4

Mengalah?

Mengalah itu bukan perkara orang lemah. Mengalah itu justeru adalah milik orang yang kuat, yang paham sekali, lebih baik mengalah daripada binasa semuanya, lebih baik mengalah untuk kebaikan esok lusa.

*Tere Liye

Entah mengapa kalimat-kalimat di atas terngiang-ngiang di kepalaku. Aku masih bingung antara mengalah, mencari aman, dan pekewuh (dalam bahasa Indonesianya: sungkan).

Baiklah, kita sempitkan pembahasan ini dengan tidak mengikutsertakan pekewuh karena setelah ku pikir-pikir "sungkan" itu berbeda dengan mengalah.

Misalnya: Ada makanan di meja. Makanan itu bebas diambil oleh siapa saja.
  1. Aku tidak mendapatkan makanan itu karena aku sungkan untuk mengambilnya.
  2. Aku tidak mendapatkan makanan itu karena waktu aku mau mengambil, ternyata ada orang lain yang sama-sama ingin mengambilnya dan aku memilih mengalah.
Lantas, apakah mengalah dengan mencari aman itu sama?
Mungkin berbeda, namun bisa jadi sama. 

Sama, karena antara mengalah dan mencari aman akan timbul kedamaian.
Berbeda, karena (menurutku) sebelum berada di status mengalah, akan ada suatu perjuangan untuk memperebutkannya. Sementara itu, mencari aman berarti sedari awal merelakan segala sesuatunya terjadi.

Aku mempunyai sebuah kasus yang entah harus dimasukkan dalam kategori mengalah, mencari aman, atau justru ... sungkan?


Ada si A dan si B.
A dan B memiliki HP yang usianya baru beberapa bulan. HP nya sama-sama bagus, namun ada yang membedakan, yaitu charger HP nya.
Charger ACharger B
Dilihat dari fungsinya, maka charger A lebih bagus dari charger B. Charger A selain untuk men-charge HP, bisa digunakan untuk transfer data (USB), sementara charger B hanya bisa digunakan untuk men-charge HP.

Suatu hari, si B mendatangi si A. Dia bilang charger HP nya tidak bisa digunakan. Dia pun meminta si A untuk mencoba charger milik si B. Tak ada masalah. Charger B bisa digunakan oleh si A. 

Si B kemudian meminjam charger milik si A untuk mengecek apakah HP nya yang bermasalah. Ternyata charger A bisa digunakan oleh si B. Akhirnya si B meminta si A untuk bertukaran charger.

Meski sebenarnya si A menganggap chargernya lebih bagus daripada milik si B, namun si A tetap bersedia untuk bertukaran charger.

Suatu ketika, si B kehilangan kepala charger A sehingga hanya menyisakan kabel datanya. Singkatnya, si B lantas meminjam charger B yang ada pada si A. Meminjamnya pun tak hanya sebentar, namun beberapa hari.

Lho...lho... dalam benak si A pasti terbesit, bukankah dulu chargernya tidak bisa digunakan, kenapa si B meminjam chargernya yang dulu? Pinjamnya pun beberapa hari.

Apa yang dilakukan si A?
Rupanya si A hanya diam saja. Membiarkan si B mengambil charger HP nya. Si A bertahan dengan power bank (tanpa kepala) yang selalu ia charge di komputer kantor. Si A tak ada perjuangan untuk mengambil haknya. Dia membiarkan saja, toh dia masih bisa men-charge HP nya. Hingga beberapa hari kemudian si B datang ke A memberikan charger. Namun, charger yang diberikan ke si A adalah chager B.

Berdasarkan cerita di atas, bagaimana menurutmu sikap si A?
Apakah si A merasa sungkan untuk mengambil charger di si B? Karena yang terpenting bagi A, dia masih bisa mencharge HP nya dengan power bank.

Apakah si A justru mencari aman dengan tindakannya tersebut? Buat apa dipermasalahkan, toh HP si A masih bisa dicharge.

Apakah si A bisa dikatakan mengalah? Apapun yang dilakukan si B, biarlah. Toh, HP si A baik-baik saja, tidak kelaparan.

Apapun itu, ku rasa si A tengah menunjukkan sikap IKHLAS. Ya, meski hanya untuk sebuah charger yang harganya kurang dari 100ribu (bukan ori), bukankah si A tetap mengikhlaskan segala sesuatunya. Yang ia lakukan semata-mata untuk membantu si B. Dia tak mau ribut dengan si B hanya karena charger. Ia pun ikhlas ketika charger (yang menurutnya  milik dia lebih bagus) harus ditukar dengan charger si B. Apalagi ketika si B mengambil kembali charger B yang ada di A.

Mengapa aku yakin si A bisa bersikap ikhlas? Karena akulah si A.

4 comments:

  1. ikhlas beneran itu mbak,,kadang ikhlas itu gampang sekali di ucapkan loh,,,aplikasi yang sulit,,salut sama mbak nya:)

    ReplyDelete
  2. ya ampuun... bener2 ikhlas si emak ini ya...

    ReplyDelete
  3. hah! aku nahan nafas membaca perumpamaanmu. tiga kategori mengalah di atas beda tipis semua ya dan mirip2... isi hati alias niatlah yang membedakan ketiganya. fiuh. makasih sudah ikut give awayku... perumpamaanmu keren.

    ReplyDelete
  4. hah! aku nahan nafas membaca perumpamaanmu. tiga kategori mengalah di atas beda tipis semua ya dan mirip2... isi hati alias niatlah yang membedakan ketiganya. fiuh. makasih sudah ikut give awayku... perumpamaanmu keren.

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top