Main Dimana?

Thursday, September 09, 2021

 

Main kotor-kotoran kok di kamar sih?

Ya maklum lah, kami tinggal di rumah orang tua yang sangat menjunjung tinggi nilai kebersihan, kerapian, dan keindahan. Ada barang-tidak-sedang-dipakai tidak berada pada ditempatnya, langsung dibereskan.


Oleh karena itu, demi menjaga kuping agar tidak panas, hati tidak berdebar kencang, dan tentu saja bisa bermain dengan tenang dan nyaman, kami memutuskan untuk bermain di dalam kamar saja. Di dalam kamar, ku bebaskan anakku bermain apa saja, tentu tetap dalam pengawasan.


Coret-coret di tembok, di kasur, di tangan, di kaki, silahkan. 

Berlatih menggunting tapi hasil guntingannya berantakan, nggak apa-apa. 

Main pasir sampai pasirnya menyebar ke karpet, it's okay.


Segala yang kotor, bisa dibersihkan, segala yang berantakan, bisa dirapikan, meski tidak harus saat itu juga.


Di usia anakku yang hampir 2,5 tahun, dia suka sekali memainkan banyak hal. Imaginasinya mulai berkembang. Yang cukup terasa, emosinya sedang meledak-ledak. Mainan digeser sedikit dari tempat semula, dia bisa marah tidak terima. Semua harus seijin dia dan seringnya dia akan menolak kalau mainannya akan dibereskan (meski sudah tak dimainkan). Ya sewajarnya anak seusianya lah.

Mengajari anak beberes, tentu saja ku lakukan. Tapi ya jangan pasang ekspektasi terlalu tinggi, berharap selalu bersih dan rapi. Selama mata anak terbuka, maka ia akan selalu berpikir 'main apa nih sekarang?' Dan aku benar-benar nggak masalah atas kondisi seperti ini. Yang aku permasalahkan adalah ketika baru mulai bermain sudah terdengar peringatan "Awas ya, nanti harus diberesin. Kalau enggak, nggak usah main lagi, mainannya dibuang aja."

No comments:

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.