2

Dia yang Pandai Bercerita

Beberapa waktu yang lalu aku mengaguminya. Dia sungguh hebat luar biasa. Aku sangat iri karena aku tak bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan.

Aku tak perlu menyebut namanya. Yang jelas, aku dan dia sangat berbeda. Saking sedihnya aku karena tak bisa menyamainya, terkadang aku berpikir 'Mengapa Tuhan menciptakanku seperti ini?'

Bermula ketika dia mengangkat telepon dari seseorang. Dia bercerita panjang lebar dengan orang yang ada di seberang sana. Dia seakan tak kehabisan ide akan menceritakan apa saja ke orang tersebut.
5

5 Lagu GReeeeN Favorit

Tahun sudah berganti, namun playlist music di handphoneku masih sama. Aku masih menyukai GReeeeN, vocal grup asal Jepang yang beranggotakan 4 orang, yang juga berprofesi sebagai dokter gigi. Agar tidak mengganggu aktivitas mereka sebagai dokter, mereka pun menyembunyikan identitas mereka dengan tidak tampil di media apapun. Meski demikian, GReeeeN tetap diidolakan para penggemarnya (salah satunya aku) karena lagu-lagu mereka yang memang enak tuk didengar. 

GReeeeN sudah memulai debut mereka di tahun 2007 dan dari sekian banyak lagu mereka, inilah 5 lagu yang menjadi favoritku saat ini:

1. Akatsuki no Kimi ni (Kau Di Saat Fajar)


0

[Review] Kyaria〜Okiteyaburi no Keisatsu Shocho - Career~ Offbeat Chief Police

Pagi ini suasana hatiku sedang baik meski di luar sana langit sedang mendung. Penyebabnya sederhana, aku menemukan versi lengkap lagu Akatsuki no Kimi ni -GReeeeN. Hihihi.

Lagu ini menjadi alasan kenapa aku menonton drama berjudul "Kyaria〜Okiteyaburi no Keisatsu Shocho" yang diperankan oleh Hiroshi Tamaki. Sudah lama aku tak mendengarkan lagu baru dari GReeeeN dan bulan Oktober lalu dia meluncurkan single yang dijadikan OST dari drama tersebut. Selama drama itu ditayangkan, lagu tersebut belum bisa didengar seutuhnya (full version).
0

Pengalaman Pasang Iklan di OLX

Beberapa waktu yang lalu aku mendapatkan hadiah MacBook di acara Employee Day. Sedari awal aku memutuskan untuk menjualnya, untuk itu aku sengaja tak membukanya. Aku membuka kemasan luarnya saja hanya untuk melihat seberapa tipis MacBook itu dan seperangkat isinya apa saja. Aku tak menyalakannya karena takut harganya jatuh jika pernah dipakai. Lagipula aku bukan tipe orang yang terobsesi dengan barang-barang mewah, sehingga aku tak penasaran bagaimana isi dari si Mac.

Bulan November aku mencoba menjual MacBook yang aku punya di aplikasi OLX dengan memasang harga 11,5juta, asumsiku si Mac bisa terjual dengan harga 10jt. Tak lama dari pasang iklan, banyak yang menghubungiku untuk melakukan penawaran. Sayangnya, harga dari mereka tak memenuhi ekspektasiku. Ada yang bersedia bayar 10jt, tapi nggak jelas. Dia dari Tasikmalaya, minta ketemuan di Jakarta Pusat karena kebetulan dia akan pergi ke Jakarta. Eh, nggak tahunya dia malah ke Yogyakarta. Ya sudahlah, mungkin memang belum jodoh. Ada juga yang nawar 9jt, COD di Bogor. Duh jauh, lagipula aku belum rela lepas di angka 9, bagaimanapun juga aku baru memilikinya dan belum pernah ku nyalakan. Semakin kesini, masih ada yang menawar namun harganya begitu jauh, 7jt dengan alasan kantong pelajar.

Pada akhirnya, aku menonaktifkan iklanku di OLX. Lelah, tak ada yang sesuai dengan keinginanku. MacBook aku biarkan 'lumutan' di lemari.
0

[Review] Zannen na Otto - Disappointing Husband

Belakangan ini aku tak sedang ingin menonton film. Namun, berhubung akhir pekan terasa membosankan, aku membuka koleksi film yang ku punya. Ada drama berjudul "Zannen na Otto" yang sudah komplit ku download tapi belum ditonton. Awalnya tak menarik (mungkin karena memang sedang tidak mood untuk menonton), namun lama-kelamaan seru juga ceritanya.

Drama ini menceritakan kehidupan sepasang suami - istri dengan satu anak yang baru berusia 6 bulan. Adalah Yoichi Haruno (diperankan oleh Hiroshi Tamaki), pekerja kantoran berusia 35 tahun dan istrinya yang bernama Chisato, 28 tahun. Sebelum memiliki anak, kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja. Akan tetapi, setelah mereka dikaruniai seorang anak bernama Hana-chan, hubungan mereka mulai berubah. Yoichi merasa Chisato begitu dingin terhadapnya, tetapi dia tidak tahu mengapa.
Cover
0

Rumah Tanpa Ibu

Aku tinggal di rumah sebuah keluarga yang menyewakan satu kamar kosong untukku. Segala kebutuhanku terpenuhi disini, termasuk makan malam. Ibu kos selalu memasak untuk keluarganya dan juga untukku. Sering kali dia iseng untuk membuat makanan kecil seperti puding, donat, singkong coklat, dan semacamnya.

Akan tetapi, sudah seminggu ini Ibu kos tidak berada di rumah. Sejak Minggu tanggal 15 Januari, Ibu dan Bapak berada di Tangerang, menemani anak pertamanya yang sedang lahiran putra ketiganya. Jadilah aku seorang diri di rumah dan menyiapkan segalanya termasuk makan untuk diriku sendiri.

Minggu, 15 Jan - Aku tidak makan. Aku baru sampai rumah sekitar pukul 22.00 WIB sepulang dari Semarang.

Senin, 16 Jan - Aku membuat martabak mie (Bapak dan Ibu selalu meninggalkan persediaan mie instant dan telur jika meninggalkan rumah untuk beberapa hari).
0

One Day Trip in Semarang

Aku kembali mendapat kesempatan untuk berkeliling Semarang. Tempat-tempat yang terkenal di Semarang seperti Lawang Sewu dan Sam Poo Kong sudah pernah aku singgahi. Kali ini, aku punya waktu dua hari di Semarang setelah pulang kondangan dari Pati

Hari pertama, full mengunjungi beberapa tempat di Semarang selatan. Aku merangkumnya ke dalam One Day Trip in Semarang, tapi start Semarang, finish Semarang ya dan menggunakan kendaraan pribadi.

Aku bersama keempat temanku menyewa satu buah mobil untuk trip tersebut dan berikut beberapa tempat yang kami kunjungi dalam waktu satu hari.

Benteng Pendem Ambarawa atau Benteng Ford William I

Lokasi Benteng Pendem ini dekat dengan museum Kereta Api, atau dibelakang RSUD Ambarawa dan berada di Kompleks Lapas Kelas II Ambarawa.
4

Pernikahanmu di Pati

Ini kali kedua aku datang ke rumahmu. Tapi, berbeda dengan sebelumnya, aku kesana tak bersamamu. Aku datang bersama rombongan lain untuk menemuimu, mendoakan yang terbaik di hari pernikahanmu.

Pati. Itulah kota dimana kamu tinggal dan disanalah perhelatan akbar diadakan. Meski sudah diinfokan jauh-jauh hari kapan hari H itu akan datang, merencanakan perjalanan ke Pati adalah sesuatu yang ribet di sepanjang tahun ini. Mungkin karena aku terbiasa duet maut denganmu saat akan mengadakan perjalanan. Tapi sekarang giliranmu yang kami kunjungi. Aku harus mengatur perjalanan ini tanpamu. Meskipun pada akhirnya kau juga ikut ribet membantuku.

Banyak yang ingin hadir di pesta perkawinanmu dan banyak pula opsi yang bisa diambil untuk menuju Pati.
1. Sewa mobil dari Jakarta langsung menuju Pati
2. Naik bus dari Jakarta langsung menuju Pati
3. Naik kereta turun di Semarang, menuju Pati menggunakan bus umum atau sewa mobil
4. Naik pesawat turun di Semarang, menuju Pati menggunakan bus umum atau sewa mobil
2

Karena Hobi

"Itu menjawab pertanyaan lo, Mia." kata dia menjelaskan.

Aku kembali teringat pada salah satu postinganku di Instagram beberapa waktu yang lalu.
IG : zaitunhakimiah
Dan yang mengherankan, mengapa para cowok mengajak/mengijinkan temen ceweknya ikut dalam rombongan mereka?
0

Pelanggaran

Sudah baca Gn. Gede The Series? Pengalaman panjangku saat naik Gunung Gede. Di perjalanan itu aku telah melakukan dua pelanggaran. Pelanggaran yang ku maksud adalah melakukan sesuatu yang sedari awal aku tak menyukainya dan tak ingin aku lakukan. Tapi berhubung tak ada pilihan lain, maka mau tak mau aku harus melakukannya.

Apakah dua pelanggaran itu?

1. Pergi ke Puncak Naik Motor
Dulu saat kuliah, salah satu agenda tahunan yang biasa diadakan adalah acara Makrab (Malam Keakraban). Di tingkat II (tahun kedua kuliah), kami selalu mendapat tugas menjadi panita makrab. Salah satu bagian dari kepanitaan adalah surveyor yang bertugas mencari tempat dan memastikan tempat itu nyaman dan pas untuk kami mengadakan makrab. Biasanya, tempat yang sering digunakan makrab adalah salah satu villa di Puncak Bogor.
2

Gn. Gede The Series - Turun II

<< Cerita sebelumnya

Jalanan dari Kandang Badak menuju Cibodas kebanyakan bebatuan. Kami tak bisa lagi berpegangan pada ranting di sisi kanan dan kiri jalan. Meski demikian, kami harus tetap berjalan cepat. Aku tak ingin menambah hari lagi. Sore ini kami harus kembali ke Jakarta. 

Dengan di dampingi Bang Irul, kami para wanita berjalan di barisan depan. Sisanya di belakang dan akan bertemu di pos pemberhentian. Namun, hingga pos Kandang Batu kami belum berkumpul semua. Bahkan setelah kami tinggal untuk foto-foto pun, keempat orang yang lain belum terlihat.
Kandang Batu
Baiklah, kami tetap melanjutkan perjalanan. Nanti juga pasti bertemu kembali.
0

Gn. Gede The Series - Bermalam II

<< Cerita sebelumnya

"Kalau pas turun, kakinya jangan nahan. Lemesin aja. Ngerem pake tangan, pegangan ranting-ranting pohon." Entah kapan dia masuk ke barisan kami, tetiba Bang Irul memberikan petuahnya. "Tongkatnya buang aja itu." katanya padaku yang masih memegang tongkat sejak berangkat dari Surya Kencana.

Aku tidak mematuhi sarannya hingga aku bertemu pada turunan yang tidak memungkinkan aku memegang tongkat. Yasudahlah.

"Bang, kalau turun sampai Cibodas kira-kira berapa jam?"
"Normalnya sih 4 - 5 jam."

Aku mulai berhitung. Jika tadi dari puncak pukul 16.00 WIB, maka paling cepat sampai Cibodas pukul 20.00 WIB. Perjalanan Cibodas - Jakarta membutuhkan waktu 4 jam, berarti sampai rumah Bule pukul 24.00 WIB. Selanjutnya Jakarta - Bekasi memakan waktu 1 jam, sampai rumah berarti pukul 01.00 WIB di tanggal 28 Desember. Wow.
0

Gn. Gede The Series - Turun I

<< Cerita sebelumnya

27 Desember 2016
Seharusnya pagi ini aku masuk kerja karena aku sudah mengatakan bahwa aku tak akan mengambil cuti sampai akhir tahun. Tapi sudahlah, pada kenyataannya semalam aku tidur di dalam tenda dengan kedinginan. Seharusnya pagi ini aku melihat sunrise yang indah di Surya Kencana. Sayangnya itu hanya sebatas rencana.

Saat aku membuka mata, ku dengar rintikan hujan di luar sana. Sudah pasti sunrise tidak akan terlihat dari sudut manapun. Akhirnya aku tidur lagi.

Sekitar pukul 07.00 WIB suasana mulai riuh. Para pria-pria di luar sana mulai membangunkan kami yang belum bangun. Tubuh kami sudah menyatu dengan sleeping bag dan tak bisa terpisahkan. Tapi kami harus segera bangun. Hujan di luar sana sudah reda.

Satu per satu dari kami sudah keluar tenda. Ku lihat para pria sedang sibuk dengan nesting di hadapan mereka. Menu sarapan kita pagi ini adalah bubur kacang hijau dan spagheti. Kebayang nggak sih masak bubur kacang hijau di atas gunung? Rombongan ini benar-benar luar biasa.
0

Gn. Gede The Series - Bermalam I


Tujuh dari sepuluh orang sudah di Surya Kencana. Setelah leyeh-leyeh, selonjoran, dan foto-foto sampai puas, tiga orang yang dibelakang pun belum nampak juga.
7 orang di SurKen
Karena hari yang semakin sore, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kembali meninggalkan tiga orang dibelakang. Di Surya Kencana, dari tempat pertama kami temui hingga tempat mendirikan dibutuhkan perjalanan sekitar 45 menit. 
0

Gn. Gede The Series - Pendakian

<< Cerita sebelumnya

Kami bersepuluh berjalan beriringan. Tidak ada yang di ujung depan dan tidak ada yang tertinggal di belakang. Tak lupa kami berfoto bersama untuk menambah semangat.
full team
Perjalanan berlanjut. Barisan kami mulai berarakan. Di posisi depan ada Acil yang meski berjalan santai tapi konsisten, tak banyak berhenti. Disusul Amel yang penuh semangat. Meski ini pengalaman pertamanya, namun dia sangat kuat dan tidak terlihat kelelahan. Mungkin karena dulu dia anggota cheerleader saat SMA sehingga badannya sudah terbiasa. Di belakangnya ada aku dan Anggun yang jaraknya cukup jauh dari Acil dan Amel. Kami berdua sama, tiap jalan 5 langkah berhenti untuk ambil nafas. Tiap ada tanjakan selalu menghela nafas. Capek.
0

Gn. Gede The Series - Pemeriksaan SIMAKSI

<< Cerita sebelumnya

26 Desember 2016
Angkot yang membawa kami berjalan dengan lancar. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk menuju basecamp Gunung Putri. Kami sempat berhenti di pasar untuk membeli sayuran seperti bayam, kacang panjang, dan tauge.

Sesampainya di basecamp, kami mulai mempersiapkan diri, mengecek kembali segala perlengkapan. Yang ingin ke toilet, segera ke toilet. 

Sekilas aku melihat papan informasi, pendakian Gn. Gede via Gn. Putri hanya berjarak 6 km. Sekali lagi aku merasakan keraguan; bisakah aku sampai puncak? bagaimana jika keraguan ini justru membuatku celaka? tapi aku bisa apa sekarang? kembali ke Jakarta?

Setelah semua orang siap, dari basecamp kami menuju pos pemeriksaan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi). Pos ini tidak terlalu jauh dari basecamp tapi cukup membuatku kelelahan dan detak jantung mulai meningkat.
0

Gn. Gede The Series - Persiapan

<< Cerita sebelumnya

25 Desember 2016
Pukul 11.30 WIB aku berangkat menuju rumah Anggun. Disana Anggun sudah mempersiapkan semuanya, termasuk sleeping bag untukku. 

Sekitar pukul 12.00 WIB aku dan Anggun dengan mengendarai motor, berangkat menuju Cempaka Putih, rumah sepupu Anggun. Sesampainya disana, tak terlihat seorang pun. Tak nampak pula perlengkapan naik gunung. Kemanakah orang-orang? Bukannya kumpul jam 13.00 ?

Tak lama kemudian, datang Bule dan Amel, kakak beradik yang menjadi sepupunya Anggun. Mereka pulang dari mencari sandal gunung untuk Amel. 

Setelah berkenalan dengan kakak beradik itu, Amel menyiapkan tas dan peralatan yang akan dibawanya. Sementara itu, Bule justru pergi dengan Anggun. Aku ditinggal di kamar Amel bersama Amel yang bingung memilih baju yang akan dikenakannya.
0

Gn. Gede The Series - Rencana

24 Desember 2016
"Aku kira kamu pulang kampung!"
"Enggak." jawabku.
"Yaudah, ikut naik gunung aja yuk!"
"Naik gunung? Gunung apa?"
"Iya. Gunung Gede."
"Kapan?"
"Besok."
"HAAAA?? BESSOOOKKK!!!"
"Hahaha. Iya besok, tanggal 25 - 27. Nanti tanggal 27 kita cuti kerja."
"Heee... Sama siapa aja?"
"Sepupuku sama temen-temen Mapala-nya. Aku nemenin sepupuku soalnya dia cewek sendiri. Ayo ikut aja!"
"Tapi aku nggak ada persiapan apa-apa."
"Sama. Aku juga. Sepupuku yang cewek ini juga belum pernah naik gunung kok."
"Aku nggak ada sleeping bag."
"Ntar aku cari pinjeman."
Powered by Blogger.
Back to Top