2

Pengalaman Pergi ke Pati (Part 2)

<< Cerita sebelumnya

Kami disambut oleh seorang wanita tua. Orang dirumah ini memanggilnya 'lemper'. Dia nenek dari temanku. Tak lama kemudian, seorang pria menyusul menemui kami. Mbah Min, suami dari lemper. Ah, dia terlihat muda. Belum pantas dipanggil kakek.

Lemper menawari kami berbagai macam makanan. Kawanku memilih lontong untuk sarapan kami. Lontong ini bukan lontong sayur seperti di Jakarta. Ini lebih mirip dengan kupat tahu. Tapi kupat tahu ini berbeda dengan yang ada di daerahku. Kuahnya ditambahkan sambal kacang.

Oleh Lemper, aku disuguhi 'tritik', semacam cenil namun bentuknya bukan kubus kecil-kecil. Tapi rasanya sama. Selepas makan dan ngemil, aku pun mandi.

Matahari mulai meninggi. Dan suhu udara memanas. Pati benar-benar panas. Dan herannya, keluarga ini bertahan tanpa adanya kipas angin.

Sekitar pukul 10.00 WIB aku diajak ke Batangan, menjemput teman lain yang juga ikut berkunjung. Hanya 4 km dari rumah. Sampai di rumah, kami semua tepar, tertidur pulas. Lelah.

Sore hari, bangun tidur, aku langsung diajak beli oleh-oleh, pesanan dari teman kantor. Sayangnya toko yang kami kunjungi tak menjual apa yang kami inginkan. 

Kami melaju ke Bakaran, tempat Mbah Uti. Dari cerita yang ku dengar, Mbah Uti ini seorang nenek yang tak pernah berhenti belajar. Beliau selalu update berita di televisi. Setiap istilah yang tak dimengerti, ia catat dan akan ia tanyakan ke anak-anaknya. Rasanya malu jika kalau update dari nenek berusia 88 tahun.

Tak lama kami pun pulang. Di sepanjang perjalanan aku memperhatikan keadaan sekitar. 

Meski tak bisa melihat laut pantai utara, aku bisa melihat kapal nelayan yang digunakan warga setempat untuk mencari ikan. Dan seperti yang pernah ia ceritakan, kapal ini begitu besar. Beda dengan kapal nelayan yang ada di Purworejo. 

Para nelayan di Pati berlayar berbulan-bulan di lautan Kalimantan, Sulawesi, dan sekitarnya. Butuh waktu sekitar 3 bulanan hingga mereka kembali ke kampung halaman. Pulang dari berlayar, mereka mengisi pundi-pundi uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Selain itu, pemandangan lain yang menarik perhatianku adalah sawah-sawah yang digunakan sebagai ladang garam. Sawah-sawah itu tidak ditanami padi pada umumnya. Tapi justru genangan air yang lama kelamaan akan mengkristal membentuk garam. Di samping sawah tersebut terdapat rumah gubuk yang luas, yang digunakan untuk menampung garam yang dipanen. Menarik!

***

Seperti yang sudah ia janjikan, malam ini aku diajak ke rumah makan yang menyajikan Nasi Gandul, makanan khas Pati. Satu yang tak ku ketahui dari makanan ini, lauk yang disediakan hanya : daging, hati, dan babat. Bagi aku yang tak suka dengan daging berkaki empat, langsung deh ........ enek nyium daging. Duh. Untungnya ada tempe goreng yang crispy abis yang bisa menetralkan aroma sapi.
Nasi Gandul
Keesokan harinya kami berniat pergi ke taman mangrove di Rembang. Sayangnya berita duka menghampiri keluarga ini. Salah satu saudaranya meninggal dan kami pun ikut takziah.

Pukul 13.00 WIB, kami sudah siap dan melaju menuju Semarang untuk kembali ke ibukota.

***

Makasih ya Juu, udah dibolehin main ke rumah :)
Makasih juga buat keluarga kamu yang begitu welcome :)
Yuk, giliran kamu ke Purworejo :D

Kami

2 comments:

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top