0

Ratapan Kesedihan


Waktuku tak banyak, hanya hitungan hari. Aku berada di ujung usiaku, berharap bisa memanfaatkan sisa-sisa kehidupan ini dengan baik.
Aku senang, aku bahagia. Aku bisa merasakan indahnya dunia ini, walau begitu singkat. Setidaknya, aku pernah menghirup segarnya udara pagi, panasnya terik mentari, dan dinginnya angin malam yang menyapa lembut tubuh ini.
Aku tak pernah bersedih, walau banyak yang memandang ku sebelah mata. Aku yang bodoh, aku yang lamban, dan tentu saja aku yang gendut. Tak masalah. Setidaknya aku pernah membuat orang lain senang akan kehadiranku.
Kini saatnya telah tiba. Saat dimana aku harus mengorbankan jiwa dan ragaku. Saat aku harus tinggalkan segala keceriaan dunia ini, warna warni kehidupan ini, dan lika-liku perjalanan ini. Ku telah habiskan waktu untuk mengabdikan diri pada orang yang telah merawatku, memberikanku sesuap nasi, dan menjagaku hingga sebesar ini.  
Aku takut, teramat takut. Aku rela mati demi mereka, walau sebenarnya aku takut. Namun, demi melihat seutas senyum di wajahmu, wajah kalian, aku rela. Aku rela demi kalian.
Ingin sekali aku berontak, meronta, meminta perpanjangan waktu, walau hanya sekejap. Tapi, aku tahu ini takdirku, ini jalan hidupku. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya menuruti kemauanmu.
Hanya satu pintaku, ketika waktu telah tiba menjemputku, aku ingin tetap menjadi bagianmu, bagian dari hidupmu. Kelak ketika kita dipertemukan kembali, aku ingin hadir menjadi penolongmu, pemberat timbanganmu, dan bersamamu di surga. ^^

Mungkin itulah yang dirasakan sapi-sapi menjelang Idul Adha. Mungkin saat ini mereka tengah mempersiapkan mental, menghadapi kenyataan, menjalani takdirnya. Apapun yang ia rasakan, ia berharap kehadirannya di dunia benar-benar memberikan manfaat bagi semua orang.

SELAMAT IDUL ADHA :)

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top