dari kami keluar dari minibus. Kami mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut, mengingat sedari pagi kami belum makan.

Kami menuju ibuk-ibuk penjual gorengan. Kami membeli tempe dan lontong ((kalau di Jawa namanya 'arem-arem')).

Nyam nyam nyam. Lontong yang tersisa tinggal 1 biji. Kami memutuskan kembali ke minibus. Ku lihat sudah ada beberapa penumpang lain.
Kami duduk cantik, menanti Pak Sopir menjalankan kendaraannya. Sayangnya, itu hanyalah impian kami. Tak ada tanda-tanda Pak Sopir akan mengemudikan minibusnya. Pupuslah harapan kami.

"Ini kalau kita makan dulu kayaknya masih keburu deh."
"Pak, ayo pak, jalan."

Kami mulai mengeluh. Lama dan lapar. Mau makan takut ditinggal. Mau nunggu minibus kok lama.

Akhirnya ide bagus muncul dari Mas Affan. "Beli nasi aja yuk, dibungkus. Nanti dimakan di jalan atau pas mau naik."

"Pada mau makan apa? Apa ajalah ya, nanti gue cariin yang 3ribuan." kata Mas Affan sembari meninggalkan minibus.

Tak berapa lama, Mas Affan datang dengan membawa nasi 7 bungkus. "Satunya 10 ribu." Kata Mas Affan.

Mbak Medha adalah orang pertama yang membuka nasi yang dibeli Mas Affan. Dan taraaaaaa..... nasi putih dan sebongkah tempe bacem.
Rp. 10.000,-

Toeng. Aku, Anggun, Mbak Medha, Mbak Issa saling bertatapan tanpa bisa berkata apa-apa. Ternyata, nasi tersebut dilengkapi dengan sayur tahu dan sebutir telur. Dan karena lapar, nasi pun tetap 'lahap' dimakan.

Sampai Mbak Medha selesai makan, minibus tak kunjung jalan. Sudah satu jam lebih kami menunggu. Akhirnya sekitar pukul 13.30 WIB kami berangkat menuju Patak Banteng, titik kumpul para pendaki Gn. Prau.

Kami tiba di Patak Banteng sekitar pukul 14:40 WIB. Perjalanan ini selesai dan akan disusul perjalanan yang lebih menakjubkan.

Sesampainya di Patak Banteng, kami langsung menuju basecamp. Mas Affan dengan cekatan menuju meja registrasi untuk mendaftar. Tapi beberapa kali dia harus kembali menanyakan siapa saja  anggota pendakian ini. -_-
Basecamp
Oia, harga tiket pendakian Gn. Prau hanya Rp. 6.000,-. Ini tiket yang berhasil kami dapatkan..
tiket pendakian
Setelah semua sholat (kecuali aku) dan semua sudah makan (kecuali Fredy), serta tiket sudah di tangan, pukul 15:30 WIB kami memulai pendakian.

Kami mulai berjalan beriringan, melewati perumahan warga sambil tersenyum ramah. Namun, seketika kami terhenyak ketika melihat anak tangga yang begitu panjang dan menanjak.

Glek. Fredy jalan duluan, disusul Mas Affan dan Mas Hendri. Aku dan Anggun selangkah demi selangkah menapaki anak tangga tersebut. Tak jauh dari kami, Mbak Issa dan Mbak Medha tengah mengatur nafas untuk dapat melanjutkan pendakian.

Anak tangga selesai. Kami sudah menapaki tanah perkebunan. Rumah warga baru saja kami tinggalkan. Perlahan namun pasti, kami berjalan menuju puncak Gn. Prau.

Ada 3 pos yang harus kami lewati. Pos 1 berhasil kami lewati dengan baik. Di pos 1 kami melakukan pengecekan tiket.
Pos 1
Jalan. Jalan. Berhenti. Jalan. Berhenti. Dan seterusnya. Kami tak menentukan target berapa jam kami harus sampai di puncak. Bagi kami, yang terpenting adalah kebersamaan hingga sampai puncak.
full team
Meski tergolong sudah sore saat start pendakian, rupanya kami bukan satu-satunya kelompok yang tengah melakukan pendakian. Kami sering bertukar sapa dengan pendaki lain.

Hari semakin sore. Pos 2 dan Pos 3 telah berhasil kami lewati, meski tertatih. Kami tinggal menuju puncak, mendirikan tenda, dan memasak. Namun, semua itu tak mudah kami dapatkan.

Mbak Medha, Mbak Issa, dan Mas Hendri terpisah dari rombongan. Sementara itu langit semakin gelap. Kabut semakin tebal. Fredy, Mas Affan, aku, dan Anggun memutuskan untuk naik ke puncak terlebih dahulu agar bisa bangun tenda, dan kemudian menyusul Mbak Medha dan lainnya.

Akan tetapi, rencana itu berubah ketika angin berhembus dengan membawa rintik-rintik air hujan. Dan ketika adzan magrib mulai terdengar, sementara Mbak Medha belum kelihatan, kami berempat pun berhenti. Mas Affan menurunkan tasnya, mengambil jas hujan, dan turun mencari Mbak Medha, Mbak Issa, dan Mas Hendri. Sementara aku, Anggun, dan Fredy duduk istirahat yang kemudian agak panik karena hujan mulai membasahi kami.

Tak lama kemudian, Mas Affan kembali bersama Mbak Medha, Mbak Issa, dan Mas Hendri. Oke, mari kita lanjutkan perjalanan ini.

Senter mulai kami nyalakan. Jalanan cukup licin karena hujan masih mengguyuri. Dengan lebih hati-hati, kami kembali melangkahkan kaki menuju puncak.

Hari sudah gelap. Sejak hujan, sesi foto-foto dihentikan. Tak ada lagi momen yang berhasil kami abadikan. Cari aman. 

Hujan mulai mereda. Namun, yang ku lihat justru para pendaki justru diam di tempat. Dari atas terdengar, "Tali woiii taliiii!! Ada yang punya tali??"

Tali? Buat apa?

"Jalan ke puncak rusak. Kita tak bisa melewatinya. Kalau tidak ada tali yang bisa membantu kita, kita harus turun!"

Apa? 

Ku lihat ke atas. Para pendaki sedang menunggu apa yang dilakukan oleh orang yang ada di atasnya. Ku lihat ke bawah. Para pendaki juga sedang menunggu apa yang dilakukan oleh orang yang ada di atasnya.

'Sudah sejauh ini turun? Benarkah tidak bisa sampai puncak? Padahal sebentar lagi sampai!' batinku. 

Akhirnya aku dan para pendaki lain memilih menunggu. Tali-tali rafia berhasil dikumpulkan dan pendaki di atas sedang membuat cara agar jalan dapat dilalui.

Dingin. Badanku menggigil. Tanganku mulai mati rasa. Ku gosokkan kedua tanganku, sebisa mungkin mendapatkan kehangatan. Aku pasrah. Doa-doa mulai dipanjatkan. Pun demikian dengan para pendaki lainnya, menghibur diri dengan banyolan-banyolan mereka, namun dalam hati tetap berdoa.

Kami menunggu cukup lama. Mungkin satu jam, atau lebih. Akhirnya dari atas terdengar, "jalan sudah bisa dilewati, satu satu ya naiknya, antri!!"

Alhamdulillah!

Selangkah demi selangkah kami melanjutkan perjalanan. Banyak pendaki yang terjebak dalam keadaan seperti kami. Hati-hati kami dalam melangkah.

Hujan tak lagi turun. Jas-jas hujan sudah kami amankan. Kami berjalan dengan menunggu pendaki di depannya melangkah lebih dulu. Begitu seterusnya.

Jalanan begitu licin, namun masih bisa dilewati. Beberapa kali aku hampir terpeleset. Beberapa kali pula aku ditolong oleh pendaki yang tak ku kenal. Semua orang tolong menolong agar bisa sampai puncak bersama-sama.

Berhubung sudah malam, dan jalan tidak terlihat, maka yang ada di pikiranku hanyalah jalan, jalan, dan jalan. Jika aku berhenti, maka orang yang ada dibelakangku juga berhenti. Kebanyakan jalan hanya bisa dilalui oleh satu orang. Oleh karena itu, tetap jalan dan menuju puncak.

Sekitar 45 menit dari kami menunggu apakah-kami-bisa-lanjut-ke-puncak-atau-harus-turun, akhirnya kami berhasil mencapai puncak Gn. Prau sekitar pukul 21.00 WIB. Yatta!!!

Sudah banyak tenda yang berdiri. Kami pun mencari spot yang pas untuk kami dirikan tenda. Dan tentu saja yang mendirikan tenda bukan aku. Ada Fredy, Mas Affan, dan Mas Hendri yang sibuk membangun tenda.

Sementara itu, kami cewek-cewek duduk masak air yang tak kunjung mendidih. Hal ini mengingatkan Mbak Medha akan cerita tentang 'wanita pemasak batu'. #skip

Dua tenda berhasil didirikan oleh tiga pria tadi. Dan dua mangkuk mie instans campur telur, sosis, dan bakso siap kami santap bertujuh. 

Semua sudah ganti baju. Semua sudah kenyang. Saatnya tidur.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top