0

Alergi

"Sekarang ini banyak lho dek, alergi karena stress." Kata Mbak Anie mengawali percakapan pagi ini.
"Kemaren pas antri kan aku ngobrol sama pasien laen. Dia itu nyeritain, katanya alergi karena makan makanan India. Padahal biasanya makan di tempat itu biasa aja. Tapi kemarin badannya gatal-gatal. Bentol-bentol gedhe, terus apasih, gremet-gremet gitu. Itu katanya bisa parah karena dipicu oleh stress, banyak pikiran." Mbak Anie yang kemaren sore baru berobat ke dokter kulit, menceritakan detail apa yang dialami oleh 'teman baru' nya.

Aku seketika berpikir, mungkinkah aku juga stress?

Jumat, 28 Oktober, saat aku menghadap ke komputer kerjaku, tiba-tiba sebuah pop-up messager muncul, dari Sungjoy, nama samaran Mbak Pudji.
"Adek kenapa? Kok kelihatan sedih gitu?"

Aku pun menceritakan ke Mbak Pudji kalau aku gatal-gatal di pergelangan tangan dan kaki. Mbak Pudji pun ke tempat dudukku, melihat kondisiku. "Alergi itu Dek. Periksa ke dokter aja Dek. Aku kayaknya juga mau ke dokter nih?"
"Lho embak kenapa?"
"Kakiku kan gatel, aku obatin, malah jadi basah gitu. Serem deh pkoknya."

Hari itu aku memang sudah memutuskan, jika sampai malam aku masih gatal-gatal, besoknya aku akan ke dokter. Aku juga sudah cek jadwal dokter di rumah sakit yang di-cover perusahaan.

Pagi harinya, saat aku belum sepenuhnya terbangun dari tidur, ku lihat hapeku, ada pesan dari Mbak Pudji. Dia bertanya apakah aku jadi ke dokter atau tidak. Rupanya dia juga ingin ke dokter yang sama di hari itu. Akhirnya kami pun janjian untuk ketemuan di rumah sakit.

Setelah mengurus administrasi pendaftaran, kami langsung menuju Poli Kulit & Kelamin. Hanya ada 2 pasien hari itu, Mbak Pudji dan aku. 

Namaku dipanggil, aku langsung masuk ke ruangan dan bertemu dokter. Ku perlihatkan tanganku yang merah-merah.
Gatal di pergelangan tangan

"Kamu habis ganti sabun? Ganti lotion?"
"Saya ganti detergent, tapi nggak kenapa-napa Dok."
"Kamu habis makan ikan? Udang? Kerang?"
"Enggak."
"Terakhir makan apa sebelum gatal-gatal ini?"
"Apa karena habis makan basreng ya Dok?"
"Apa itu?"
"Bakso goreng."
"Dari ikan?"
"Iya."
"Nah itu sebabnya."
"Tapi saya makan cuma dikit kok Dok."
"Biar pun dikit, kalau tubuh kamu menolak, jadinya ya alergi."

Seumur-umur, rasanya baru kali ini aku alergi. Biasanya aku kebal. Makan apapun tak pernah membuatku rapuh. Dulu memang pernah tubuhku bentol-bentol seperti digigit ulat di sekujur tangan dan kaki, tapi hanya bertahan sehari dan hilang begitu saja. Tapi kali ini aku harus ke dokter untuk menyembuhkan gatal-gatalku.

Di sela-sela antri untuk ambil obat, aku ngobrol dengan Mbak Pudji.
"Tadi kata dokternya, aku ga boleh banyak pikiran Dek. Tahu sendiri kan akhir-akhir ini aku stress banget di kantor."
"Oh gitu ya Mbak."
"Iya, kalau adek mah ga punya masalah ya."

Dalam hati aku berkata "Bukan ga punya masalah, Mbak, tapi akunya aja yang nggak cerita."

Mungkin aku memang terlihat tak punya masalah dan beban pikiran. Kuliah sudah selesai, kerjaan di kantor lancar-lancar saja. Tapi justru itu yang sebenarnya menjadi masalahku dan membuatku berpikir keras. 

Kondisi kantor yang terlalu nyaman membuatku bosan dan merasa tak ada tantangannya. Setelah lulus kuliah, aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa pindah kerja dan mendapatkan suasana baru, serta membuatku lebih hidup. Sayangnya, mencari pekerjaan itu tak semudah membalikkan tangan. Ditambah lagi pengalaman kerja tak berhubungan dengan jurusan yang diambil saat kuliah. 

Aku lulus sebagai Sarjana Komputer, dimana pekerjaan yang sesuai tak jauh-jauh dari programmer. Sementara itu, 3 tahun terakhir ini aku bekerja sebagai Admin Marketing di bisnis penjualan sparepart. Sehari-hari terbiasa dengan kata supply, BO, OO, kaca, oil filter, air cleaner, dan sebangsanya. Kondisi seperti itu membuatku pusing. Jadi programmer kok ya masih cupu, jadi marketing cuma bisa di sisi administrasinya, ga bisa "menjual". Duh. Hal-hal seperti itu yang tak ku ceritakan ke teman kantorku. Selain itu, ada hal-hal lain yang aku pikirkan.

Dan sekarang ini aku menyadari, apakah alergiku waktu itu menjadi-jadi karena aku memang stress? Aku memikirkan banyak hal yang akhirnya aku sendiri bingung harus berbuat apa untuk hal-hal yang aku pikirkan tersebut. Basreng yang aku makan mungkin memang bisa memicu gatal-gatal. Tapi jika saja aku dalam keadaan bahagia dan senang, mungkin tidak akan parah.

Beruntungnya, obat yang diberikan dokter cepat bekerja di tubuhku. Gatal-gatal yang ku alami perlahan menghilang.
Obat alergi
Dokter memberikanku dua jenis obat makan; Methylprednisolone dan Alloris.

- Methylprednisolone adalah obat yang digunakan sebagai anti alergi, imunosupresan, dan anti inflamasi. Obat ini menekan migrasi neutrofil, mengurangi produksi prostaglandin (senyawa yang berfungsi sebagai mediator inflamasi), dan menyebabkan dilatasi kapiler. Hal ini akan mengurangi respon tubuh terhadap kondisi peradangan (inflamasi).

- Alloris adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai jenis alergi. Alloris termasuk obat antihistamin, yang bertindak sebagai inverse agonist selektif histamin perifer H1-reseptor. Kegunaan Alloris (loratadine) adalah untuk pengobatan kondisi-kondisi berikut :
  1. Obat ini digunakan untuk mengurangi gejala-gejala alergi seperti, urtikaria (gatal-gatal), urtikaria idiopatik kronis, dan alergi kulit lainnya.
  2. Untuk mengobati rhinitis alergi (hay fever), efektif untuk mengurangi gejala baik pada mata maupun hidung seperti : bersin, hidung meler, rasa gatal atau terbakar pada mata.
  3. Seperti cetirizine, alloris (loratadine) mengurangi gatal karena adanya penyakit Kimura (kimura’s disease).
Sumber : www.farmasiana.com
    Ternyata stress bisa memperburuk kesehatan kita yaa.. Mulai sekarang hindari hal-hal yang bisa bikin kita stress yuk! Just enjoy the show! Be happy everytime and everywhere :)

    0 comments:

    Post a Comment

    Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
    Silahkan tinggalkan jejak ^^

    Powered by Blogger.
    Back to Top