0

cerpen paling baru dengan waktu pembuatan yang lama....

MYSTERY OF “WAY”
“Apa? Jadi aku hanya anak adopsi?”
Yurry tersentak kaget mengetahui kenyataan pahit itu.
“Loe udah tanya belum, siapa orang tua kandung loe?” respon Yolanda saat Yurry menceritakan pada sahabat terpercayanya itu.
“Ya belum lah, kemarin waktu gue tahu itu, gue langsung ngunci diri di kamar!”
“Ohw, jadi Yurry yang selama ini sok tajir itu, ternyata cuma anak adopsi!” teriak Yurra, teman sekelas Yurry yang sekaligus menjadi musuh bebuyutannya, hadir tiba-tiba di hadapan Yurry dan Yolanda. Rupanya sedari tadi Yurra mendengarkan cerita Yurry yang masih menjadi rahasia pribadi.
“Kalau gue anak adopsi terus kenapa? Daripada loe, Anak Haram!” kata Yurry mencoba menenangkan diri.
“Anak adopsi biasanya nggak jauh dari anak haram! Tapi gue masih beruntung dari loe, nyokap gue masih mau ngurus gue? Sedangkan loe, DIBUANG!”
Yurra memang terlahir tanpa seorang ayah. Laki-laki yang menghamili ibunya ternyata tak menikahinya. Dan akhirnya, Yurra lah yang menjadi korban. Lahir tanpa seorang ayah yang mendampingi ibunya.
Ketika Yurra berada dalam usia balita, ibu Yurra menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya. Namun, kebahagiaan belum berpihak pada keluarga kecil itu. Ayah Yurra meninggal saat Yurra menginjak usia 13 tahun. Dan sampai sekarang ibu Yurra belum menikah kembali.
$$$
“Kami mengadopsi kamu dari Panti Asuhan Bunda!” kata ayah Yurry setelah Yurry memberanikan diri bertanya pada orang tua yang selama ini mengasuhnya.
“Kamu jangan pergi kesana ya Nak, tempat itu jauh di luar kota!” kata mama Yurry sambil menangis. “Kami sudah anggap kamu sebagai anak kami sendiri dan kamu juga harus anggap kami sebagai orang tua kamu sendiri.”
“Tapi Yurry ingin ketemu orang tua kandung Yurry, Ma, Pa!” kata Yurry memelas.
Setelah mendapat sedikit informasi yakni alamat panti tempat ia diadopsi, keesokan harinya ia menemui Yolanda untuk memintanya menemani dirinya ke alamat tadi.
“Itu jauh banget, Ry. Ortu gue nggak bakal kasih ijin!” kata Yolanda.
“Terus gue harus pergi sama siapa?”
“Sama ortu loe aja!”
“Gue itu niatnya mau pergi tanpa ijin ortu gue!”
“Kabur maksud loe?”
“Yaps”
“Kalau gue temenin gimana Ry?” Yurra tiba-tiba kembali muncul secara tiba-tiba.
“Loe itu dari kemarin nguping ya?”
“Sorry, kemarin nggak sengaja dengar. Tapi kali ini niat nguping. Gue cuma pengen tahu kelanjutan kisah hidup loe yang menyedihkan itu!”
“Kalau loe mau menghina, pergi aja deh! Gue lagi males berdebat sama loe!”
“Tawaran gue diterima nggak nih? Sekalian gue mau buktiin kalau loe nggak jauh beda dari gue,” Yurra berhenti sejenak, “Anak Haram!”
“Eh, loe aja kali, gue nggak!”
“Udah lah Ry. Loe pergi sama Yurra aja! Daripada loe sendirian!” kata Yolanda.
“Pergi sama dia? Yang benar aja! Ya udah deh!”
Akhirnya Yurry pergi ke Panti Asuhan Bunda bersama dengan Yurra. Baru kali ini mereka terlihat akur. Walau di sepanjang perjalanan Yurra sering berbuat iseng pada Yurry, Yurry tak menanggapinya serius. Pikirannya membumbung tinggi mengkhayal bagaimana wajah orang tuanya yang tega menitipkan dirinya di panti asuhan.
Setelah berjam-jam menaiki bus, akhirnya mereka berdua sampai di Panti Asuhan Bunda. Mereka disambut hangat oleh Bunda Yessy, kepala Panti Asuhan Bunda. Yurry pun menceritakan kisah hidupnya yang pahit itu. Bunda Yessy pun membenarkan bahwa 17 tahun yang lalu ia menemukan seorang bayi perempuan yang terletak di dalam kardus.
“Saat itu kami menemukanmu di depan panti. Tak ada identitas yang jelas dari dirimu. Kami juga tidak tahu siapa orang tua kandung kamu. Tapi...”
“Tapi apa Bu?” tanya Yurra yang begitu penasaran dengan nasib Yurry.
“Tunggu sebentar.” Bukannya menjawab pertanyaan Yurra, Bunda Yessy justru pergi ke belakang meninggalkan Yurra dan Yurry yang dihantui perasaan gelisah.
“Kami memang tidak tahu siapa yang meletakkanmu di depan panti, tapi kami menemukan ini di dalam kardus.” Kata Bunda Yessy sambil menyerahkan sesuatu kepada Yurry. Sebuah kalung dengan huruf Y sebagai bandul. “Kami pun memberi namamu Yurry.”
Melihat kalung itu, tak hanya Yurry yang kaget, Yurra pun terlihat begitu syok melihatnya. Entah apa yang ada di benaknya.
Karena tak menemukan informasi lebih, akhirnya Yurra dan Yurry pamit. Yurry terlihat begitu sedih karena tak ada info yang menunjukkan tanda-tanda keberadaan orang tuanya. Dan ketika ia tiba di rumah kedua orang tuanya yang membesarkannya, ia sudah dihadang oleh Pak Yanto dan Bu Yanto, orang tuanya.
“Dari mana saja kamu Nak?” tanya Bu Yanto, mama Yurry sedikit keras namun penuh dengan kasih sayang.
“Maafkan Yurry, Ma, Pa. Yurry pergi ke panti asuhan tempat Yurry diadopsi tanpa seijin kalian. Dan ternyata Yurry tak menemukan informasi apa-apa tentang orang tua kandung Yurry.” Kata Yurry menyesal.
“Itu artinya Tuhan sudah mengijinkan kami sebagai orang tua kamu.” Ayah menimpali. Tak ada raut kemarahan di wajahnya yang tegang.
“Sekali lagi maafkan Yurry, Ma, Pa. Yurry janji, Yurry tak akan lagi mencari siapa orang tua kandung Yurry lagi.”
$$$
Keesokan harinya Yurra terlihat begitu gelisah. Sedari tadi ia menunggu Yurry yang tak kunjung datang. Akhirnya 5 menit menjelang bel berbunyi, Yurry pun menampakkan daun telingannya. Dengan tak sabar, Yurra pun segera menghampiri Yurry.
“Yurry, loe tadi ngeliatin Pak Ucup nggak?” tanya Yurra mengebu-gebu.
“Maksud loe, Pak Ucup tukang sapu sekolah kita ini? Ngapain juga ngeliatin dia? Kayak kurang kerjaan aja?”
“Bukan itu maksud gue?”
“Terus? Nggak penting banget sih loe?” kata Yurry sembari meninggalkan Yurra menuju kelasnya dengan langkah gontai.
“Loe liat nggak kalung yang dipakai Pak Ucup? Kalung itu persis milik loe yang kemarin dikasih Bunda Yessy.” Kata Yurra sedikit keras.
“Hah?” kata Yurry menghentikan langkahnya. “Jadi maksud loe? Gue ini anaknya Pak Ucup?”
“Maybe.”
“Ya udah, sekarang anterin gue nemuin Pak Ucup.” Kata Yurry sambil menarik tangan Yurra.
“Eitzz.” Yurra segera menahan tarikan Yurry. “Dengar, udah bel tuh. Bentar lagi Bu Matik ke kelas. Loe nggak mau kan dimarahi guru killer itu. Lagian ada hal penting yang harus loe ketahui sebelum menemui Pak Ucup.”
“Apaan tuh?”
“Ntar aja. Tuh liat, Bu Matik udah menuju kelas kita.”
Kekilleran guru matematika tak membuat Yurry menjadi fokus pada apa yang diajarkan Bu Matik, sebutan yang lebih mudah diucapkan daripada harus memanggil Bu Yachnash. Beberapa kali ia menengok ke belakang, tempat Yurra duduk.
“Loe yakin kalung Pak Ucup persis kalung gue?” bisik Yurry.
“Yakin banget!” jawab Yurra dengan berbisik pula.
“Bandulnya Y juga? Kenapa nggak U? Namanya kan Ucup?”
“Yee, nama lengkapnya Yusuf Sutranto kale?”
“YURRA, YURRY.” Suaranya begitu menggelegar. Tak ada suara lain yang terdengar. Hanya kicauan burung gereja di luar kelas. Rupanya Bu Matik sudah menampakkan tanda-tanda. “Kalian berdua, Yurra dan Yurry, nama sudah seperti anak kembar. Tapi, setiap hari bertengkar terus. Ibu, sebagai wali kelas kalian, bosan mendengar keluhan dari guru-guru yang mengatakan kalian selalu ribut saat diajar di kelas. Dan sekarang di pelajaran saya, kalian ribut juga.”
“Kami tidak bertengkar kok Bu?” bela Yurry.
“Iya, kami sedang berdiskusi, Bu.” Sambung Yurra.
“Baiklah, sekarang kalian berdua kerjakan soal nomor 2 dan 4 di papan tulis.” Perintah Bu Yachnash.
$$$
Istirahat tiba. Yurry segera menagih janji Yurra untuk menemaninya menemui Pak Ucup. Tak sabar hatinya untuk memastikan sebuah kenyataan yang terkandung dalam kalung berbandul Y itu.
“Ry, gue kan dah bilang tadi pagi. Ada yang lebih penting sebelum loe nemuin Pak Ucup!”
“Iya, tapi apaan?”
“Nanti pulang sekolah loe mau nggak ke rumah gue?” tanya Yurra.
“Ngapain? Loe kan bisa cerita disini. Sekarang juga gue mau dengerin ‘hal penting’ apa yang mau loe ungkap. Atau, jangan-jangan....” kata Yurry menatap tajam mata Yurra.
“Jangan-jangan apa? Loe kenapa sih liatin gue kayak gitu?”
“Jangan-jangan loe mau bilang cinta ke gue. Tapi karena malu ngungkapin di sekolah, loe minta gue ke rumah loe? Iya kan?”
“Idih, suka sama loe? Jangan harap deh! Gue cuma mau bantu loe, kalo loe nggak mau ya udah. Tapi gue harap loe mau, karena ini juga menyangkut gue?”
“Maksud loe? Gue nggak ngerti deh!”
“Hadeh, makanya ntar pulang sekolah loe ikut gue ke rumah. Oke? Sekarang gue mau ke kantin dulu!”
$$$
Pulang sekolah akhirnya Yurry pergi ke rumah Yurra. Dengan membonceng sepeda Yurra, Yurry merasakan hal yang berbeda dari Yurra. Akhir-akhir ini Yurry merasa Yurra lebih bersikap dewasa. Ia bahkan menawarkan bantuan pada Yurry, menemani dirinya pergi ke panti asuhan, dan sekarang ingin mengungkapkan ‘hal penting’ yang kini masih bersarang dalam pikiran Yurry. Tanpa terasa, akhirnya mereka berdua sampai di rumah Yurra. Rumah yang begitu ‘jauh’ dari rumah Yurry. Terlihat begitu sederhana tanpa banyak perabot yang menghuni rumah itu.
Yurry pun dipersilahkan duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu. Sementara Yurra masuk ke dalam dan kembali menemui Yurry bersama dengan seorang wanita yang renta. Setelah memperkenalkan Yurry pada ibunya, Yurra segera menceritakan tentang apa yang terjadi pada Yurry. Selesai bercerita Yurra meminta Yurry mengeluarkan kalung berbandul Y yang diberi oleh kepala panti. Melihat itu, tampak ibu Yurra syok dan air matanya pun berlinang. Yurry pun dibuat heran melihat pemandangan itu. Semakin heran saat Yurra mengeluarkan kalung yang sama dari sakunya.
“Ibu pernah bilang kalung berbandul Y itu hanya ada 3.” Kata Yurra pada ibunya yang masih terpaku. “Satu ada di aku, satu di ibu, dan satu di bapak.”
“I...iya. Itu benar Nak! Kalung itu yang membuat bapakmu sebelum ia pergi meninggalkan ibu dan bayi dalam kandungan ibu. Ia hanya membuat 3 buah. Satu dibawa bapakmu pergi dan 2 lagi ada di ibu. Kata bapakmu, satu kalung untuk ibu dan satu lagi untuk bayi yang lahir dalam rahim ibu. Kalung itu yang nantinya akan mempersatukan kita.” Cerita ibu Yurra.
“Lalu, kenapa saya punya kalung yang sama? Apa ini hanya kebetulan?” tanya Yurry yang masih berselimut kebingungan.
“Tidak, Nak.” Jawab ibu Yurra.
“Maksud ibu apa? Sekarang kalung berbandul Y milik ibu dimana? Ibu masih menyimpannya, kan?” tanya Yurra.
“Tidak, Nak.” Kata ibu Yurra. “Punya ibu, sudah ibu berikan ke Yurry.”
Tak ingin membuat penasaran Yurra dan Yurry, ibu Yurra pun melanjutkan kata-katanya. “Saat itu usia kandungan ibu hampir 2 bulan. Sudah beberapa kali bapak kamu mencoba melamar ibu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun, sayang, karena perbedaan keyakinan, kakek kamu tak menginjinkan kami menikah. Akhirnya bapak kamu pergi meninggalkan ibu bersama bayi yang ibu kandung. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, ia menunjukkan 3 kalung berbandul Y itu. Setelah memberikan 2 kalung, bapakmu meninggalkan ibu. Ibu menunggu kelahiran bayi ibu sendirian. Dan ternyata ibu melahirkan bayi kembar.”
“Aa..pa..? maksud ibu kami berdua kembar?” tanya Yurra kaget.
“Nggak, aku nggak percaya! Kamu bukan ibuku. Dan kamu bukan kembaranku.” Teriak Yurry syok.
“Ini ibu, Nak!” kata ibu Yurra mencoba merengkuh tubuh Yurry.
“Bukan. Aku tak percaya. Kalau Anda memang ibu saya, kenapa anda tega membuang saya. Sementara Yurra?”
“Maafkan ibu Nak! Waktu itu ibu tak menduga kalau ibu punya anak kembar. Dan setelah kalian lahir ibu bingung. Ibu tak sanggup mengurus kalian berdua sendirian. Akhirnya ibu memutuskan salah satu dari kalian akan ibu titipkan di panti asuhan. Dan kenapa kau Yurry? Karena ibu tak sanggup melihat kamu sedih saat orang mengatakanmu sebagai anak haram. Dulu setelah meninggalkan kamu di panti, ibu langsung pindah ke kota ini. Tapi ternyata orang yang mengadopsimu orang sini juga!”
“Lalu, apakah ayah Yurra bernama Pak Ucup?” tanya Yurry lagi.
“Pak Ucup?” tanya ibu Yurra tampak bingung.
“Maksud Yurry, Yusuf Sutranto, Bu. Beliau tukang kebun sekolah kita.” Jelas Yurra.
“Yu...Yus...Yusuf Sutranto.” Bibir ibu Yurra bergetar mengucapkan nama itu. “Ia masih ada? Disini? Di kota ini?”
“APA? Jadi benar? Aku ini saudara kembar Yurra? Anak ibu? Dari seorang tukang sapu sekolah? TIDAK...AKU TIDAK PERCAYA!” Yurry pergi dari rumah Yurra dengan berlinang air mata. Ia tak sanggup menghadapi kenyataan itu. Kenyataan yang lebih pahit sekedar mengetahui ia hanya seorang anak adopsi.
Semalam penuh Yurry mengunci diri di kamarnya. Merenungkan langkah apa yang harus ia lakukan setelah mengetahui orang tua kandungnya. Ia tak pernah menyangka, Yurra yang selama ini ia hina sebagai anak haram, ternyata saudara kembarnya. Itu berarti selama ini pula ia menghina dirinya sendiri.
Tak ingin larut dalam kesedihan yang mendalam, Yurry pun segera mengambil keputusan. Hari itu ia sengaja tak masuk sekolah. Ia pun melarang kedua orang tuanya pergi bekerja. Ia ceritakan semua yang terjadi pada orang tuanya itu. Setelah itu kedua orang tua Yurry mengajak Yurry ke rumah Yurra untuk membicarakan hal ini secara kekeluargaan. Namun, sesampainya mereka ke rumah Yurra, tak ada seorang pun yang mereka temui. Rumah itu kosong. Hanya satu tempat yang memungkinkan keberadaan Yurra dan ibunya sekarang. Sekolah. Mereka pun bergegas menuju kesana. Dan benar saja, sesampainya mereka di sekolah Yurra, mereka mendapati suasana yang mengharukan. Terlihat Yurra dan ibunya sedang melepas rindu bersama ayah kandung Yurra. Tak ingin ketinggalan moment itu, Yurry pun mendekat, diikuti pula kedua orang tuanya.
“Yu...Yusuf...!” kata ayah Yurry setengah tak percaya.
“A..abang!” kata Pak Ucup memperlihatkan ekspresi yang sama dengan ayah Yurry. Mereka pun berpelukan. Sebuah pemandangan yang menimbulkan tanda tanya besar bagi mereka yang melihatnya.
“Papa kenal dengan Pak Ucup?” tanya Yurry penasaran.
“Yusuf ini adik sepupu Papa. Delapan tahun yang lalu, setelah ia menceraikan istrinya, ia pergi entah kemana. Ia bilang ingin memperbaiki diri dan melarang kami mencarinya. Tapi sekarang....” ayah Yurry berseri-seri.
“Maafkan saya, Bang.” Kata Pak Ucup. “Yusti, a..apa ini kembaran Yurra?” tanya Pak Ucup pada ibu Yurra. Matanya begitu sembab melihat ke arah Yurry.
Pak Ucup pun memeluk erat Yurry. Ia tak menyangka ia punya anak kembar dimana salah satunya diasuh oleh kakak sepupunya sendiri. Kepergiannya selama ini ternyata merubahnya sebagai seorang mualaf. Ia mempelajari agama yang sama dengan wanita yang memberinya anak kembar.
Setelah pertemuan itu, Pak Ucup dan ibu Yurra akhirnya menikah. Mereka pun tinggal di rumah Pak Yanto, kakak sepupu Pak Ucup, bersama Yurra dan Yurry tentunya. Mereka semua pun bahagia.
tHe_EnD


0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top