0

Kok Bisa?

Lebaran adalah momen yang tepat untuk saling mengunjungi satu sama lain, silaturahim, dan bermaaf-maafan. Saat itulah kita biasanya akan menanyakan kabar, gimana sekolah, kuliah, dan kerjaan.

Pun demikian denganku. Mendengar kabar bahwa sekarang aku bekerja di RSUD meninggalkan ASTRA, mereka bertanya "Kok Bisa?"

Aku sendiri kurang paham 'kok bisa?' yang mereka maksud seperti apa. Mungkin;
1. Kok bisa dari Bekasi langsung kembali ke daerah asal, Purworejo?
2. Kok bisa dari Astra pindah ke RSUD, yang notabene nggak ada hubungannya sama sekali. 

Jawabannya sederhana (se-Sederhana rumah makan nasi padang), yaitu "kenapa enggak?"

Pertama, ada lowongan pekerjaan di Purworejo, aku daftar, ikuti seleksinya, diterima, kerja. Kalau ada yang berpikiran aku masuk dengan "mbayar", aku anti lah dengan cara-cara seperti itu. Uang yang aku dapatkan belum tentu lebih besar dari yang ku keluarkan. 

Kedua, selama ijasah kuliahku sesuai dengan kebutuhan formasi yang dibuka, tak ada masalah bukan?

Baca : Tak Menyesal Ambil Jurusan IT Saat Kuliah

Akan tetapi, aku menangkap hal lain ketika mereka melanjutkan percakapan dengan bertanya "Astra tidak ikatan dinas?"

Politeknik Manufaktur Astra sama seperti kampus-kampus yang lain. Ketika dinyatakan lulus dan kamu hanya berdiam diri, maka persiapkan dirimu untuk menjadi pengangguran. Hampir semua lulusan Polman Astra yang bekerja di anak perusahaan Astra masuk dengan jalur seleksi. Kalaupun masuk tanpa seleksi, itu karena sebelumnya yang bersangkutan magang di perusahaan tersebut, manajemen merasa cocok dengan kinerjanya, akhirnya direkrut. Jadi, kalau setelah lulus, menunggu penempatan kerja, maka hal itu tidak pernah terjadi.

Dan ketika kita sudah menjadi karyawan salah satu anak perusahaan Astra, maka status kita adalah SAMA dengan karyawan lain, sesuai dengan peraturan perusahaan yang berlaku. 'Kamu lulusan mana' sudah tak terlihat lagi. Tak ada ikatan apapun kecuali kontrak kerja. Setelah dinyatakan menjadi pegawai tetap, kita pun boleh mengajukan resign / pengunduran diri. Selanjutnya kerja dimana, itu sudah jadi urusan pribadi.

Dari itu semua, yang membuatku kesal adalah ketika ada yang berkomentar;
"Di Astra sudah enak, ngapain pindah kesini?"
"Astra kan gajinya gedhe, kok malah pindah sini to mbak?"

~Aah, apa cuma ibuku, orang tua yang menginginkan anaknya tinggal dekat dengan mereka, sementara orang tua lain (sepertinya) lebih bangga ketika anaknya sukses dengan berpenghasilan tinggi di luar kota yang jauh disana

~Aah, kenapa orang dengan mudah men-judge sesuatu hanya dari apa yang terlihat.

Sebenarnya, komentar mereka tak mengubah apapun, tak lantas membuatku menyesal atas keputusan yang sudah ku ambil. Dan seharusnya aku tak perlu kesal saat ada yang mengatakan hal itu. Hanya saja, rasanya DEG ketika mereka mengatakannya dengan ekspresi yang seakan berkata, "Kamu BODOH, meninggalkan Astra hanya untuk tinggal di kota kecil ini."

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top