0

[Review] Zannen na Otto - Disappointing Husband

Belakangan ini aku tak sedang ingin menonton film. Namun, berhubung akhir pekan terasa membosankan, aku membuka koleksi film yang ku punya. Ada drama berjudul "Zannen na Otto" yang sudah komplit ku download tapi belum ditonton. Awalnya tak menarik (mungkin karena memang sedang tidak mood untuk menonton), namun lama-kelamaan seru juga ceritanya.

Drama ini menceritakan kehidupan sepasang suami - istri dengan satu anak yang baru berusia 6 bulan. Adalah Yoichi Haruno (diperankan oleh Hiroshi Tamaki), pekerja kantoran berusia 35 tahun dan istrinya yang bernama Chisato, 28 tahun. Sebelum memiliki anak, kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja. Akan tetapi, setelah mereka dikaruniai seorang anak bernama Hana-chan, hubungan mereka mulai berubah. Yoichi merasa Chisato begitu dingin terhadapnya, tetapi dia tidak tahu mengapa.
Cover
Setelah curhat ke rekan kerjanya, Yoichi beranggapan bahwa Chisato sedang mengalami postpartum, yaitu depresi yang dialami oleh seorang ibu setelah melahirkan, ditandai dengan gejala seperti mudah marah, cepat lelah, tidak menikmati hidup, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, Chisato sebenarnya hanya ingin Yoichi ikut serta dalam mengurus anaknya. Karena selama 6 bulan sejak Hana lahir, Chisato yang mengurus segalanya. Yoichi justru masih terobsesi dengan hobinya, basket. Di saat Chisato berpikir keras bagaimana mengurus keuangan rumah tangganya, Yoichi masih saja membeli barang-barang tak penting seperti seragam basket, stiker pemain basket dunia, dan sebagainya. Chisato merasa lelah.

***

Drama ini cocok ditonton untuk kita-kita yang berusia 20-an atau bagi mereka yang sedang memulai kehidupan berumah tangga atau papa-mama baru yang punya anak di usia balita. Setiap potongan kisahnya benar-benar menggambarkan kehidupan kita sehari-hari, seorang ayah yang bekerja mencari nafkah dan seorang ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan anak.

Menjadi ibu adalah suatu hal yang sangat luar biasa, apalagi ibu rumah tangga. Pekerjaan satu sudah selesai, pekerjaan lain menanti. Terkadang merasa bosan karena hanya di rumah dan sesekali keluar hanya untuk berbelanja kebutuhan dapur dan anak. Akan tetapi, saat kembali ke dunia kerja, dia tak akan bisa konsentrasi karena selalu memikirkan anaknya.

Di drama ini juga digambarkan bahwa seorang ibu membutuhkan "me time". Sekali-kali dia ingin merasakan bebasnya hang-out bersama teman-temannya, pergi ke salon, tanpa harus kepikiran soal anaknya. Biar hanya sehari itu rasanya menyenangkan sekali. 

Akan tetapi, bagi seorang ayah, terkadang hanya memikirkan bagaimana mencari uang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Urusan anak adalah tugas istri. Sang suami sering kali lupa bahwa membesarkan anak bukan hanya tugas istri seorang, tapi orang tua, ayah dan ibu.

Beberapa adegan di drama ini membuatku menitikkan air mata. Alasannya ya itu... berat sekali tugas seorang istri untuk mengurus anak tanpa dukungan suami. Suami tidak pernah membantu menggantikan popok, memandikannya, bahkan tidak bisa diajak gantian begadang. Lelah.

***

Dengan menonton drama ini, aku makin suka mengikuti dorama Jepang. Ide ceritanya ringan tapi ngena. Tak seperti sinetron Indonesia yang ujungnya entah kemana, mengikuti rating penontonnya. Hihihi.

Happy watching :)

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top