0

Essay Pertamaku

Tak selamanya keberhasilan itu menyelimuti kita. Sering kegagalan itu mengiringi. Begitu pula dengan sebuah 'essay' di bawah ini. Perjalanannya harus terhenti ketika nasibnya sudah dideklare. Namun, tak ada yang sia-sia dalam kehidupan ini. Segalanya bisa bernilai positif jika kita memiliki pola pikir yang positif pula.
Silahkan beri penilaian untuk essay ini. 

APA KABAR IBU PERTIWI?
By: Zaitun Hakimiah NS

Ku lihat ibu pertiwi...
Sedang bersusah hati...
Air matanya berlinang...
Mas intannya terkenang...
Hutan gunung sawah lautan..
Simpanan kekayaan...
Kini ibu sedang duka...
Merintih dan berdoa...

Tak asing dengan lagu itu bukan? Lagu sederhana yang diciptakan entah berapa tahun yang lalu. Namun, makna dari lagu tersebut tidak pudar hingga kini. Bahkan sangat cocok untuk menggambarkan keadaan ibu pertiwi saat ini.
Ibu pertiwi memiliki kekayaan yang tiada terkira. Hutan hijau sumber oksigen. Gunung menjulang perlihatkan keindahannya. Sawah terhampar luas sumber penghidupan, dan lautan lepas dengan segala keindahan biotanya. Serta masih banyak sumber alam lain yang menjadi kekayaan ibu pertiwi.
Akan tetapi, bagaimana bisa ibu pertiwi tidak menangis jika melihat seluruh kekayaannya dirampas oleh tangan-tangan usil itu? Hutan yang dulunya dipenuhi pohon-pohon yang tinggi dan besar, kini tak ada bedanya dengan sebuah lapangan tak terurus yang hanya dipenuhi rumput-rumput liar tanpa ada pohon berbatang kokoh dan berdaun rindang sebagai penghasil oksigen. Para fauna yang menjadikan hutan sebagai rumahnya pun harus menjadi korban tangan-tangan jahil itu. Satu per satu dari mereka mati dan status punah pun terdengar.
Disadari atau tidak, tangan-tangan ‘yang tak pernah merasa berdosa itu’ membuat wajah ibu pertiwi kian murung. Bayangkan saja, apa yang menjadi kekayaan ibu pertiwi justru menjadi sasaran empuk para pemilik tangan itu. Dan yang mengherankan, mengapa tak ada seorang pun yang peduli pada nasib ibu pertiwi?
Wajah ibu pertiwi kini semakin murung. Walau memendam luka yang begitu dalam, raut mukanya terlihat tenang, setenang sungai-sungai yang memang tak mau mengalirkan airnya. Lihatlah air hitam itu? Itukah yang dinamakan sungai? Mengapa baunya begitu menyengat hidung? Dan apa pula yang berada di permukaannya itu? Itukah sampah yang disebut-sebut sebagai penyebab banjir?
Sungai yang juga termasuk kekayaan ibu pertiwi ini memang sudah tak layak lagi disebut sungai. Dimana ikan-ikan itu? Apakah tergantikan dengan sampah-sampah itu? Dan lagi-lagi ku bertanya, dimana kepedulian untuk menjaga kekayaan ibu pertiwi?
Saat ini musim penghujan. Saat yang tepat bagi ‘banjir’ untuk mengunjungi daerah orang-orang yang tak memiliki kepedulian. Tak peduli jika pohon ditebangi. Tak peduli jika sampah dibuang sembarangan. Dan jika banjir itu memang datang, siapa yang akan disalahkan? Adakah yang menyalahkan dirinya sendiri?
Banjir membawa kesedihan yang mendalam bagi tiap-tiap kalangan. Bagi sebuah perusahaan, proses produksi menjadi terlambat, proses distribusi menjadi terhambat. Begitu pula dengan pihak-pihak lain. Kehadiran banjir seakan menghentikan seluruh aspek kehidupan. Kehidupan di rumah sakit lah yang justru terlihat. Berbagai macam penyakit mulai dikeluhkan akibat banjir yang menghampiri. Diare, tipus, dan berbagai macam penyakit kulit. Yang lebih menyedihkan adalah biaya pengobatan yang harus ditanggung cukup memberatkan si penderita. Jangankan untuk membeli obat, membeli makanan pun kesusahan.
Lihatlah wajah ibu pertiwi saat ini. Kini ia mulai menitikkan air mata melihat kemiskinan semakin meraja lela. Sebenarnya tak sedikit orang di negeri ini yang membangun apartement mewah, membeli mobil mahal, dan benda-benda yang ‘wah’ lainnya. Gedung-gedung menjulang itu, mobil-mobil yang berlalu lalang itu, sungguh menunjukkan betapa majunya negeri ini. Tapi, tak lihatkah kau gubuk reot di antara gedung-gedung itu? Tak sadarkah kau ada banyak rumah kardus di kolong jembatan yang kau lewati bersama mobil mewahmu itu? Disadari atau tidak kemiskinan merupakan salah satu masalah besar yang menjadi perhatian ibu pertiwi.
Bayangkanlah keadaan yang benar-benar terjadi di tanah ibu pertiwi ini. Di saat orang sibuk memilih sendok mana yang digunakan untuk menyantap makanan mahalnya, di saat itu pula ada orang mengais tempat sampah, memilih makanan yang masih bisa dan layak untuk dimakan. Tak peduli apakah makanan itu sudah basi, tak peduli jika makanan itu justru menimbulkan penyakit karena yang terpenting baginya adalah perut kenyang dan bisa melanjutkan kehidupannya. Di saat panggung gemerlapan itu mengundang artis ngetop dengan bayaran puluhan juta per jamnya, di saat itu pula anak-anak kecil itu bernyanyi di keramaian kota. Panggungnya adalah metromini yang nasibnya juga tak jauh beda dengan nasib anak-anak kecil tadi. Bayarannya adalah uang recehan, terkadang uang lembar seribuan, dan tak jarang lambaian tangan para penumpang. Apakah anak-anak tadi tak bersekolah, mengenyam pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan di sekolah bukan di bus kota? Bukankah pemerintah sudah memberikan bantuan bagi anak-anak untuk merasakan bangku sekolah? Mengapa kini mereka justru pentas di jalanan, memainkan sejumlah tutup botol yang ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan bunyi yang sebenarnya begitu sumbang tuk didengar? Entahlah. Mungkin karena ulah tangan-tangan yang tak bertanggung jawab yang merampas kesempatan mereka untuk bersekolah.
Ibu pertiwi kini menangis, sadar bahwa tangan-tangan itu tak hanya beraksi di dunia pendidikan. Mungkin inilah yang membuat keadaan ibu pertiwi semakin memprihatinkan. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Begitu menyedihkan.
Tangan-tangan liar itu tak henti-hentinya menyakiti ibu pertiwi. Mulai dari kasus pencurian, perampokan hingga kasus korupsi. Alasannya pun cukup beragam. Mulai dari mencuri untuk memenuhi kebutuhan pangannya hingga mencuri untuk menambal kantong pribadi yang tak pernah merasa penuh jika tidak terisi uang. Lihatkah kau perbedaannya? Di satu sisi orang terpaksa mengambil hak orang lain karena memang tak punya cara lagi untuk mencukupi kebutuhan pokoknya. Namun, di sisi lain orang dengan sengaja memanfaatkan peluang untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Rumah dibangun sana-sini, mobil berganti warna tiap hari, rekening dibuka dimana-mana, seakan-akan bingung harus bagaimana mengalokasikan uang yang diperolehnya. Mengapa tak kau berikan saja uang itu kepada yang membutuhkan? Mengapa harus bingung membelanjakan uang itu? Toh, kau beri sedikit saja kau akan mendapatkan sebuah senyuman yang tak ternilai harganya, rasa terima kasih. Tak ada yang sadarkah dengan hal itu? Semakin terlihat saja kesenjangan di bumi pertiwi ini. Namun, memang beginilah manusia diciptakan, selalu saja merasa kurang dan kurang.
Akan tetapi, kini ibu pertiwi hendaknya menghentikan tangisnya. Tak semua orang di negeri ini benar-benar tak memiliki kepedulian. Masih tersisa segelintir putra bangsa yang siap mengembalikan kekayaan ibu pertiwi. Mereka siap mengembalikan wajah ibu pertiwi seceria dulu. Ibarat kata mereka siap menurunkan hujan di padang pasir, siap memunculkan pelangi di tengah teriknya sang mentari. Terlihat begitu besar harapan untuk mengembalikan ibu pertiwi ke keadaan semula.
Anak-anak negeri ini tak semuanya berpanggungkan bus kota dan metromini. Masih banyak anak-anak lain yang bisa mengenyam bangku sekolah. Tak jarang anak-anak itu bisa melanjutkan pendidikannya hingga ke bangku kuliah. Tak sedikit pula putra putri bangsa ini mengukir prestasi, mengharumkan nama bangsa, dan menggembirakan ibu pertiwi.
Apa kabar ibu pertiwi? Semoga tangisanmu segera bergantikan senyuman. Semoga air matamu berubah menjadi setitik harapan menuju masa depan yang lebih cerah.

Kulihat ibu pertiwi…
Kami datang berbakti…
Lihatlah putra-putrimu…
Menggembirakan ibu…
Ibu kami tetap cinta…
Putramu yang setia…
Menjaga harta pusaka…
Untuk nusa dan bangsa…

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top