0

Dia yang Bersinar

Dia adalah kakak kelasku saat SMA. Dia tipe orang yang biasa saja. Sederhana. Tapi, di mataku, dia nampak bersinar. Mungkin karena dia mengikuti banyak organisasi. OSIS, pramuka, rohis, PMR. Seingatku, dia aktif di organisasi itu, meski bukan sebagai ketua. 

Aku mengaguminya. Hatiku bersorak riang ketika dia naik angkot yang sama dengan angkot yang aku naiki, baik saat berangkat maupun pulang sekolah. Atau saat dia duduk di depan masjid yang kebetulan letaknya di depan kelasku, aku sungguh senang. Meski demikian, aku tak pernah berani berbicara padanya. Jangankan bicara, menatapnya pun aku sungguh tak sanggup.

Tahun 2008, dia lulus SMA. Aku tak tahu dimana ia berada dan memang tak berniat mencari tahu. Hingga di tahun 2011, aku menemukannya di dunia maya melalui media sosial bernama facebook. Entah apa motivasiku saat itu, tapi aku berhasil 'ngobrol' dengannya. Kami saling berbalas chat dan saling mengomentari status facebook kami masing-masing. Dan kalau boleh jujur, aku berusaha menyamakan jam online agar aku bisa ngobrol dengannya. Biasanya dia online di tengah malam. Aku lupa, tapi mungkin antara pukul 00.00 - 02.00 WIB. Ngantuk, tapi entah kenapa seru aja. Hingga akhirnya dia merasa ada yang salah dengan hubungan seperti ini. Perlahan dia mulai menghilang dari kehidupanku. Aku pun tak mengejarnya. Ya, mungkin dia memang punya dunia nyata yang memang lebih nyata. 

Kami menjaga jarak hingga suatu hari, di antara obrolan kami, dia ingin meminjam uang untuk tambahan modal usahanya. Tak butuh waktu lama akhirnya aku meminjaminya. Bukan semata-mata karena aku dulu sempat mengaguminya, tapi mungkin karena kebaikan kecil yang pernah ia tanam. Waktu itu dia pergi ke Bengkulu dan aku iseng minta oleh-oleh. Ia berjanji akan mengirimkan gantungan kunci untukku. Meski janjinya itu berlangsung lama, pada akhirnya dia menyempatkan diri untuk mengirimkan gantungan kunci tersebut.

Sama halnya dengan uang yang ku pinjami ke dia. Sekali dua kali aku mengingatkan dia kapan bisa bayar. Just need confirmation. Tapi seiring berjalannya waktu, 'ah, sudahlah. Pasti dia juga sudah memikirkannya. Mungkin ini justru jadi ladang ibadahku.' Aku pun tak lagi menanyainya.

Hingga hari yang tak ku nantikan itu tiba. Dia tanya kapan dia bisa menemuiku untuk mengembalikan uang yang dia pinjam. Aku tak yakin apakah aku punya keberanian untuk bertemu dengannya. Namun pada akhirnya aku tetap memberitahukan jadwal aku pulang ke kampung halaman. Aku pikir, kita akan ketemuan di suatu tempat. Tapi dia bilang, dia akan datang ke rumah. "Sekalian silaturahmi" begitu katanya.

22 Agustus 2016. Hari itu seperti mimpi. Dia sudah berdiri di depan rumahku tanpa mengabari jam berapa kira-kira sampai. Sejujurnya aku tak tahu mesti ngobrol apa. Dan jika dipikir-pikir, lucu aja. Dulu aku yang sempat mengidolakan dia, tak berani menatapnya, kini dia duduk di pelataran rumahku, ngobrol bareng. Meski sempat kehabisan topik, tapi semuanya berjalan lancar. Dia tak buru-buru langsung pulang. 

Berita bahagia datang darinya. Dia mengabarkan akan menikah tahun depan. Apakah aku patah hati? Tidak. Rasa kagumku waktu itu dan sekarang ini memang bukanlah cinta atau suka lawan jenis. Tapi murni rasa kagum yang membuatku ingin selalu melihat wajahnya yang bersinar oleh harapan dan kerja keras. Sukses selalu ya Mas. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu :)

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top