2

Secuil tentang Ibuk

"Besok kalau Ibuk udah sampai sana, ga usah SMS-an atau telponan. Ibuk mau fokus ibadah. Jadi, kalau nggak ada kabar apa-apa, berarti disana baik-baik saja." Begitulah pesan Ibuk kepada anak-anaknya saat mengantar Ibuk ke kantor bupati, bertemu rombongan kelompok haji.
"Halah, kayak biasanya enggak aja." Begitulah tanggapan Mbak.
"Ya emang kayak gitu kok. Kabarin yang penting-penting aja. Kalau ga perlu balasan, ya ga usah dijawab." Ibuk menjelaskan.

Demikianlah komunikasi yang terjadi di dalam keluargaku. Berbeda dengan hubungan ibu dan anak pada umumnya, aku jarang berkirim pesan ke ibuku. Telpon pun jika ada perlunya saja. Toh kalaupun aku kirim SMS, pasti balasannya biasa saja dan seperlunya.

Begitu Ibuk (bersama Bapak dan Mbah) tiba di tanah suci, Ibuku tak langsung memberi kabar. Baru setelah selesai umrah wajib, ibuku mengabari bahwa semuanya sehat.
Pesan Pertama
Setelah kabar pertama yang ku terima, kami kembali seperti biasa. Tak banyak pesan yang ku kirim, pun dengan ibuku. Hingga suatu hari ibuku kirim SMS;
Kode
Lah... Lah... Sekalinya SMS, isinya 'mama minta pulsa'. Hahaha.
Ah, begitulah Ibukku. Kalau ibuku seperti itu, artinya semuanya baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sebenarnya aku cukup iri ketika temanku menceritakan dia yang semalam video call dengan mertuanya yang juga melakukan ibadah haji. Dia melihat keadaan disana bagaimana, dan sebagainya, dan sebagainya. Sementara aku, dikirimi foto dari Mekkah pun tidak sama sekali. Ya iyalah, handphone-nya aja masih Nokia. Hihihi.
***
Ibuku memang berbeda dari ibu yang lain. Beliau tidak overprotektif, melarang ini itu. Tak juga kepo, tanya ini itu. Ku rasa bukan karena tak peduli, tapi begitulah cara dia menyayangi anak-anaknya. Pernah suatu hari aku ijin pergi liburan, "Buk, temenku ngajak ke Bali. Aku ikut, gapapa ya?" Dan jawaban ibuku singkat, "Kalau punya uang saku, sana berangkat." Ibuku takkan peduli aku nanti naik pesawat apa, disana tidur dimana, sama siapa aja. Tak pernah tanya. Itu pula sebabnya aku jarang minta ijin kalau pergi-pergi. Hehehe.

Sikap Ibu yang seperti itu sedikit banyak mempengaruhi karakterku. Sering kali teman-teman ku bilang kalau aku terlalu singkat balas pesan, bahkan ada pesan yang tidak dibalas. Hahaha.

Dalam berias dan berpakaian pun aku meniru Ibuku. Tak perlu modis dan bermerk, yang penting percaya diri. Ibuku jarang membeli sesuatu jika barang yang lama masih bisa dipakai. Kebiasaan itu kini menjadi kebiasaanku. Biasanya kalau tidak dipaksa teman, aku jarang meng-upgrade barang-barang yang ku miliki seperti tas, sepatu. Bagaimanapun, apapun yang diajarkan orang tua ke kita, akan mempengaruhi kepribadian kita bukan?

2 comments:

  1. Hahahaha... Mama minta pulsa tapi beneran ya.
    Mamamu sama kayak mamakku,
    aku jalan ke Sulawesi seminggu, nggak ditelepon blas. Sampai teman di sana heran, emang ibumu nggak khawatir apa... hehehe

    ReplyDelete
  2. Nah ini nih pesan tersirat ya jeng Mia.


    Untukmu ..
    Kepada calon jodohku .. eeaaa
    Uhuk uhuk

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top