2

Ulang Tahun Termanis

Di keluargaku, ritual ulang tahun bukanlah suatu keharusan. Tak ada kue tart, tak ada lilin, bahkan tak dengar ucapan "Selamat Ulang Tahun" jika salah satu anggota keluarga berulang tahun. Walau demikian, ulang tahun tiap tahunnya tidak pernah akan sepi karena teman-teman di sekitar yang selalu merayakannya. Aku masih ingat, saat aku masih berseragam merah putih (lupa kelas berapa), aku membeli roti sisir beberapa potong dengan uang jajanku dengan niatan merayakan ulang tahunku. Dan tentu saja kedua orang tuaku tidak tahu akan hal ini. Sepulang sekolah aku mengajak beberapa temanku ke rumah untuk menikmati ‘roti ulang tahun’-ku. Rumahku saat itu tidak ada orang. Bapak dan ibu belum pulang kerja. Alhasil, aku dan teman-temanku bisa merayakan ulang tahunku dan menikmati roti sisir bersama-sama. Namun, sebelum roti itu habis, ternyata ibuku sudah pulang dan mendapati kami makan roti seadanya.
“Ada acara apa ini?” Tanya ibuku.
“Mia ulang tahun, Bu.” Kata temanku.
“Oalah, iya ya ulang tahun? Kenapa ngga bilang, tahu gini kan ibu beliin roti.”
Roti sisir

Ya. Itu sepenggal kisah perayaan ulang tahun sembunyi-sembunyi dan amat sederhana. Di ulang tahun selanjutnya, tak pernah ada roti/kue di ulang tahunku. Biasanya aku dan teman-temanku hanya bertukar kado. Aku memberi kado di ulang tahun mereka. Dan mereka memberi kado di ulang tahunku. Begitu seterusnya hingga ulang tahunku yang ke-20, ulang tahun yang benar-benar memberi kesan tersendiri bagi diriku, saat dimana aku menjadi orang paling mengenaskan karena ‘dikerjain habis-habisan’.
Ulang tahunku jatuh pada tanggal 6 April dan pada saat itu bertepatan dengan hari Jumat dan libur nasional.
6 April pagi. Ketika ku buka mata, sebatang lilin di atas sepotong roti tawar isi coklat sudah bertengger di atas meja kecil. Ia ditemani sebuah boneka monyet dengan segenggam cinta ditangannya. You have a spot in my heart. Demikianlah tulisan yang dipersembahkan si monyet dalam cinta yang ada di genggamannya. Kejutan kecil itu datang dari Intan, teman sekamarku yang masih terlelap di ranjang atas (kami berdua nge-kos dengan tempat tidur atas dan bawah).
Monyet pemberian Intan bernama 'Coa'
Aku panggil namanya. “Intaaaann…” Tak ada jawaban. Entah dia masih tidur atau pura-pura tertidur (kami tipe orang yang gengsi mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ jika salah satu dari kami ada yang berulang tahun). Hingga akhirnya ia terbangun, dan aku mengucapkan Terima Kasih.
Bertepatan dengan hari ulang tahunku, Rohis di kampusku sedang mengadakan acara Tafakur Alam di Cisarua selama tiga hari. Setelah pagi buta mendapat kejutan dari Intan, aku langsung bergegas bersiap-siap berangkat ke kampus. Demikian pula dengan Intan. Kami beserta rombongan harus berangkat pagi untuk menghindari kemacetan.
Sebelum pergi ke kampus, Intan menemui dua teman laki-lakinya yang kebetulan juga temanku karena kami memang satu kelas. Amir dan Arief. Amir ingin meminjam motor Intan selama Intan mengikuti Tafakur Alam. Aku pun ikut menemui mereka. Ada perasaan terharu saat mereka mengucapkan ‘selamat ulang tahun’. Pasalnya, tiga hari sebelumnya, Arief marah besar padaku gara-gara aku mendorong bangkunya hingga ia hampir terjatuh. Aku udah minta maaf, dia masih marah. Aku udah baik-baik-in dia, dia masih marah. Dan akhirnya pagi itu, semua baik-baik saja.
Sesampainya aku di kampus dan bertemu rombongan akhwat (sebutan untuk muslimah) dan ikhwan (sebutan untuk muslim) yang mengikuti Tafakur Alam, tak ada ucapan selamat ulang tahun yang ku dengar. Yang ku dapati hanyalah keluhan dari Fitroh, salah satu adik kelasku, yang ‘mengaku’ agak sedikit tidak enak badan.
Perjalanan pun dimulai. Perjalanan menuju ke Cisarua di pagi hari yang cerah. Semua diperlancar oleh-Nya. Akhirnya kami tiba di villa Ar-Rahman dengan selamat. Kami pun langsung menuju kamar kami masing-masing. Villa untuk akhwat dan villa untuk ikhwan terpisah. Namun, hanya berjarak sekitar 10 meter. Pembukaan Tafakur Alam segera dibuka. Beberapa sambutan terdengar dari Ketua Pelaksana, Ketua Rohis, dan Pembina Rohis. Tak lupa terdengar gema takbir. Allohu Akbar. Acara pun dilanjutkan dengan sholat Jumat bagi ikhwan.
Salah satu villa di area villa Ar-Rahman
Acara demi acara terlewati sudah hingga malam menjelang. Malam pertama di Cisarua. Sekitar pukul 21.00 WIB materi dengan sukses dibawakan pembicara. Kami, para akhwat kembali ke villa akhwat karena acara malam ini sudah selesai.
Sebagian besar dari kami belum tidur dan waktu kami pergunakan untuk saling bersenda gurau dan berbagi cerita. Namun, tiba-tiba Fitroh pingsan. Aku pun panik. Apalagi posisiku saat itu sebagai Ketua Keputrian, yang boleh dibilang memiliki sedikit tanggung jawab atas peserta yang mengikuti Tafakur Alam.
Aku benar-benar panik saat itu. Aku tak menyangka Fitroh akan pingsan. Sebelum materi dimulai, dia memang mengeluh jika kepalanya sakit. Aku pun menganjurkan untuk minum obat, namun rasanya ia tak meng-iya-kan saranku.
Selanjutnya aku pun meminta bantuan teman-teman akhwat untuk membantuku membopong Fitroh ke dalam kamar. Seluruh akhwat di villa ikut panik. Aku kemudian beranjak ke villa ikhwan untuk meminta kotak obat.
Sekembalinya aku ke villa akhwat, aku langsung memberikan minyak angin ke dekat hidung Fitroh agar ia terbangun. Beberapa saat kemudian, ia sadarkan diri. Namun, tiba-tiba ia menggigil kedinginan. Aku pun langsung melepas kaos kakiku dan ku pakaikan ke kaki Fitroh.
“Gimana ni Mi?” “Gimana ni Mi?” “Gimana ni Mi?”
Beberapa kali kalimat itu ku dengar. Mereka seakan menunggu ‘langkah apa yang akan segera ku ambil’. Sementara itu, Fitroh tetap kedinginan. Aku pun kembali beranjak ke villa ikhwan untuk minta air hangat.
“Mi, itu si Fitroh mau di-gimana-in?” Tanya Kak Nurul, salah satu kakak kelasku.
“Bentar, Mbak. Ini aku mau minta air hangat.” Kataku.
“Weh, yang ikhwan jangan dikasih tahu kalau Fitroh pingsan. Nanti mereka jadi ikut khawatir.”
“Lah, tadi aku minta kotak obat dan udah bilang kalau Fitroh pingsan.” Kataku sambil berlalu menuju villa ikhwan.
Aku pun mengambil segelas air hangat di villa ikhwan. Beberapa ikhwan menanyakan kabar Fitroh. Aku hanya bisa mengatakan dia sudah sadarkan diri. Namun, merasa kedinginan. Seorang ikhwan yang bertugas sebagai sie kesehatan pun menyatakan siap dihubungi jika keadaan Fitroh semakin parah.
Aku kembali ke villa akhwat. Ku dapati keadaan Fitroh semakin parah. Ia memegang lehernya. Ia mengaku sesak nafas dan tenggorokannya sangat sakit untuk menelan sesuatu. Ia alergi dingin.
“Kamu bawa obat pribadi?” tanyaku pada Fitroh.
“Nggak, Mbak.” Kata Fitroh sambil mengerang kesakitan.
“Mbak, dia udah pusing sejak tadi sore.” Kata Rizqi, salah satu teman Fitroh.
“Udah tau pusing, kenapa tadi disuruh ikut materi.”
“Tau, parah nih. Kalau udah sakit kayak gini, mau gimana. Dia juga ga bawa obat pribadi lagi. Gimana tuh! Masa mau dikasih obat warung. Ntar kalau tambah parah gimana?”
“Gimana ni Mi.”
Ku dengarkan orang-orang di sekitarku justru memojokkanku, bukan membantuku. Tiba-tiba Fitroh dengan sedikit berteriak berkata, “Udah, jangan pada ribut. Jangan salahin mbak Mia terus.”
“Mbak, aku pengen pulang.” Kata Fitroh dengan terus memegangi tenggorokannya yang sakit.
“Bentar ya, aku cari bantuan dulu. Nanti kamu ke klinik aja.”
“Mana ada klinik buka jam segini?”
Ku dengar salah satu celetukan itu. Namun, tak ku hiraukan. Aku kembali ke villa ikhwan untuk meminta bantuan menyediakan mobil untuk membawa Fitroh ke rumah sakit atau klinik terdekat. Aku pun kembali lagi ke villa akhwat.
Fitroh semakin kesakitan dan aku pun semakin panik.
“Mbak, aku pengen pulang. Aku pengen pulang ke Purworejo. Aku pengen pulang ke rumah.” Keluh Fitroh.
“Bentar ya, ditahan ya sakitnya. Nanti kamu dibawa ke klinik dulu.”
“Emang masih ada klinik yang buka jam segini?”
“Aku pengen pulang, Mbak.”
“Masa iya mau pulang. Tadi disuruh ikut materi sih. Harusnya kalau emang tahu dia lagi sakit, suruh istirahat aja.”
“Mi, tadi aku dapat info kalau mobil yang mau dipakai, bannya bocor. Jadi nggak bisa dipakai. Terus gimana ni, Mi?” kata Kak Nurul.
“Mbak, aku pengen pulang. Aku pengen pulang.” keluh Fitroh.
“Gimana ni Mi? Kamu disini kan sebagai Ketua Keputrian, ni anak mau di-apa-in. Sakit, nggak bawa obat, ban mobil bocor, klinik pasti juga udah pada tutup. Kalau ada pasti juga jauh, tapi ngga ada mobil. Kalau pakai motor, takutnya malah lebih parah.”
"Masa iya, mau pake motor. Kena angin malah lebih bahaya."
Aku hanya diam. Entah apa yang aku pikirkan. Sementara itu para akhwat berkumpul di kamar tempat Fitroh berada. Sedangkan Fitroh sendiri masih merasa kesakitan dan ingin pulang.
“Gimana ni Mi?” “Gimana ni Mi?” “Gimana ni Mi?”
Lagi-lagi aku ditekan. Disalahkan. Dan tak ada yang memberikan solusi yang tepat. Dengan sedikit mendesis aku berkata, “Semuanya hanya bisa menyalahkan, tak ada yang bisa membantu.”
Dengan hati kesal, muka panik, aku menuju villa ikwan. Kali ini aku ditemani Kak Nurul dan Yuvita. Aku menemui ketua Rohis menceritakan kondisi Fitroh yang semakin parah.
“Bukannya tadi mobilnya sudah di depan villa akhwat ya? Saya tadi sudah nyuruh orang.” Kata ketua Rohis.
“Iya, tapi ada yang bilang bannya bocor.” Kak Nurul menjelaskan.
“Gimana dong. Kasihan Fitroh.” Kataku sambil menitikkan air mata setelah sedari tadi aku masih belum bisa menangis.
“Iya, tapi tadi mobilnya sudah disiapin.”
“Mana? Mobilnya nggak bisa dipakai, bocor.” Kata Kak Nurul.
“Yaudah yuk, balik lagi aja. Percuma minta bantuan.” Kata Yuvita.
Sepanjang menuju villa akhwat, Kak Nurul berkata, “Gimana ini Mi? Kamu sebagai ketua, gimana keputusanmu sekarang? Ni udah larut malam. Klinik juga udah pada tutup. Sekarang gimana ini?”
Di villa akhwat, ku lihat muka-muka suram yang seakan-akan benci sekali terhadapku karena aku tak bisa segera menangani Fitroh yang terus mengerang kesakitan karena tak bisa nafas.
“Udah, telepon ibunya aja.” Salah seorang berkata demikian.
Sejujurnya, perasaanku sudah tidak enak. Apalagi saat salah satu dari akhwat benar-benar menelpon ibunda dari Fitroh. Sepertinya aku mengenali suaranya.
“Hallo.”
“Anak saya kenapa? Lho, anak saya ikut Tafakur Alam? Kok dia tidak minta ijin terlebih dahulu ke saya. Itu kalau terjadi apa-apa dengan anak saya gimana? Siapa yang bertanggung jawab? Kamu? Kamu ini siapa? Gimana anak saya?”
Dengan terbata-bata ku jawab setiap pertanyaannya. Sedikit perasaan takut, namun banyak perasaan-tidak-enak. Dan beberapa saat kemudian, terdengarlah …
“Happy Birthday to You… Happy Birthday to You… Happy Birthday to You…”
Sebuah lagu ucapan ulang tahun pun terdengar. Beberapa bungkus kado pun bermunculan. Fitroh yang sedari tadi memegangi tenggorokannya tiba-tiba memelukku. Kak Nurul dengan handphone di tangannya muncul di balik pintu. Teman-teman akhwat serentak menyanyikan lagu ulang tahun. Muka-muka suram yang sedari tadi menyalahkanku kini berubah menjadi wajah puas menyiksa batinku. Sementara aku? Aku membenamkan wajahku di bantal dengan menangis tersedu-sedu. Malu. Marah. Kesal. Jengkel. Segala rasa bercampur aduk menjadi satu.
Ibuuuu…. Mereka jahaaattt….
Rupanya kejadian malam itu sudah direncanakan sebelum acara Tafakur Alam dimulai. Skenarionya benar-benar tertata dengan rapi. Mulai dari Fitroh yang pura-pura pusing beberapa jam sebelum dia pingsan. Obat-obat pribadi yang tidak ia bawa dan sebagainya. Benar-benar ‘penyiksaan batin’ yang sempurna.
Sebenarnya mobil yang akan digunakan untuk membawa Fitroh ke klinik memang sudah disiapkan dan sudah berada di villa akhwat. Hanya saja, tidak lucu jika Fitroh benar-benar dibawa ke klinik. Oleh sebab itu, ada yang membuat alasan seakan-akan ban mobil bocor sehingga mobil tidak bisa digunakan.
Kesalahan mereka hanyalah tidak adanya koordinasi dengan ikhwan sehingga ketika aku bolak-balik villa ikhwan, para ikhwan ikut kebingungan karena salah satu akhwat ada yang pingsan. Bahkan salah seorang dari pihak institusi juga merasa khawatir. Namun, tanpa sepengetahuanku, mereka menjelaskan dengan baik di tengah kebingunganku mencari bantuan.
Itulah perayaan ulang tahun termanis sepanjang hidupku. Dikerjain abis-abis-an tanpa aku sadari sebelumnya. Bahkan aku tak pernah terpikirkan olehku ‘dikerjain’ apalagi di acara Tafakur Alam. Sayangnya, kisah di atas menjadi kurang manis karena keesokan harinya, ketika acara outbound akan segera dimulai, ketika aku di luar villa untuk menyiapkan keperluan outbound, tiba-tiba aku mendengar kabar dari salah satu akhwat yang mengabarkan Puteri pingsan. Antara yakin dan tidak aku menuju villa akhwat. Apakah Puteri benar-benar pingsan ataukah hanya kelanjutan dari skenario semalam. Dan ternyata ku dapati Puteri tengah lemas tak berdaya di lantai dengan ditemani seorang akhwat. Aku dan beberapa akhwat lainnya segera membawa Puteri ke kamar.
“Hayoo lhoo? Gimana?” Goda temanku.
“Ssssttttt…..” aku yang masih agak trauma dengan orang pingsan, sedikit tidak menyukai candaan temanku. Bukan karena takut dibohongi lagi, namun lebih kepada ‘rasa’ yang dirasakan semalam.
Karena acara outbound sudah harus segera dimulai, maka aku menitipkan Puteri ke salah satu akhwat untuk menjaganya. Terima kasih, Ukhti.
Demikianlah sepenggal kisah di ulang tahunku yang ke-20. Kurang lebih seperti itu karena ingatanku memang terbatas. Namun, kejadian itu benar-benar takkan terlupakan bahkan hingga nanti usiaku semakin bertambah. Terima kasih teman-teman Rohis Asy-Syabab Polman Astra. Terima kasih atas kejutannya ^^

2 comments:

  1. hehehe...Fitroh hebat juga yaa aktingnya
    Sangat berkesan ultah di usia yg ke 20 :)

    terima kasih ya sudah berbagi cerita dan ikutan GA Ultah Samara :)

    ReplyDelete
  2. memang manis kisah ultahnya mbak

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top