2

Kapan Nikah?

"Kapan nikah?"
Beberapa temanku menanyakan hal tersebut beberapa waktu yang lalu. Mengingat teman-teman sebaya sudah banyak yang menikah, sebagian sudah merencanakan, dan beberapa yang lain sudah menyiapkan tanggal, maka pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan lagi menjadi pertanyaan asing yang jarang terlontar.

Menikah. Kata itu sempat berkeliaran dalam benakku. Aku membayangkan depan rumahku dibangun tratak dan dekor manten. Saudara-saudaraku akan berkumpul jadi satu. Dosen-dosen dan teman-teman dari Jakarta akan menyambangi rumah orang tuaku di desa. Teman-teman kantor pun demikian.

Menikah. (sepertinya) Rasanya menyenangkan dimana kita bisa bergandengan tangan dengan seseorang yang sudah halal bagi kita. Tak ada zina, tak ada dosa. Pun bisa menghindari fitnah. Pergi kemana-mana ada temannya, kita seakan tak pernah merasa sendirian karena ada si Abang/Eneng yang menemani kita.

Namun, apakah urusan menikah hanya sebatas itu? Hanya mengganti label "pacaran" menjadi "menikah" sehingga tak perlu mengkhawatirkan dosa-dosa yang diitimbulkan.

Rasanya jika saat ini menikah hanya diniatkan untuk hal semacam itu, maka aku akan berkata 'nanti dulu.' Apalagi untuk remaja-remaja berusia dibawah 25 tahun seperti aku. 

Di usiaku saat ini (21 tahun 6 bulan) terkadang aku berpikir. "Wih, dia sudah menikah. Enak ya?", "Wih, dia sudah punya anak?", "Wow, dia mau menikah?", sedikit batinku berkata, "Kapan ya aku menikah? Apakah tahun depan? Dua tahun yang akan datang?"

Mengingat keadaan di kantor, banyak rekan kerja yang sudah berkeluarga, para mas-mas yang sudah siap menikah dan tak ku temukan rekan seumuran yang masih melajang, maka keinginan menikah itu hadir dalam benakku. Tapi.... "Ahh.. aku masih seperti anak-anak. Aku juga masih menikmati keadaanku saat ini."

Aku pun kembali ingat percakapanku dengan bapak ibukku saat di mobil sepulang wisuda.
"Nita Januari arep nikah?" kata bapak.
"Nita? Wah, berarti sing durung ming kari aku, Zangim, karo Estri." kataku mengingat-ingat teman-teman SD yang seangkatan denganku berjumlah 8 orang.
"Kowe ora usah kesusu. Aja kepingin ndisik. Isih ndue gegayuhan arep neruske kuliah to? Kuliah e rampungke seg." kata ibuk.
"Nggih."

Aku pun ingat pesan-pesan budhe.
"Udah punya pacar belum?" tanya budhe. 
"Belum." jawabku.
"Udah nggak usah pacaran dulu. Nikmatin dulu tuh duit hasil kerjamu. Senengin bapak ibuk kamu dulu. Nikah ntar ntar aja. Kayak anak budhe tuh, nikah pas umurnya 27, 28. Tenang, jodoh mah nggak kemana."
"Iya budhe."

Menikah. Meski kini undangan pernikahan silih berganti mulai datang menghampiri, aku harus fokus pada tujuan utamaku terlebih dahulu. "Lulus S1". Hilangkan jauh-jauh pikiran untuk menikah muda. Lakukan yang terbaik demi bapak dan ibuk.

Kapan nikah? | Setelah lulus S1 | Usia berapa? | InsyaAlloh usia 25 tahun siap

*Waiting for 2017
*I will meet right person in right time at right place ^^

2 comments:

  1. aku baru baca ini >.<
    arghhh... usia 25 yak?
    sip sip

    semoga terwujud yak :)

    ReplyDelete
  2. huehehe... iya mbak,,
    ijin dari orang tua umur segituan..
    wkwkw..
    klo mbak vee kapan?

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top