7

Butuh pendapat kalian....


Ku tatap lekat-lekat selembar kertas itu. Nampak ketakutan ketika ku baca tiap huruf dan kata yang tertera disana. Angka yang menghiasi kertas itu pun cukup menggetarkan hatiku. Ya, itu hanya selembar kertas, tapi begitu berat untuk dipertanggungjawabkan. Lembar Transkip Nilai Semester I. Ini lembar pertama yang ku dapat setelah kurang dari 6 bulan kuliah. Dan hasilnya, cukup membuat ku menitikkan air mata. Tak ku lihat satu pun huruf ‘A’. Huruf pertama dalam urutan abjad itu rasanya enggan bersarang di lembar nilaiku. ‘C’. Sejauh mata memandang hanya itu yang ku lihat. Sesekali terlihat ‘B’. Tak begitu jelas ada berapa karena mataku telah basah. Sekilas berbayang angka 2.40, bukan NIM ku, bukan pula angka favoritku yang sengaja dipampang oleh dosen di lembar nilaiku. Stop. Ini bukan saatnya untuk bercanda.
Di kegalauan itu, handphone ku berdering. Ku gerakkan kepala menengok ke arah HP yang berderingkan lagu Bondan&Fade2Black. Ku lihat layar monitor HP. Ibu sayang calling. Ku biarkan handphone itu berbunyi. Aku belum siap mental untuk menceritakan nilaiku pada ibuku di seberang sana. Apa yang akan dikatakannya ketika mengetahui anak yang ia banggakan berada di posisi pertama, dari bawah.

 
Pikiranku pun melayang jauh. Teringat apa yang telah aku lakukan selama 6 bulan sebelum hari ini. Terbayang saat ku tertidur lelap saat dosen memberikan materi dan mengisi jam kosong dengan bermain game atau sekedar ikutan ngegossip bareng temen-temen. Akhir pekanku hanya ku isi dengan mejeng tak penting di pusat-pusat perbelanjaan.
Lamunanku terhenti saat handphone ku mulai berdering kembali setelah tadi ku biarkan lama berbunyi dan berhenti sendiri. Air mataku semakin deras. Aku tak bisa membayangkan betapa kecewa ibuku saat ibu tahu semuanya. Aku bahkan ingin mengurungkan niatku untuk pulang kampung saat liburan tiba. Tapi, sepintar-pintarnya orang menyimpan bangkai, pasti nanti tercium juga. Apalagi ini ibuku. Seorang ibu pasti tahu apa yang dialami anaknya. Akhirnya ku usap pipiku yang sudah basah berlinangan air mata.  Ku siapkan suara terindah untuk bicara pada ibu. Aku harus jujur, toh ibu pasti nanti juga tahu.
“Hallo?” kataku dengan suara berat.
“Hallo.” Jawab orang di seberang sana. Deg. Bukan, itu bukan suara ibuku. Suara ibuku lembut bak angin sepoi-sepoi di siang hari yang panas. Suara siapakah ini?
“Ibumu kecelakaan, keadaannya kritis dan sekarang di rumah sakit.” Kata orang itu lagi.
“Tunggu sebentar. Ini handphone ibu saya. Anda siapa?”
“Iya. Ini aku Sandy, sepupumu. Sekarang aku menunggu ibumu yang koma.”
Handphone ku matikan. Tak kuasa aku mendengarnya. Air mata yang tadinya ku seka kini tlah mengalir kembali. Lebih deras. Kini aku hanya berpikir dan berkata dalam hati, “Apa yang harus aku lakukan? Pulang menemui ibuku yang sakit dengan membawa oleh-oleh nilai jelek?” “Tapi, aku harus pulang. Aku tak ingin siakan kesempatan liburku yang hanya seminggu. Semoga kehadiranku bisa memberikan setitik kehidupan bagi ibu. Dan semoga aku tidak ‘terlambat’ karena aku harus menempuh waktu 19 jam untuk bisa pulang ke kampung halaman.”
Dengan hati yang penuh ketakutan ku lintasi tiap-tiap stasiun yang di masing-masing kota sesak akan pelajar dan mahasiswa dengan wajah penuh rindu. Sementara aku, tertunduk lemas.
Hampir seharian aku berada di perjalanan yang panjang. Hatiku sungguh tak karuan ketika ku jejakkan kaki di kota kelahiranku. Aku langsung pergi ke rumahku di pinggiran kota, sesuai perintah bapakku lewat pesan singkat di handphoneku.
Tak ku sangka pesan bapakku memberikan sebuah isyarat. Bendera putih tlah melambai-lambai menghinaku yang ‘terlambat’. Ku menangis sejadinya-jadinya di depan tubuh yang telah terbujur kaku. Kata bapak, ibu tertabrak mobil saat pergi membelikan sesuatu untuk menyambut kepulanganku.
“Ibu, betapa durhakanya anakmu ini. Engkau tlah sia-siakan air matamu hanya untuk anakmu yang tak tahu berterima kasih ini. Sudah banyak pengorbananmu, tapi apa yang telah aku lakukan untukmu. Kuliah malas-malasan, belajar ogah-ogahan. Semuanya berlalu tanpa ada hasilnya dan di akhir hayatmu aku hanya bisa memberikan 2.40 sebagai IP pertamaku. Ibu, aku ingin berubah. Aku tak ingin jalani hidup yang hanya sekedar mengalir mengikuti arus air, karena hanya ikan matilah yang mengikuti arus air. Aku tak ingin menjadi ikan mati yang terkatung-katung tak punya tujuan akhir. Aku janji, Ibu. Aku berjanji.”
Tiba-tiba ku terbangun dari tidurku dan ku dapati mataku yang tlah basah, berlinang air mata. Dan ketika ku arahkan mataku ke jam yang menempel di dinding tak bersuara, 07.49,
“Astaga, gue telaaattttt kuliah!!!!!”

 _cerpen_yang_pernah_ditempel_di_mading_Polman_Astra_

7 comments:

  1. menurut kalian bagaimana cerpen ini??
    layak d tempel ga??
    kira2 judul na apa ya???

    ReplyDelete
  2. hahaaaa....
    gue kirain bukan mimpi.., mpe udah sedih gue bacanya mi...
    bagus..,bagus..,bagus......

    judulnya.., ikan mati....
    hahahaaa......
    *blum dapet ide mi..,jd maaf ga bisa ngasih input niih....

    ReplyDelete
  3. ikan mati??
    hahaha...
    briliant idea...tp sepertinya jauh dari isinya deh..!!
    heehehe...
    thx uda baca!!

    ReplyDelete
  4. judulnya apa ya??
    blm dapat wangsit ni..

    tak mau menjadi "ikan mati"..
    hehehe
    kereb sista :)

    sip..

    ReplyDelete
  5. gimana mi udah dapet judul yang pas blom??
    kalo AKU BUKAN 'IKAN MATI' gimana???
    hahaaaa..., tetep aja ga jauh-jauh dari ikan mati..
    heheeee......

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  7. Apapunn judulnya kalo bisa yang bikin orang penasaran :D hehhe

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top