2

Part Gathering 2015 - Pulau Pari, 6 - 7 Juni 2015

Pada tanggal 6 - 7 Juni 2015 untuk pertama kalinya Divisi Sparepart PT. IAMI mengadakan satu kegiatan akbar yang diberi nama Part Gathering 2015. Dengan mengangkat tema "Together We can Make It", acara yang sudah direncanakan berbulan-bulan ini akhirnya terlaksana berkat sebuah kebersamaan dari kami semua, keluarga besar Divisi Sparepart. Part Gathering 2015 ini dilaksanakan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu.  

6 Juni 2015, pukul 05.00 WIB
Kami berkumpul di Part Center IAMI, Pondok Ungu. Satu per satu dari kami mulai menampakkan diri. Panitia sibuk mengabsen peserta sekaligus memberikan instruksi dan aba-aba. Setelah semua siap, kami masuk ke dalam mobil yang telah disediakan. Ada 2 minibus, 1 Elf, 1 Bison, dan 2 mobil pool. Sekitar pukul 06.00 WIB kami memulai perjalanan menuju Muara Angke.
Siap berangkat!

Pukul 08.00 WIB kurang, kami sudah sampai di Dermaga Muara Angke. Setelah semua siap dan lengkap, kami menuju kapal yang akan membawa kami semua ke Pulau Pari. Kami menyewa 1 private kapal sehingga kami bisa lebih leluasa dan menikmati perjalanan.

Perjalanan di laut diwarnai goyangan kapal. Goyang kanan. Goyang kiri. Rasanya sudah seperti menaiki salah satu wahana yang ada di Dunia Fantasi Ancol. Sekitar dua jam kami menikmati sensasi ini. Ada yang menikmatinya, ada yang dimabuk kepayang, dan ada yang lebih memilih untuk tidur (yaitu aku).
Suasana di kapal (luar)
Suasana di kapal (dalam)
Sekitar pukul 10.00 WIB kami sudah menginjakkan kaki di Pulau Pari. Hari begitu terik. Pemandu lapangan segera membimbing kami menuju ke homestay kami masing-masing. 
Dermaga Pulau Pari menanti kami
Kami dibagi menjadi 8 homestay dimana masing-masing homestay memiliki Group Leader. Aku kebetulan menjadi Group Leader di Homestay 8 yang berisi 10 wanita cantik yang lebih mirip ibu-ibu pengajian.

Kami istirahat dan makan siang di homestay masing-masing. Pukul 13.00 WIB kami berkumpul di dermaga. Life jacket sudah terpasang cantik di badan kami. Time to snorkling.

Siap snorkling!
Ku pikir, kami akan dibagi menjadi beberapa kapal kecil. Namun, dugaanku salah. Kami, sekitar 80 orang, berangkat snorkling menggunakan satu kapal besar. Bisa dibayangkan bukan?

Kurang lebih tiga puluh menit kami berlayar, perlahan kapal mulai memperlambat lajunya. Kami sudah sampai di tempat tujuan.

Aku menunggu giliran untuk turun dari kapal. Satu persatu mulai menyatu dengan laut. Kini saatnya aku masuk ke dalam air. Dan seperti dugaanku sebelumnya, dengan kapal sebesar ini, tentunya ketika kami terjun ke laut, kami masih berada di laut yang dalam.
Kapal untuk snorkling
Yah, aku turun di lautan yang dalam. Ku mencoba mengayuhkan kaki dan tangan menuju lautan yang agak dangkal sehingga aku bisa menikmati kehidupan bawah laut. Sayangnya, aku tak bisa. Ombak di laut saat itu sedang besar. Ku coba melawan arus. Aku lelah. Aku gagal menuju lautan dangkal. Akhirnya ku putuskan untuk tetap melihat ke dalam laut. Setidaknya masih ada ikan yang bisa ku lihat, meski mereka tidak terlalu tertarik dengan roti yang ku bawa.

Aku gagal menikmati pemandangan bawah laut. Meski demikian, semua orang terlihat bahagia. Apalagi bagi mereka yang melakukan permainan loncat ke laut. Secara bergantian, mereka menceburkan diri ke lautan.
Keceriaan di tengah laut
Setelah kami lelah, kami menuju spot yang kedua. Aku hanya berharap, semoga kali ini lebih bagus dari spot yang pertama.

Di spot yang kedua, aku berhasil menemukan lautan dangkal. Sayangnya banyak bulu babi yang durinya tajam-tajam. Beruntung aku bisa menghindarinya. Namun, ditengah-tengah aku yang sedang mencari dimana karang yang terlihat bagus, tiba-tiba seseorang memanggilku.

"Mia, tolongin aku." kata dia sambil menunjukkan kakinya.
"Sichii.. kamu kenapa? Kamu nginjek bulu babi?" kataku kaget. Ku lihat beberapa duri menempel di telapak kakinya.

Beruntung di belakang Sichi ada Mas Ganip, salah satu tour guide kami. Dia dengan segera membawa Sichi kembali ke kapal. Sementara aku, aku masih di dalam lautan. 

Akan tetapi, entah bagaimana ceritanya, ketika aku kembali memandang ke bawah laut, aku kehilangan pemandangan karang dan bulu babi yang pertama ku lihat tadi. Aku berada di atas lautan dalam. Bagaimana bisa?

Rupanya ombak memang sedang besar. Aku terbawa arus. Ku coba menggerakkan kaki dan tangan, berharap bisa kembali ke lautan dangkal. Berkali-kali ku coba, aku kelelahan.

Tiba-tiba ada komando untuk segera kembali ke kapal. Cuaca sedang tidak mendukung. Aku pun harus bersusah payah kembali ke kapal. Duh, aku kelelahan. Untungnya masih ada tour guide yang ada di lautan. Aku pun meminta bantuannya untuk mengarahkanku kembali ke kapal, bukan terombang-ambing mengikuti arus. Yes! Aku selamat kembali ke kapal.

Di tengah kapal, ku lihat Sichi tengah dikerumuni orang-orang. Bintik-bintik di kakinya menunjukkan bekas luka akibat bulu babi. Atas saran Kadiv kami, Sichi pun akhirnya menggunakan obat tradisional untuk mengobatinya, yaitu dikencingi. Dia merasa baikan.

Kami pun kembali ke daratan. Semua selamat. Tak ada yang tertinggal. Kami pun menuju Pantai Perawan. Acara bebas. Ada yang berfoto ria, ada pula yang bermain sepak bola. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Narsis di Pantai Perawan
Rombongan ibu-ibu
Kala matahari mulai tenggelam, kami kembali ke homestay, mandi, sholat, dan makan malam.
Kala senja mulai datang
***

Pukul 20.00 WIB, kami siap untuk acara selanjutnya. Organ Tunggal di Pantai Perawan. Dengan mengendarai sepeda yang memang disediakan oleh pengelola Pulau Pari, kami menuju Pantai Perawan (lagi).

Acara dimulai dengan sambutan dari ketua panitia, Pak Icun, dilanjutkan dengan acara Lepas Sambut kepemimpinan baru yang ada di Divisi Sparepart PT. IAMI. Ada dua pemimpin baru, yaitu Kadiv baru dan Kepala Warehouse. Tak lupa, kami mengadakan acara 'kelulusan' bagi dua orang yang di tahun ini tak lagi bergabung di Divisi Sparepart PT. IAMI.
Happy Graduation!!
Suasana meriah ketika dua biduan mulai mengguncang malam dengan suaranya yang seksi. Tambah meriah ketika mulai pembagian doorprize dan grandprize. 

Acara malam itu ditutup dengan sebuah lagu "Kemesraan" yang dinyanyikan setelah kami membuat lingkaran besar dimana tangan kami saling terikat satu sama lain. Begitu mesra.
Big Family of Sparepart IAMI
***

7 Juni 2015, pukul 05.00 WIB
Seharusnya kami sedang menikmati indahnya sunrise di Pulau Pari. Sayangnya, bunyi petir yang menyambar sesekali mengurungkan niat kami. Langit nampak murung meski tak menitikkan airnya. Ditambah dengan capeknya badan karena aktivitas kemarin, akhirnya kami lebih memilih meneruskan tidur kami dibandingkan harus keluar mencari sunrise yang kemungkinan tak bisa kami nikmati.

Sekitar pukul 07.00 WIB aku bersama dengan rombongan ibuk-ibuk pengajian bersepedaan mengelilingi pulau. Berfoto sebentar dan kembali ke homestay karena sarapan telah siap.
Gagal Sunrise
Nasi uduk dengan lauk telur balado ditambah teh hangat mengisi perut kami. Selanjutnya kami menunggu waktu untuk water spot.

Pukul 08.00 WIB kami ramai-ramai menuju dermaga. Time to water spot. Masing-masing dari kami diberikan satu kupon untuk dapat menikmati satu jenis permainan air. Namun, sebelum menikmati aktivitas itu, kami semua berkumpul, berdoa meminta keselamatan, dan tentu saja acara pecah telur & tebar terigu.
Tebar terigu
Kebetulan hari itu, ketua panitia kami berulang tahun. Dan kegembiraan tercipta ketika satu persatu telur meluncur di kepala Pak Icun, sang ketua panitia. Terigu pun tak luput membungkus badannya.
Selamat ulang tahun Pak Icun
Selesai. Saatnya menikmati permainan air. 

Sebagian tidak tertarik untuk mengikuti permainan dan menyerahkan dengan ikhlas kupon yang dimilikinya kepada yang lain. Begitu pula aku. Aku mendapat dua kupon untuk dua buah permainan. 

Aku bersama Mbak Anik, Mbak Dian, dan Mbak Rani memilih permainan yang sama. Masing-masing dari kami memiliki 2 tiket. Alhasil, kami bersama-sama main Banana Boat dan Flying Sofa. Seruuuuuuuuuuuuuuuuuuu.
Setelah semua mendapat giliran main, kami kembali ke homestay dan persiapan untuk pulang.

Pukul 13.00 WIB kapal telah siap membawa kami kembali ke Muara Angke. Dua jam berlayar, kami pun segera menancap gas kembali ke Bekasi, ke rumah kami tercinta.

***

2 comments:

  1. Baru tahu obat nyembuhin bulu babi dikencingi, mba. Serem juga ya. :D
    Btw, pulau pari itu dekat pulau bidadari bukan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu obat bulu babi ngeri amat mbak hahaaaaaa

      Delete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top