0

Perkembangan Anak Bergantung pada Orang Tua

Pada dasarnya setiap anak terlahir sama. Namun, cara anak berbicara, tingkah lakunya, tingkat kecerdasannya, sangat dipengaruhi oleh peran orang tua. Aku menyaksikan sendiri bagaimana seorang anak itu cerminan orang tuanya.

Ketika merasakan tingkah laku anak yang begitu tidak sopan, berlaku kasar, maka kita lihat saja orang tuanya. "Oh, ternyata orang tuanya tidak memperdulikan anaknya dan membiarkan lingkungan membangun karakternya." Mungkin tidak masalah jika lingkungannya baik, tapi apa jadinya jika lingkungannya kurang baik sementara orang tua sudah tidak mau peduli? Mereka tidak memberikan batas-batas yang akhirnya membuat anak kebablasan dalam bersikap.

Dan menurutku, tingkat kepedulian orang tua sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan orang tua. Semakin tinggi jenjang pendidikan orang tua, maka anak semakin terurus. Orang tua cenderung protektif dan menjaga anaknya tidak keluar jalur. Sementara itu, semakin rendah tingkat pendidikan orang tua, mereka cenderung membiarkan anaknya tumbuh apa adanya.

Oleh karena itu, tak ada kata sia-sia dari menuntut ilmu setinggi mungkin, khususnya wanita. Meskipun berakhir sama yakni sebagai ibu rumah tangga, lulusan S1 akan lebih mampu mendidik anaknya dibandingkan mereka yang (maaf) hanya lulusan SMA.

Aku Lemah

Hari ini adalah hari terakhir Ramadan 1436 H. Hari kedua aku berada di rumah setelah perjalanan dari tanah perantauan. Dan hari ini Mbak ku datang ke rumah. Ia membawa beberapa potong baju untuk adek, ibu, dan keponakan. Ia juga membawa makanan seperti mangga, singkong, dan keripik.
Sore hari, kami (ibu dan anak-anaknya) menyiapkan menu buka puasa terakhir. Aku mengupas singkong. Namun, baru membuat garis di tubuh singkong, pisau melukai jariku. Langsung saja ku kibaskan tangan kiriku yang luka, tak peduli darah mulai mengalir berceceran. Panik.
Beruntungnya, ibuku berada di sebelah kiriku. Ia langsung mengambil jari telunjukku dan menutup lukaku dengan tangannya.
Aku dibawa kebawa ke kamar untuk diobati. Tangan ibuku masih menggenggam jari telunjukku. Saat mengambil handsaplast di kotak obat, ibuku merasa kesulitan. Ibuku pun membimbingku untuk menutup luka di jari telunjukku dengan ibu jariku. Aku menurut. Tapi tiba-tiba aku merasa lemas. Gelap. Aku meraih kursi di dekatku, namun aku gagal. Aku jatuh ke lantai tak sadarkan diri.
0

Orang Penting?

Kenapa sih orang-orang selalu mendahulukan mereka yang dekat dengan orang-orang yang punya kepentingan. Misalnya antri beli tiket. Antrian panjang tiada terkira. Hanya karena ada seseorang marah-marah karena dapat antrian lama, lantas dia mengancam akan mengadukan hal tersebut kepada direkur bahkan akan mempublishnya ke media untuk menjatuhkan nama perusahaan. 

Dalam hal ini siapa yang akan dirugikan? Yang paling kasihan adalah operator yang melayani pembelian tiket. Ketika dia tidak bisa menangani pelanggan yang marah-marah, maka dia harus siapkan hati yang lapang, yang bisa menerima setiap omelan dari pelanggan tersebut. Dan jika sampai dia gagal dalam menenangkan pelanggan hingga pelanggan mengadukan ke direktur, maka dia harus siap-siap mendapat omelan dari direktur.
2

Hai

Hai Juli..
Tak terasa kau sudah memasuki tanggal belasan.

Dan hai Ramadhan,
Kau sudah sampai di minggu terakhir. Aku bahkan belum menyapamu (di blog ini) saat kau hadir di tahun ini.

Dan hai semuanya..
Apakah ada yang merindukan postingan baru blog ini?

Hmmm...
Entah apa yang membuatku sibuk akhir-akhir ini hingga aku tak sadar bulan ini aku belum menulis satu postingan pun. Padahal aku sudah puasa menyanyi di Smule, aku sudah tak lagi ketagihan menonton drama dan anime, aku tak sedang menyelesaikan membaca buku. Ah, mungkin semangat ngeblogku sedang menguap.

Banyak momen yang terjadi. Kelahiran. Kematian. Tomcat. MCU. Buka bersama. Perpisahan. Proposal. Masak. Mudik. And many things which could be told.

Baiklah, semoga semangat ngeblogku cepat kembali dan bisa berbagi kisah lagi di blog ini :)

Powered by Blogger.
Back to Top