4

[Cerpen] Aku Malu

"Ohh.. beginikah rasanya cinta dalam diam?" ceritaku pada Mira, sahabat dekatku.
"Kenapa sih kamu nggak nyatain langsung ke orangnya?" keluh Mira.
"Masak iya aku, cewek, nyatain perasaanku pada cowok, gengsi lah."
"Bukannya kamu sering bercerita tentang sosok Kotoko di drama Jepang kesukaanmu itu? Begitu terinspirasi dengan langkah nekatnya menyatakan cinta pada pria pujaan hatinya. Kenapa kamu tak mengikuti jejaknya?"
"Ahh... Kotoko, beruntung sekali kau mendapatkan Irie-kun." Mataku berbinar-binar.
"Jadi kapan kau mau menyatakan cinta padanya?"
"Aku? Entahlah. Sepertinya aku lebih suka mencintainya diam-diam."
"Yah!" kesal Mira.

***

Aku menatap punggungnya. Rasanya sungguh menyenangkan meski hanya melihatnya dari belakang. Dia satu-satunya pria yang menarik perhatianku di tempat kerjaku yang baru. Perawakannya yang tinggi, kulitnya yang putih, dan matanya yang bersinar, sungguh memesona.

'Aku sungguh tak ada ide untuk memulai pembicaraan denganmu.' Gerutuku dalam hati. 

Aku dan dia berada di bagian yang berbeda meski masih satu lantai di gedung yang sama. Tempat dudukku persis dua bangku di belakang bangkunya, membuatku leluasa memandanginya meski bukan wajahnya. Setidaknya keberadaannya mampu membuat hati ini senang.

Hari demi hari ku lalui dengan biasa saja. Tak ada perkembangan yang pasti. Dan aku, masih saja menatap punggungnya, penuh cemas ketika dia menoleh merasa ada sesuatu yang mengawasinya. Tapi tak ku biarkan itu terjadi. Bahkan aku tak membiarkan seorang pun tahu kalau aku memperhatikannya.

Hingga suatu hari, Si Bos datang ke mejaku 30 menit sebelum bel pulang berbunyi.
“Maya, tolong buatkan saya laporan pencapaian target bulan ini dibandingkan dengan bulan lalu.”
“Iya, Pak.” Jawabku setengah hati, melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 16.05.
“Oiya, jangan lupa bandingkan pula dengan tahun lalu.”
“Iya, Pak.”
“Besok pagi-pagi sudah ada di meja saya ya!”
“Iya, Pak.” 

Hanya itu jawaban yang paling tepat untuk setiap pertanyaan dan pernyataan dari Pak Bos, tak peduli waktu, tak peduli tempat. Bahkan mungkin ketika kau baru bangun tidur dan kau dapati teleponmu berbunyi dari Si Bos, maka kau harus siap ketika diminta meeting dadakan di pagi hari. 

“Baiklah, aku lembur malam ini.”

Aku menuruni anak tangga, berjalan menyusuri lorong, menuju pantry. Sepertinya secangkir kopi panas buatan Pak Manto akan sangat cocok menemani jam lembur yang sebentar lagi akan ku mulai.

“Pak Maaannt….” Aku memanggil Pak Manto penuh riang. Namun, sebelum aku menyebutkan lengkap nama OB favoritku, panggilanku terhenti setelah sosok di depan wastafel itu menoleh ke arahku. Bukan Pak Manto, tapi dia. 

Seketika aku terdiam. Berdiri dengan hati penuh gemuruh. Deg-deg-an tak karuan.

“Eh, Pak Manto mana ya?” tanyaku padanya sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
“Pak Mantonya lagi sholat, Neng.”
“Owh, Mas Mara ngapain disitu?” ku beranikan diri untuk berbasa-basi padanya.
“Ini, lagi cuci kotak nasi, bekal tadi siang.”
“Owh, yaudah deh, aku cari Pak Manto dulu, siapa tahu udah selesai sholatnya.” Aku berlalu meninggalkannya. Aku tak ingin suaraku terdengar bergetar karena rasa gelisah dalam dada ini. Aku kembali menaiki anak tangga menuju ruang kerjaku di lantai dua.

Lima belas menit berlalu. Satu persatu mulai beranjak pulang. Ku lihat meja kerja Mas Mara. Rapi, hanya menyisakan tas dan jaket yang masih tersampir di bangkunya.

‘Ah, paling bentar lagi dia juga pulang.’ Belum habis aku meratapi nasibku yang harus lembur malam ini, Mas Mara berjalan menuju meja kerjanya, mengambil tas dan jaket. Di belakangnya ku lihat Pak Manto datang dengan secangkir kopi dan berjalan ke arahku.

“Mbak Maya, ini kopinya.” Kata Pak Manto.
“Buat saya Pak? Bukankah tadi saya belum jadi pesan ya?”

Melihatku yang sedikit bingung, Pak Manto melirik ke arah Mas Mara yang sudah beranjak dari meja kerjanya, berjalan santai meninggalkan ruangan, “Tuuh..” kata Pak Manto.

Ku lihat Mas Mara mengangkat tangan kanannya tanpa perlu membalikkan badannya. “Dia yang memesankan kopi untukku? Kok …? Mungkinkah …?”

Hatiku riang. Tanpa perlu diminta, aku menceritakan kejadian itu pada Mira sepulangnya aku dari bekerja.

***

Pagi harinya aku berangkat seperti biasa. Memasuki ruangan di lantai dua membuat jantungku berdegub kencang. Bagaimana tidak? Untuk ke meja kerjaku, aku harus melewati meja kerja Mas Mara. Lantas apa masalahnya?

Mas Mara tipe orang yang tepat waktu. Tiap pagi aku berada di pintu ruangan lantai dua, dia sudah disibukkan dengan komputer dihadapannya. Jarinya yang lincah pun seakan menari di tuts keyboard di mejanya. Dan aku, aku yang tengah merasakan jatuh cinta diam-diam harus mengumpulkan segenap keberanian untuk melewati meja kerjanya. Lidahku selalu kelu meski hanya berucap “Selamat Pagi”.

Perlahan aku berjalan menuju meja kerjaku. Saat melintasi meja kerja Mas Mara, ku sempatkan untuk melihat ke arahnya yang sudah disibukkan dengan pekerjaan. 

Deg. Tiba-tiba perasaanku hancur seketika. Ku lihat sesuatu melingkar manis di jari kanannya. Sebuah cincin. Mungkinkah dia sudah menikah? Siapakah wanita yang beruntung memilikinya? Atau itu hanya sebatas cincin biasa?

Aku sudah tiba di meja kerjaku, membawa berjuta pertanyaan yang datang dari sepersekian detik waktu melintas meja kerja Mas Mara.

Hatiku hancur. Hancur? Entahlah apa namanya perasaan yang sedang ku alami saat ini. Apakah ini cemburu? Sakit hati? Rupanya jatuh cinta diam-diam juga mengenal perasaan tak mengenakkan semacam ini. 

***

Hari Minggu. Demi melihatku yang tak bersemangat akhir-akhir ini, Mira mengajakku ke pusat perbelanjaan paling besar di kota ini, sekedar nonton dan makan, mungkin bisa membuatku lebih hidup.

“Kamu percaya kalau film Doraemon yang kita tonton tadi itu benar-benar film terakhir?” aku mulai membahas film yang baru saja kami tonton setelah akhirnya kami sudah pindah ke food court dan tengah menunggu pesanan kami datang.

“May… May…” rupanya Mira tak mendengarkanku berbicara. Dia justru asyik memandang ke arah depan, tak jauh dari kami. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. “Ihh… cowok-cowok itu lagi ngapain?”

Perlahan aku memutar badan. Ikut penasaran dengan apa yang dilihat Mira. Tak sempurna aku menengok ke belakang. Ku lihat dua orang pria duduk saling berhadap-hadapan. Seorang pria bercincin meletakkan tangannya ke wajah pria di hadapannya. Dan sebaliknya, pria di depannya seperti tak masalah dengan apa yang akan dilakukan rekan prianya.

“Apa yang akan mereka lakukan May?” Mira masih diselimuti rasa penasaran.
“Biarkan saja, jangan dilihat, itu hak mereka.” Aku kembali ke posisi semula, menunggu pesanan yang tak kunjung datang. Tapi, eh rasanya aku mengenal cincin itu?

Melihatku berubah ekspresi, Mira mulai mencemaskanku. “Kamu kenapa May?”
Aku tak menjawab. Aku kembali memutar badan, memastikan apakah satu dari dua pria yang dilihat Mira memang benar orang yang aku kenal. Dan …

“Iya, benar itu dia.” Aku tertunduk. Bukan karena pesananku masih belum datang, tapi satu dari pria itu adalah orang yang selama ini membuat jantungku deg-deg-an tak karuan meski hanya melewatinya.

“Dia? Dia siapa? Kamu kenal dengan mereka?” perhatian Mira kini tertuju padaku. Dia sudah tak peduli lagi dengan pasangan pria di depannya. Entah apa yang sekarang mereka lakukan. Mungkin sedang suap-suapan atau berbagi minuman.

“Mas Mara.” Kataku singkat.
“Mana? Mana?” Mira masih belum paham.
“Dua pria yang kau lihat tadi, satu memakai cincin. Itu dia, Mas Mara.”
“Mara? Pria yang kau taksir itu? Apakah dia seorang …?” Mira tak melanjutkan kata-katanya. Dia tak tega melihatku semakin lemas.

Aku merasa begitu bodoh, bisa menyukai seorang pria seperti dia. Beruntung aku tak menyatakan cinta kepadanya. Kalau iya, sudah jelas aku ditolak. Bukan karena aku tak cantik dan tak memenuhi kriterianya. Tetapi karena dia tak menyukai perempuan.

Tiba-tiba tubuhku terasa terguncang. Aku seakan tersedot ke dunia lain. Melewati lorong hitam yang gelap dan panjang. Aku tak tahu lagi sedang dimana?

“Maya… Maya…” seseorang memanggilku.
Aku membuka mataku perlahan. Bayangan Mas Mara sedang berduaan dengan pria lain masih membekas di ingatanku.
“Maya, bangun!” orang itu memanggilku lagi.
Aku mencoba fokus. Melihat siapa yang memanggilku sedari tadi. Dia Bu Mita, rekan kerja yang duduk di sebelahku.
“Maya, sampai kapan kau akan tidur? Sekarang sudah pukul 13.20 WIB. Jam istirahat sudah habis dua puluh menit yang lalu.”

Aku terkejut. Seketika menengok jam digital di pojok kanan layar komputer. Benar, aku tertidur melebihi jam istirahat. 

Kini semua orang melihat ke arahku. Mereka merasa terhibur dari aku yang baru saja terbangun dari tidur siangku. Tak sengaja aku melihat Mas Mara juga ikut melihat ke arahku. Dia tersenyum kepadaku.

Aku malu.

Jumlah kata : 1303 kata (tanpa judul)

4 comments:

  1. aku kira ceritanya mbak mia, hahaha. ternyata euh cerpen. padahal udah dari judulnya yak. tetapi boleh donk berharap kalau mbak mia mau cerita pribadi disulap jadi cerpen. hahah

    lama gak main ke sini, sehat mbak? :D

    ReplyDelete
  2. halooo mba vee...
    udah lama nggak mampir kesini..
    aku udah lama juga sih nggak maen ke Caboru..
    sehat kan? i'm fine :D

    lama nih aku nggak bikin cerpen, dan jadilah cerpen ituu >.<

    ReplyDelete
  3. Jadi Mas Maranya beneran homo ngga sih? Ahahah.. Ngga fokus baca cerpennya nih :P

    ReplyDelete
  4. kayaknya beneran banget deh cerita ini ...

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top