2

Wonder Mom

Kasih ibu. Kepada beta. 
Tak terhingga. Sepanjang masa. 
Hanya memberi. Tak harap kembali. 
Bagai sang surya. Menyinari dunia.

Rasanya memang tak ada yang salah dari lirik lagu di atas. Ibu adalah sosok yang benar-benar hebat. Dari sekian orang yang paling berpengaruh bagi dunia, ibu kita lah satu-satunya orang yang paling penting dalam kehidupan kita.


Pun demikian pula dengan kehidupanku. Ibukku adalah orang yang paling berperan penting dalam hidupku. Tanpanya, apalah aku ini.

Kasih sayang seorang ibu itu benar-benar terasa saat aku menjadi anak perantauan. Jauh dari ibuk seakan-akan membuka mataku bahwa ibuk hadir untuk selalu mendukungku, memberi semangat, dan membiarkan anaknya bahagia dengan jalannya sendiri.

Tak seperti keluarga yang lain, kehidupanku di rumah tak begitu romantis. Aku bukan orang yang bisa blak-blak-an dengan ibuk. Aku cenderung diam dan ibukku bukan orang yang ingin tahu apa yang anak-anaknya pikirkan dan rasakan. Ibukku akan mendengarkan dengan seksama ketika aku berbicara dan jika aku tak bercerita, ibukku tidak kepo tanya sana sini tentang aku. Meski demikian, ikatan anak dengan ibuk tak kan pernah bisa terputus meski apapun keadaannya. 

Aku menyadarinya hal tersebut saat ngobrol santai dengan ibuk. 
"Waktu itu ibuk pernah ditilang polisi." kata ibukku.
"Kenapa, Buk?"
"Ibuk menerabas lampu merah, dan kebetulan masa berlaku SIM juga udah habis."
"Lho kok bisa? Emang nggak keliatan lampunya?" tanyaku.
"Enggak tahu. Rasanya pikiran ibuk buyar saat itu. Tiap kali nganter kamu ke Jakarta rasanya sedih sekali. Bahkan sering kali ibuk nangis."
"Iya lho Mbak, ibuk sering nangis klo habis nganter Mbak." tambah adikku.

Rasanya "deg". Benarkah? Apa yang ibuk tangisi? Aku baik-baik saja.

Yah, mungkin itulah yang dinamakan ikatan ibu dan anak. Meski tak sering bercengkrama, bercanda gurau, ikatan itu tetaplah jelas kentara.

Banyak hal-hal kecil (dan besar) yang telah ibuk lakukan untukku. Dan salah satu momen yang cukup membuatku trenyuh yaitu saat wisuda diplomaku setahun yang lalu.

Ibuk dan keluargaku sampai di Bekasi sekitar pukul 05.00 WIB. Setelah semua siap, kami menuju Gedung tempat wisuda. Di perjalanan, kami sempat mengobrol.

"Ibuk udah lama batuk pileknya?" tanyaku pada ibuk yang keliatannya hidungnya tersumbat.
"Ini udah mendingan. Kemarin-kemarin udah kayak orang ga bisa ngomong. Kemaren sempat mikir, bisa nggak ya datang ke wisuda kamu? Tapi, ibuk yakin, ibuk akan sehat dan bisa datang!"

Aku terdiam. Ibuk tak pernah bercerita berapa lama dia sakit. Yang aku pikirkan justru ibuk harus datang ke wisudaku tanpa memikirkan keadaan ibuk. Huh, betapa egoisnya aku!

2 comments:

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top