2

Karena Hobi

"Itu menjawab pertanyaan lo, Mia." kata dia menjelaskan.

Aku kembali teringat pada salah satu postinganku di Instagram beberapa waktu yang lalu.
IG : zaitunhakimiah
Dan yang mengherankan, mengapa para cowok mengajak/mengijinkan temen ceweknya ikut dalam rombongan mereka?
.
.
Padahal cewek bisanya cuma nyusahin:
- dikit" ngeluh capek 😩
- dikit" minta minum 😰
- dikit" bilang laper 😣
- dikit" minta difotoin 😎
.
.
Belum lagi semua peralatan mulai tenda, nesting, logistik, alat makan, semua dibawa cowok. Cewek tinggal bawa peralatan pribadi mereka.
.
.
Saat bongkar pasang tenda pun, cowok yang bekerja. Cewek hanya tinggal diam memperhatikan (bahkan ditinggal foto-foto 😝😝)
.
.
Jika udara dingin, cewek" tinggal sembunyi dibalik tenda, sementara para cowok sibuk bikin kopi, susu, dan masak 😂😂😂 Masakan siap, para wanita dipanggil untuk mencicipi hidangan yang disajikan.
.
.
Dan salut banget saat lihat cowok sedang membersihkan tenda. Itu tenda punya dia, dia yang bawa ke puncak, pas di puncak dia yang bangun tendanya, tenda sudah siap ternyata dipake cewek. Giliran tendanya kotor, dia juga yang bersihin 😂😂😂
.
.
Kira-kira para cowok itu menyesal tidak ya ngajak temen-temennya yang cewek ikut naik gunung bersama mereka? 😁😂😁

Dia adalah @lupitadevi, orang yang memberikan jawaban atas pertanyaanku. Dia cantik meski kelihatannya agak tomboy. Dia suka naik gunung, perlengkapannya pun bisa dibilang sangat lengkap. Dia punya sepatu gunung, tas ransel 20L, 40L, 60L, sleeping bag, tenda, nesting, dan semuanya.

Berbeda denganku yang jika naik gunung hanya sebagai penonton setia, melihat dengan seksama para pria bekerja, Kadep (begitu aku memanggilnya) terbiasa melakukan apa yang dilakukan pria-pria itu. Mulai dari membawa peralatan, mendirikan tenda, memasak, semuanya bisa dia kerjakan.

Kadep menceritakan pengalamannya naik gunung bersama temannya yang model-modelnya mirip denganku. Cepat merasa lelah padahal tas isinya hanya perlengkapan pribadi, hanya bisa memasak air dan membuat kopi yang ternyata encer karena kebanyakan air. Benar-benar tak bisa diharapkan. Tapi Kadep tidak merasa terbebani akan kehadiran temannya itu. Meskipun dia yang mendirikan tenda untuk temannya, meskipun dia yang memasakkan nasi untuk temannya. Mengapa?

"Rasanya senang ketika lo bisa ngajak temen-temen lo masuk ke dalam hobi lo." begitu kata Kadep.

Aku mengiyakan pernyataan itu tanpa banyak tanya. Ku rasa pernyataan itu benar adanya. Mungkin senang yang dirasakan Kadep itu mirip ketika ada yang tertarik pada blogku dan kemudian minta diajari untuk membuat blog. Mungkin levelnya beda karena naik gunung merupakan kegiatan yang menggunakan fisik, sementara ngeblog hanya butuh imajinasi dan kreativitas untuk menghasilkan sebuah tulisan. Tapi keduanya sama-sama hobi bukan? Dan bukankah menyenangkan ketika temanmu tertarik dengan hobi yang kamu punya?

2 comments:

  1. lebih menyenangkan lagi ketika melihat teman senang jadi capeknya serasa hilang hihi .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gitu ya Mas?
      Anak gunung emang baik2 ya (y)
      hihihi

      Delete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top