3

Kisah Sepotong Spion

[Sebuah pengakuan]
Sebuah pop up messanger muncul di layar komputerku siang ini (4/2). Ku lihat siapa pengirimnya. Iswari.ganggas. Mbak Iswari mengajakku makan bebek Slamet. Belum sempat aku membalas pop upnya, dia sudah bersiap dan mengenakan jaketnya. Ku lihat, Mbak Pudji yang duduk di sebelah Mbak Iswari pun tengah bersiap-siap.

Aku yang awalnya sempat menolak karena masih ada sedikit pekerjaan, akhirnya ikut turut.
"Ayo Zai." ajak Mbak Iswari. "Eh, tapi Mia nggak bawa motor ya hari ini. Ini pinjam motornya Adit aja."

Ku lihat ke arah Mas Adit, dengan ringan tangan pun dia mengeluarkan kunci motornya. Aku pun membawanya.

Sebenarnya aku tidak suka bebek. Namun, demi menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman, apalagi mereka sudah berbaik hati mengajakku, maka aku mengiyakan tawaran itu.


Aku menuju ke parkiran. Ku lihat Mbak Pudji dan Mbak Iswari yang sudah sampai duluan di parkiran. Ada juga Mbak Riska yang sudah mengendarai motornya. 

Rupanya, siang itu kami akan makan siang di luar berlima orang; aku, Mbak Iswari, Mbak Pudji, Mbak Riska dan Mbak Anik. 

Mbak Iswari berboncengan dengan Mbak Pudji pakai motor Mbak Iswari. Mbak Riska berboncengan dengan Mbak Anik pakai motor Mbak Riska, dan aku pinjam motor Mas Adit. Itulah rencananya.

Aku mengeluarkan motor Mas Adit dari deretan motor di parkiran. Baru dua meter motor Mas Adit berpindah dari tempat semula, Mbak Riska kembali.

"Mbak Anik nggak jadi ikut. Mia kamu bareng aku aja ayok." ajak Mbak Riska.

Dengan berhati-hati aku memasukkan kembali motor Mas Adit ke dalam barisan. Sayangnya, gas motor itu susah dikendalikan. Pelan-pelan aku gas, motor seakan tak mau gerak. Waktu gas aku besarkan dan memaksa agar motor bisa masuk ke barisan, tiba-tiba "Pletaaaaakk...." sebuah spion terjatuh. Ternyata itu spion motor di sebelah motor Mas Adit.

"Waduh, gimana ini? Yaudahlah pikir nanti." batinku. "Ah, mungkin karena memang spionnya sudah rapuh."

Akhirnya aku pergi membonceng Mbak Riska. Mereka tak tahu apa yang telah terjadi pada motor di sebelah motor Mas Adit.

***

Setelah menikmati bebek yang sambalnya pedas sekali, aku sudah kembali ke parkiran. Aku meletakkan kembali helm yang ku pinjam ke motor Mas Adit. Di saat itulah aku menengok keadaan spion motor sebelah. 

Aku ambil spion yang jatuh. Ku lihat, spion itu sebenarnya masih bagus, tak seperti spion motorku yang pernah ku patahkan sebelumnya. Ingin ku kembalikan ke posisi semula, sayangnya kaca spion itu pecah.

Lemas. Ini salahku.

Akhirnya, setelah Mbak Riska dan Mbak Iswari memarkir motornya, aku hanya bisa bertanya, "Mbak ini motor siapa ya?"
"Wah, ga tau Mi."

***

Sesiang itu aku dihantui rasa bersalah. Meski tak ada yang tahu, Alloh pasti melihat semuanya. Aku pun membayangkan, ketika sang pemilik motor itu mendapati spionnya patah, dia akan marah-marah di parkiran, berkoar-koar tak jelas. Dan apabila mendapati Mas Adit mengambil motornya, bisa saja dia menuduh Mas Adit, memarahinya, dan Mas Adit gantian marah karena merasa tidak bersalah.

Aku tak tenang. Akhinya aku berinisiatif untuk minta maaf. Aku ambil kertas dan bolpen. Aku menulis singkat.

Dear Pak,
Mohon maaf saya tidak sengaja merusak spion motor bapak.
Silahkan hubungi 087884890xxx jika sudah diperbaiki, biayanya akan saya ganti.

Mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Mia

Aku tak hapal persis kalimat di kertas yang aku tuliskan. Sambil mengurus 'peminjaman' di Gudang, aku melipir ke parkiran, menuju motor yang tadi. Tak ada orang. Aman. Tapi entahlah jika ada CCTV  di parkiran.

Aku menaruh kertas itu di motornya dengan melihat nanar kaca spion yang sudah ku letakkan di atas jok. Sekilas aku melihat plat motor itu. AA

Dalam hati aku bertanya-tanya, siapakah pemilik motor ini? Siapa kira-kira yang dari Kebumen, Purworejo, Magelang? Bu Endang tak mungkin. Pak Eddy? Mas Denta? Mas Andri? Huaaaa... siapa? Bagaimana ini?

Aku pasrah. Aku kembali ke tempat dudukku di lantai dua. Hingga waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB, saatnya pulang kerja. 

Aku masih sibuk merekap ulang schedule visit gara-gara tadi Ms. Excel ku mendadak not responding. Hingga pukul 17.25 WIB aku masih di kantor. Dan tak kudapati SMS dari nomor tak dikenal.

Pikiranku kembali melayang. Apa pemilik motor itu tak melihatnya, dan justru membuangnya. "Ah sudahlah, yang penting aku sudah berniat baik, bertanggung jawab atas apa yang ku perbuat."

Aku pun pulang dengan pasrah, meski pikiran sebenarnya kacau.
 
***

Ass.
P bner ne mba mia?

Sebuah SMS masuk ke hapeku pukul 18:49 WIB.
Iya. Ni siapa ya?
Ne afid yg pny mtor td.

Deg. Aku sedikit gugup. Ku tanyakan apakah spionnya sudah diganti? Habis biaya berapa? Dan tak lupa aku minta maaf. 

Dh tenang mba. G usah spion murah ne.

Begitu katanya. Syukurlah, semua masalah terselesaikan. Dia sudah mengikhlaskannya. Dan sebagai permintaan maaf sekaligus balas budi, aku pun membelikannya pulsa. Setidaknya dengan demikian, aku jauh lebih tenang.

***

Entah kesimpulan apa yang bisa ku tarik dari kejadian ini. Yang jelas, ini kedua kalinya aku mematahkan spion. Motorku sendiri dan motor Mas itu. Semoga kejadian ini tidak terulang kembali dan tidak terjadi pada Anda. ^^

3 comments:

  1. hebat mba...salut dengan kejujuranmu..ngg banyak orang mau mengakui kesalahan, apalagi bertanggung jawab...sepintas banyak yang meremehkan, tapi ketenangan jiwa karena sudah mengakui kesalahan harganya luar biasa ya mba...makasih sudah share..

    ReplyDelete
  2. hehe, syukurlah berakhir dengan baik, mba. kalo dipaksain masuk memang seringnya mau ga mau jadi nyenggol sebelahnya. moga lain kali ga kejadian lagi ya

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top