2

Ibarat lagu, inilah soundtrack blog ini.....


AKU BISU KARENA MEREKA
Ku pandangi tiap tetes air hujan yang membasahi bumi pertiwi. Tetesannya menyuarakan sebuah nyayian indah yang menghantarkanku pada sebuah lamunan. Namun, apa yang aku lamunkan belum sempat mengendap dalam pikiranku karena percikan air yang menerobos masuk melalui jendela kamarku memaksaku tuk terbangun dari khayalan tak menentu. Ku tutup jendela yang mulai basah dan ku rebahkan tubuhku di atas kasur yang bertemankan guling dan bantal. Berharap bunga tidur lebih menenangkan hati daripada lamunan yang menghasilkan khayalan tak pasti.
Dunia memang tak adil bagiku. Semua tak pernah ku dapati. Bahkan, sebuah mimpi indah pun tak mau bersarang dalam tidurku. Ku terbangun dari tidur siangku yang singkat dan mendapati mataku yang basah. Ku yakin benar ini bukanlah air hujan yang masuk melalui ventilasi di atas jendela yang tertutup. Ku yakin ini adalah air mata, buah dari mimpi burukku. Sebuah mimpi yang menempatkanku sebagai makhluk yang paling hina. Mimpi yang semakin memberatkanku menjalani hidup ini. Mimpi yang tak hanya sekedar menjadi bunga tidur karena mimpi ini benar-benar menggambarkan kehidupan nyataku. Aku dihina karena aku bisu. Aku bisu karena orang-orang disekelilingku tak memberikan kesempatan untukku berbicara, keluarkan apa yang ingin aku katakan.
Ku kembali teringat kejadian 3 hari yang lalu, ketika ku ingin sembuhkan kebisuan yang selama ini jauhkanku dari Einstein dengan teori relativitasnya, Gottfried Wilhelm yang berhasil mengembangkan kalkulus modern dalam hal integral, dan semua tokoh-tokoh yang terlibat dalam pelajaran eksak. Karena kebisuanku ini, ku tak bisa menanyakan teori-teori mereka yang membuatku semakin tak nyaman hidup di dunia fana ini. Oleh sebab itu, ku harus sembuh. Apalagi ini adalah tahun terakhirku di sekolah dan ini berarti hanya menghitung bulan ku harus mengikuti Ujian Nasional (UN) yang keberadaannya selalu menjadi kontroversi. Ku harus mulai berani bicara menanyakan banyak hal, khususnya materi UN. Maka ku coba hari itu saat pelajaran Fisika berlangsung.
“Bu, saya mau tanya. w pada persamaan V= A.ω.cos θ didapat dari mana?” tanyaku lirih tapi masih terdengar oleh Bu Vania, guru fisika yang saat itu mengajarkan kecepatan getar sebuah gelombang.
“Anak-anak, apa penjelasan ibu tadi kurang jelas?” nada suara Bu Vania meninggi.
“Tidak, Bu!” teriak semua anak-anak yang sekelas denganku.
“Ver, itu kan mudah. Persamaan V didapat dari diferensial persamaan Y, maka dengan sendirinya akan muncul ω (baca: omega) bukan w (baca: we)!” Villa, teman sekelasku yang menjadi bintang kelas, mengajari aku yang lesu dengan nada sedikit mengejek.
“Masih ingat diferensial, kan Ver?” tanya Vauzan yang jago matematika. “Waktu kelas XI kita sudah diajari diferensial loh sama Bu Vita. Kemarin saat Pak Vedo menjelaskan integral, sempat membahas diferensial lagi!”
“Makanya Ver, waktu guru menjelaskan didengarkan, jangan diam melamun!” Venita menambahkan.
“Yah, kalaupun dulu nggak mendengarkan, harusnya sekarang ada perubahan dong!” kata Verry yang terlihat begitu rajin semenjak menjadi murid kelas XII.
“Sudah anak-anak.” Bu Vania mencoba mengendalikan suasana yang memojokkanku untuk tetap diam. “Vero, benar kata teman-teman kamu. Harusnya kamu melakukan perubahan. Kalau tidak tahu, tanya. Tanya pada saya atau tanya teman-teman kamu yang sudah pandai.”
Hatiku semakin sakit. Mulut ini semakin bungkam. “Mengapa Bu Vania marah padaku? Bukankah aku sudah melakukan perubahan dengan bertanya padanya? Apa pertanyaanku terlalu bodoh, yang tak bisa membedakan ω dengan w?” ku hanya bisa berbicara dalam hati karena pertanyaan-pertanyaan itu tak mungkin terucapkan dari mulutku yang bisu ini.
Air mataku kini mengalir lebih deras. Ingin ku menyekanya, namun ku tak bisa. Tak hanya ingatan kejadian 3 hari yang lalu yang muncul, tapi berbagai kejadian yang menyebabkan aku menjadi bisu kini kembali hadir untuk menyebutkan berbagai pihak untuk disalahkan. Aku ingat ketika ibuku memarahi aku dikarenakan aku yang saat itu di usia balita menanyakan keingintahuanku pada hal-hal yang masih baru. Aku tahu waktu itu ibu sedang penat karena kelelahan bekerja. “Jangan ganggu ibu. Ibu capek. Ibu mau tidur. Pergi sana, tanyakan saja pada ayahmu!” kata ibu waktu itu. Kata-kata yang dikeluarkannya cukup sederhana, tapi begitu menusuk bagi anak seusiaku saat itu. Lebih sedih lagi saat aku mencoba bertanya pada ayah, ayah tak menanggapi aku.
“Ayah, mengapa mobil bergerak?” tanyaku saat ku melihat sebuah mobil baru saja berhenti di depan rumahku.
“Apa kabar Vedro? Lama tak berkunjung kesini!” kata ayah pada sang pemilik mobil.
“Baik-baik!” jawab orang itu.
“Ayah? Siapa dia? Mengapa dia kemari?” tanyaku kesal karena pertanyaanku tadi belum sempat terjawab.
“Wah ini pasti adiknya Vega. Iya kan? Siapa namamu?”
“Vero.” Jawabku.
“Kak Vega kemana?”
“Ayah. Dia siapa? Mengapa mencari Kak Vega? Kak Vega mau diculik ya?”
“Hahaha... kamu ini ada-ada saja. Itu Om Vedro, teman ayah waktu SMA.”
“SMA apaan ayah?” tanyaku polos tanpa dosa.
“Sudah ya, Ayah mau ngobrol sama Om Vedro. Kamu masuk sana!”
Aku pun menuruti perintah ayah.
“Biasa anak kecil. Banyak tanya!” kata ayahku pada Om Vedro sesaat aku meninggalkan ruang tamu. Akhirnya ku memilih untuk memendam semua rasa keingintahuanku itu dalam-dalam.
Ku tersenyum saat mengingat pertama kali ku masuk sekolah. Teman baru, seragam baru, dan lingkungan baru. Semuanya begitu indah. Sepulang sekolah kami mengerjakan PR bersama dan setelah itu mencari pengalaman. Mencari ikan kecil-kecil di selokan, memetik jambu tanpa ijin, bermain karet, kelereng, semuanya indah. Namun hal itu tak berlangsung lama karena ibuku terlalu menyayangiku. Aku dilarang untuk bermain dan menganjurkan ku untuk tidur siang dengan alasan supaya malam hari mempunyai tenaga untuk belajar. Ku patuhi perintah orang tuaku itu. Ku pikir ku masih bisa bermain dengan mereka saat di sekolah. Dan ku bisa berpikir ini untuk kebaikanku. Siapa tahu aku bisa menjadi presiden karena mulai kecil sudah membiasakan diri dengan menyediakan waktu khusus untuk belajar.
Akan tetapi, kini ku merasakan dampak itu sekarang. Aku bisu. Ku tak bisa bersosialisasi bahkan dengan tetanggaku. Aku layaknya wanita yang dipingit dan tak boleh keluar rumah. Walaupun demikian keadaan sudah berbeda. Bukan orang tuaku yang tak membolehkanku pergi bermain tapi kebisuan ini yang membuatku bertahan dalam rumah. Tak seperti anak-anak lain, sepulang sekolah aku langsung pulang ke rumah. Tidur. Tak ada hasrat untuk pergi bermain atau sekedar ngobrol dengan para tetangga yang jago gossip. Toh, aku hanya bisa jadi pendengar setia.
Waktu malam hariku menjadi bertambah panjang karena tidur siang membuatku tak bisa tidur cepat di malam harinya. Namun, waktu yang panjang itu tak ku gunakan untuk belajar seperti yang ibu perintahkan ke aku. Itulah sebabnya mengapa semua teori-teori yang diajarkan para guruku tak sedikitpun meresap di otakku. Di kamar ku habiskan waktuku untuk menulis diary atau sekarang lebih dikenal sebagai ‘jurnal’ untuk usiaku sekarang ini. Ku tulis tentang kesendirianku, ketidakpunyaan sahabat karena kebisuanku, dan rasa kosong dalam jiwaku. Aku pun suka menulis cerpen berisi cerita tentang anak-anak muda yang mulai merasakan cinta monyet, putus cinta, dan semua cerita tentang hal-hal yang bertentangan dengan diriku. Berharap itu semua bisa menjadi obat atas kesendirianku.
Kini pandanganku tertuju pada sebuah almari yang penuh dengan diary. Diary yang ku beli dengan uang sakuku karena ku tak berani ungkapkan keinginanku pada orang tuaku, walau hanya sebuah diary. Diary tak penting menurut orang tuaku. Tapi bagiku diary adalah sahabat yang takkan pernah pergi dariku walau aku bisu.
$$$
Menulis memang satu-satunya cara untukku ungkapkan isi hatiku. Tak mungkin ku bicara karena pasti orang yang mendengarkan akan segera pergi sebelum ku selesai bicara. Mungkin apa yang aku katakan terlalu ‘garing’ seperti kacang, sandingan para bapak-bapak yang jaga pos ronda. Teman, yang menurut orang adalah tempat berbagi suka dan duka, tak ada di sampingku. Yang ku punya hanyalah diary dan Tuhan tempat ku mengadu.
Ketika ku mencoba mencari apa itu sahabat tak jarang hatiku sakit dibuatnya. Saat ku lempar senyum pada mereka tak banyak dari mereka yang membalas senyumku. Ku serasa seperti orang gila saat mereka tak melihatku tersenyum.
Sekarang ku benar-benar ingin berubah. Ku ingin sembuh dari kebisuan ini. Tapi bukan dengan pertanyaan bodoh sama seperti waktu pelajaran fisika kala itu. Bukan pula mengajak orang berbasa-basi dengan kegaringanku. Ku ingin orang lain yang mulai menganggapku ada, mengajariku berbicara, dan menjadikanku sahabat. Prestasi. Ya, prestasi adalah caranya.
“Hah? Prestasi? Bisa apa loe?” mungkin itulah yang akan dikatakan orang saat ku utarakan maksud hatiku.
Aku memang takkan mungkin punya prestasi seperti Vido, seorang cowok yang memikat hatiku karena beberapa kali menjuarai ajang debat bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, tapi ia sering membuatku sakit hati karena selalu mendebat setiap kata yang sedikit keluar dari mulutku yang bisu ini. Aku juga tidak mungkin punya prestasi seperti Vauzan atau Villa yang sering diikutsertakan dalam olimpiade sains. Lantas apa yang bisa jadi prestasi untukku?
Walau ku selalu merasa hidup ini tak adil, tapi ku punya Tuhan yang Maha Adil. Tuhan memberikanku cara setelah ku habiskan pagiku yang gelap untuk bersembah sujud di hadapannya. Tulisan. Ya, itulah jawaban Tuhan.
Tuhan memang selalu tahu cara untuk membagikan rezeki bagi semua ciptaanNya. Setelah kemarin memberikan jawaban berupa ‘tulisan’, aku pun mencari cara untuk mengembangkannya. Dan mungkin sudah menjadi rencana Sang Pencipta, saat aku pergi ke warnet untuk mencari beberapa bahan untuk membuat makalah ‘Mahkamah Konstitusi’ untuk mata pelajaran Sejarah, ku dengan sengaja mencari situs-situs yang mungkin bisa memberikanku cara untuk menampung semua tulisan hasil karyaku. Dan akhirnya ku temukan itu.
“Ini dia, yang mungkin bisa menjadi prestasiku. Lomba Menulis Cerpen Remaja. Well, I’ll try it.” Kataku saat itu.
Aku pun mencari semua cerpen yang pernah aku tulis. Beberapa judul cukup layak diikutsertakan menurutku. Sesekali ku buka majalah sekolah yang ku dapat 3 bulan sekali. Tujuannya satu, membandingkan cerpenku dengan cerpen yang dimuat di majalah itu. Selama ini nyaliku tak cukup berani untuk mengirimkan hasil karyaku ke majalah yang menjadi wadah kreasi bagi semua murid di sekolahku itu. Tapi kali ini nyaliku harus berani untuk mengikuti lomba ini. Ku telah muak dengan kebisuanku. Kini saatnya orang menganggapku ada.
Cerpenku memang tak bisa mendeskripsikan secara jelas setting dan para tokohnya. Ku tak bisa membuat cerpen seperti AA. Navis yang terkenal dengan cerpennya Robohnya Surau Kami. Sebuah cerpen yang dengan apiknya menggambarkan tempat dimana seorang kakek tinggal dan menghabiskan hidupnya untuk selalu beribadah kepada Tuhan. Ku juga tak pandai menggunakan ungkapan dan peribahasa di setiap cerpenku. Tak seperti cerpen Air Mata Rembulan karya Saefulloh M. Satori yang menggunakan beberapa ungkapan seperti mental tempe, keras kepala, dll. Akan tetapi aku cukup senang dengan hasil karyaku, karena semua cerpenku bisa memberikanku dunia kebahagiaan yang sepertinya takkan mungkin ku temukan di dunia nyata.
 “Tuhanku yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Selama ini aku bersabar atas kesendirianku. Mungkin ini salahku. Aku yang tak pandai bersyukur, mensyukuri semua anugerahMu, termasuk mulut ini. Mulut yang seharusnya bisa berbicara, namun menjadi bisu karena keadaan. Tak ingin ku menyalahkan mereka karena yang ku ingin mereka anggapku ada. Aku hanya ingin buktikan pada mereka walau ku kurang dalam komunikasi verbal, walau ku kurang bisa bersosialisasi dengan mereka, tapi  ku punya sedikit prestasi yang bisa dibanggakan. Semoga lomba ini bisa menjadi langkah untuk ku gapai semua impianku.”
Kini ku hanya bisa berdoa dan berharap.
tHe_EnD


2 comments:

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top