0

Gn. Gede The Series - Turun I

<< Cerita sebelumnya

27 Desember 2016
Seharusnya pagi ini aku masuk kerja karena aku sudah mengatakan bahwa aku tak akan mengambil cuti sampai akhir tahun. Tapi sudahlah, pada kenyataannya semalam aku tidur di dalam tenda dengan kedinginan. Seharusnya pagi ini aku melihat sunrise yang indah di Surya Kencana. Sayangnya itu hanya sebatas rencana.

Saat aku membuka mata, ku dengar rintikan hujan di luar sana. Sudah pasti sunrise tidak akan terlihat dari sudut manapun. Akhirnya aku tidur lagi.

Sekitar pukul 07.00 WIB suasana mulai riuh. Para pria-pria di luar sana mulai membangunkan kami yang belum bangun. Tubuh kami sudah menyatu dengan sleeping bag dan tak bisa terpisahkan. Tapi kami harus segera bangun. Hujan di luar sana sudah reda.

Satu per satu dari kami sudah keluar tenda. Ku lihat para pria sedang sibuk dengan nesting di hadapan mereka. Menu sarapan kita pagi ini adalah bubur kacang hijau dan spagheti. Kebayang nggak sih masak bubur kacang hijau di atas gunung? Rombongan ini benar-benar luar biasa.

Selesai makan, kami para ladies kembali masuk ke tenda. Kami berganti pakaian dan dandan cantik karena sesi pemotretan akan segera dimulai. Sebenarnya udaranya sangat sangat dingin. Tapi jika tidak dipaksa, tubuh tidak akan bisa menyesuaikan diri.

Kami bertiga keluar dari arena perkemahan, meninggalkan para pria dengan aktivitas bersih-bersihnya. Kami akan berfoto dengan bunga edelweis di alun-alun Surya Kencana.

Ku lihat sekeliling, tak banyak tenda yang berdiri. Kemungkinan karena mereka sudah turun gunung. Saat itu memang sudah jam 09.00 lebih.
pulang lewat mana?
Di alun-alun Surya Kencana terdapat petunjuk arah untuk pulang. Ada 3 jalur;
- Gunung Putri 6 km
- Cibodas 12 km
- Salabintana 14 kam

Jadi, perjalanan 7 jam kemarin itu benar-benar hanya menempuh 6 km saja? Dan nanti kami akan turun via Cibodas yang jaraknya 12 km. Kira-kira butuh waktu berapa jam ya?

Semakin lama udara semakin dingin. Kabut makin tebal. Angin berhembus kencang dengan membawa air. Pakaian kami nyaris lembab basah.
tertiup angin
Seperti tujuan awal, kami mencari ladang edelweis. Kalau boleh jujur, edelweis di Tegal Alun, Gn. Papandayan jauh lebih banyak dan lebih indah dibanding di Surya Kencana. Tapi itu sebelum Tegal Alun mengalami kebakaran. Entah bagaimana kondisinya sekarang ini.

Edelweis di Surya Kencana tak terlalu banyak yang berbunga. Kebanyakan sudah kering. Tapi tetap saja rasanya senang sekali menemukan bunga abadi yang hanya bisa ditemukan di ketinggian tertentu.
kamu? siapa?
Sedang asyik berfoto, Bule menyusul kami, memberitahu agar segera kembali ke tenda untuk packing pulang. 

Sesampainya di tenda, belum semua tenda dibongkar. Hanya saja isi dari tenda wanita sudah dipindahkan ke tenda lain. Kami mulai mengepak barang-barang kami. Setelah safety, kami keluar tenda dan tinggal melihat bagaimana para pria itu membereskan semuanya.

Pukul 13.00 WIB semuanya beres. Kami akan berjalan menuju puncak Gunung Gede dan lanjut turun gunung via Cibodas.
all member bersiap menuju puncak
Berbeda dengan sebelumnya, tubuhku kini bisa diajak kerjasama. Mungkin karena sudah menemukan ritmenya, aku tak terlalu banyak berhenti. Setapak demi setapak ku daki jalanan menanjak. Aku memimpin di depan bersama Bang Otnay, di belakangku ada Anggun dan Amel. Sedangkan yang lain di belakang kami tak terlalu terlihat.
partner in crime
Tetiba terdengar teriakan dari belakang, menghentikan langkah kaki, menyuruh kami berhenti sebentar. Ada yang meminta c*unterpain yang ku bawa. Rupanya Acil mengalami cedera. Entah apa yang terjadi, mungkin keseleo atau apa, aku kurang tahu.
Acil keseleo
Kami memperlambat langkah kami, tapi tak menyurutkan semangat kami untuk segera sampai di puncak tertinggi Gunung Gede.
Puncak Gn. Gede 2958 mdpl
Di puncak kami kembali membuka perbekalan. Beberapa buah apel dan pir lumayan menyegarkan tubuh kami. Sepotong roti tawar dengan susu kental manis pun lumayan mengisi perut dan menambah tenaga kami.
wefie di puncak
Sekitar pukul 16.00 WIB kami bersiap untuk turun gunung. 'Sampai rumah jam berapa?' pertanyaan itu sangat mengganggu pikiranku. Pasalnya aku ijin dengan orang rumah hanya sampai tanggal 27. Jika harus menambah hari, bagaimana aku menghubunginya. Sinyal handphone sudah bisa dipastikan tidak ada. Mungkin saja mereka akan khawatir dan membayangkan hal buruk terjadi. Tapi bismillah saja lah, semoga kami sampai rumah tepat waktu.
turun dari puncak
Kali ini Bang Otnay memimpin di depan. Dia membawa 2 tas, satu miliknya dan satu lagi milik Acil. Kami semua tak sanggup melihat Acil dengan kaki seperti itu, harus membawa tasnya yang lumayan berat. 

Di belakang Bang Otnay ada aku, Anggun, dan Amel. Di belakangnya lagi ada Acil dan Banjar. Sisanya belum terlihat. 

Di perjalanan turun, Banjar menanyakan kepada kami apakah besok kami masuk kerja atau tidak? Aku dan Anggun sepakat bahwa besok kami harus masuk karena hari ini aja sudah ambil cuti dadakan. Sementara itu Bang Otnay meski pagi tak tahu ada aktivitas apa, tapi malamnya dia harus mengejar kereta ke Semarang.

Kenapa? Mungkinkah malam ini kami harus mendirikan tenda lagi?

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top