Status Media Sosial

Kenapa kebanyakan media sosial memberikan kebebasan kita untuk memasang status? Facebook, Twitter, Path, Line, BBM, semuanya memberikan fasilitas bagi kita untuk mengungkapkan 'apa yang kita pikirkan' dengan sebutan status. Lantas mengapa media sosial  tersebut tak pernah sepi dengan para penggunanya meski sebenarnya punya fungsi yang sama?

Sebenarnya aku terkadang dibuat heran dengan orang yang membuat status yang sama, namun diposting di semua akun media sosial yang dimilikinya. Apa sebenarnya tujuan dia? Apa dia ingin semua orang tau apa yang tengah ia rasakan dan alami?

Apakah salah seseorang update status apapun tujuannya? Tidak! Aku pun melakukan hal yang sama.
Dan menurutku, beberapa tujuan orang update status dimedia sosial adalah sebagai berikut.
1. Obat Stress
Ketika orang banyak pikiran, ada banyak cara yang dilakukan seseorang untuk menghilangkannya. Ada yang berteriak, ada yang menangis, ada yang berkelahi, ada yang memukul tembok, dan sebagainya. Dan obat stress yang lainnya adalah dengan menuliskan kekesalannya.

Contoh :
"Kenapa harus dia yang dipromosikan? Kenapa nggak gue? Emang bedanya gue sama dia apa? Ah iya, dia penjilat!"
Media sosial yang cocok sebagai penghilang stress ini adalah twitter. Dibanding media sosial lain, twitter tidak terkesan spam jika menulis banyak 'kicauan'. Jadi, ketika kesal sudah memuncak, orang akan update status untuk menumpahkan kekesalannya. 

Menulis memang sebuah terapi. Namun, alangkah baiknya ketika emosi sedang memuncak, menulislah secara offline. Tulis di Ms. Word sesuka hati. Setelah emosi agak redam, baca sekali lagi, revisi tulisan jika diperlukan. Update status saat emosi terkadang justru akan membuat masalah baru. Orang-orang yang membaca status kita mungkin ada yang tersinggung, ada yang marah, dan sebagainya.

2. Ungkapan isi hati
Entah di Ilmu Psikologi ada teorinya atau tidak, manusia cenderung ingin mengutarakan apa yang ada di benaknya. Ide-ide krearif, perasaan bahagia, rasa 'amazed' terhadap sesuatu, semuanya ingin dia sampaikan pada orang lain. Bagi yang punya karakter 'doyan omong' pasti akan sangat mudah menceritakan perasaannya secara langsung kepada orang lain. Tapi, para 'pembungkam' alias pendiam, mereka akan menyampaikan perasaannya lewat tulisan. Dan biasanya, mereka akan menyalurkannya melalui status di media sosial.

Contoh:
"Akkk... dosen penggantinya ganteng banget!"
"Irie-kun kakui, desu yo ne?!"
Mereka memasang status bukan memancing orang lain untuk mengomentarinya, namun lebih kepada ungkapan isi hatinya. Tak peduli orang lain akan memedulikannya atau tidak, yang terpenting mereka tengah senang.

1 comment:

  1. Betul sekali, salah satu etika yang baik dalam menulis di media adalah menulislah saat pikiran dingin, bukan saat emosi. Salah dikit malah bisa kena UU ITE :D

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top