3

Ramadhan Tahun Ini

Ramadhan tahun ini terasa sangat spesial bagiku karena sebulan penuh aku bisa menjalankan ibadah puasa bersama kedua orang tuaku, setelah enam tahun lamanya aku berpuasa di perantauan, jauh dari keluarga. Tentu ada perbedaan diantara keduanya. Enak mana? Masing-masing punya cerita tersendiri.

Awal puasa di rumah, aku merindukan puasa di perantauan. RINDU! Teramat rindu!

Sebelumnya, aku tinggal di Bekasi. Berkat seorang teman, aku menemukan sebuah keluarga yang menyewakan satu kamar kosong di rumahnya. Ya, aku tinggal disana, bersama keluarga itu, keluarga Bapak Ngadio. Karena kebaikan hati mereka, aku sudah dianggap seperti anak mereka sendiri. Perlakuan mereka kepadaku sama seperti mereka memperlakukan kelima anak mereka. Hal tersebut membuatku betah. Tak terasa tiga tahun sudah aku tinggal bersama mereka. Segala sesuatu yang terjadi disana membentuk suatu kenangan, termasuk apa yang ku makan dan apa yang ku lakukan saat Ramadhan tiba.

Aku pulang kerja pukul 16.00 WIB. Sesampainya di rumah, selalu ku dapati Ibu sedang sibuk di dapur menggoreng tahu isi dan bakwan. Ya, itu jualan Ibu dan Bapak tiap bulan Ramadhan. Sedari siang mereka sudah disibukkan dengan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat tahu isi, bakwan, dan juga arem-arem (lontong isi). Sore harinya mereka menggoreng dan menjual di warung yang mereka kelola. Ibu sibuk dengan adonan dan penggorengannya, Bapak sibuk melayani pelanggan yang datang. Aku? Aku biasanya langsung ke kamar. Tak lama kemudian keluar dan bermain dengan cucu Ibu yang masih balita. Kalau cucu Ibu sedang tidak ingin bermain denganku, aku menyapu lantai. Aku tak terlibat dalam urusan dapur, sama sekali.

Saat maghrib hampir tiba, Ibu menyiapkan gorengan yang sengaja disisakan untuk kami berbuka. Selanjutanya Ibu membuat es buah. Isinya bermacam-macam, ada jelly, agar-agar, melon, semangka, dan sebagainya. Seadanya apa, pasti dibuat es buah. Jadilah tiap hari di bulan Ramadhan di meja makan SELALU ada bakwan, tahu isi, lontong, dan es buah. Apapun menu makan malam hari itu, takjilnya selalu sama. Meski demikian, aku tetap menikmatinya.

Sebelum adzan isya berkumandang, Ibu mengajakku ke masjid terdekat untuk sholat tarawih. Kami pun berangkat berdua.

Di pertengahan bulan Ramadhan, banyak sekali undangan buka bersama, terutama dari supplier. Kami, orang-orang kantor, biasanya diajak buka bersama di restoran-restoran dekat kantor, seperti Bumbu Desa, Mang Kabayan, Bebek Kaleyo, Steak 21, Ta Wan, dan sebagainya. Terasa mewah, apalagi gratis. Yummy.
Tahun lalu buka bersama bareng supplier
Kini, setelah aku kembali ke rumah kedua orang tuaku, aku tak mendapati itu semua. Tak ada gorengan dan es buah di meja. Tak ada undangan buka bersama yang banyak dan mewah.

Di rumah, pukul 15.00 WIB aku sudah ke dapur membantu ibu memasak. Memotong-motong sayuran, menggoreng lauk, merebus air, dan sebagainya. Tak ada hidangan wajib layaknya es buah yang selalu disediakan oleh keluarga Bapak Ngadio. Keluargaku bahkan HAMPIR TIDAK PERNAH membuat es buah selama bulan puasa. Kolak pun jarang-jarang. Yang harus ada hanyalah teh manis hangat. Selebihnya, seadanya bahan di warung. Kadang membuat tempe goreng, pisang goreng, ubi dikukus, dan yang paling praktis adalah menggoreng geblek. Tanpa membuat adonan, tinggal goreng, dan siap disajikan.

Pernah makan geblek?

Geblek adalah makanan tradisional yang dibuat dari bahan tepung kanji / tepung tapioka, bawang putih, dan garam. Walaupun terbuat dari bahan yang sederhana, namun proses membuatannya membutuhkan ketelatenan yang cukup. Dalam proses pembuatannya, pertama tepung kanji kukus sampai memadat dan tidak sampai matang. Kemudian ditiriskan dan diplintir berbentuk lonjong dan dibumbui dengan garam. Lalu dikukus lagi sebentar, sekitar kurang lebih 10 menit. Kemudian ditiriskan lagi dan dibumbui dengan bawang putih yang sudah dihaluskan. Setelah itu dibentuk seperti angka delapan dan digoreng.

Nah, geblek ini cocok untuk cemal-cemil saat berbuka puasa. Tak perlu bersusah payah membuatnya karena di warung / pasar bisa ditemukan adonan yang sudah siap goreng. Hati-hati saat menggoreng geblek. Sebaiknya masukkan geblek sebelum minyak panas. Karena jika sudah panas, minyak akan ‘nyiprat’ kemana-mana.
credit
Kalau belum pernah pernah makan geblek, apalagi melihatnya, itu hal yang wajar, karena geblek ini hanya ditemukan di sekitaran Purworejo dan Kulon Progo.

Itulah ramadhanku. Jika di tahun-tahun sebelumnya aku tinggal menyantap hidangan tanpa harus terlibat urusan dapur, kini aku harus akrab dengan peralatan dapur, mengenal berbagai macam bumbu, pusing dengan menu berbuka, dan urusan dapur lainnya.

Meski demikian, rasanya sungguh sangat luar biasa ketika kita bisa menghabiskan Ramadhan dengan keluarga, khususnya kedua orang tua. Walaupun harus bantu-bantu di dapur, bau bawang, gosok panci, semuanya terasa menyenangkan.

3 comments:

  1. JAdi dimanapun menjalankan ibadah ramadannya selalu ada cerita dan keasikan sendiri, ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yak betul. selama kita menikmatinya, pasti akan ada cerita yang menyenangkan :)

      Delete
  2. semangat yaaa menjalankan ibadah puasanya, dimanapun itu pasti ada ceritanya sendiri. dan selalu bersyukur masih bisa kumpul dengan orang tua dan keluarga.. terimakasih ya sudah ikut berpartisipasi mengikuti GiveAway aku..

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top