0

Dijodohkan

Konsekuensi menjadi single adalah siap untuk dijodoh-jodohkan dengan mereka yang single pula. Entah itu hanya untuk bahan bercandaan atau memang berniat untuk menjodohkannya. 

Bagaimana denganku? Sejak kuliah, kerja, hingga sekarang di kerjaan baru, aku pun dijadikan sasaran empuk untuk dijodoh-jodohkan. 

Huft. Belum genap dua bulan, kok ya sudah kena. Tapi waktu itu ada rasa geli yang kalau ku ingat rasanya membuatku ingin tertawa.

Kami guyon seperti biasa, hingga akhirnya momen jodoh-jodohan datang. "Itu sama Mia aja."

Dan tiba-tiba ada yang komentar,"Weh, jangan dulu, SIMRS harus launching tahun ini."

"Areh? Serius banget Pak nanggepinnya!" batinku.

Jadi, sama halnya dengan di swasta, disini juga tidak diperbolehkan menikah jika dua orang berada di bagian yang sama. Boleh, tetapi salah satu harus dimutasi ke bagian yang membutuhkan. Jika tidak ada yang butuh, berarti salah satu harus resign.

Nah, Bapak yang tadi berkomentar, merasa takut jika acara jodoh-jodohan tadi berujung pada pernikahan, yang berarti dia akan kehilangan salah satu anggota timnya untuk mengerjakan SIMRS, padahal dia punya target tahun ini harus launching SIMRS tersebut.

Ya ampun, jauh sekali mikirnya ya. He he.

Soal jodoh-jodohan ini biasanya aku tidak berjodoh. Aku tidak suka dijadikan pusat perhatian. Jadi ketika aku dijodoh-jodohkan, terutama di depan publik, aku justru akan menghindar dari orang yang dijodohkan denganku tersebut. Meski aku bilang "abaikan saja", nyatanya itu justru merenggangkan hubunganku dengan orang tersebut. Cemen ya, biarinlah, kan enggak semua orang harus sama.

So, please stop it! If you are really care to me, bring him just in front of me, not in front of public --ngomong apa sih ini >.<

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top