0

Surat untuk Ibu

Ibu, beberapa detik yang lalu aku terhenyak karena sebuah pertanyaan,"dari 2 jam tersisa berapa banyak waktu yang kau gunakan untuk keluarga?"

Aku bingung. Akhirnya aku hanya menjawab 1 menit. Ya, 1 menit hanya untuk mengirim sms untukmu. Oh.. betapa terbatasnya waktuku untukmu Ibu.

Ibu, besok Hari libur ya? Aku tak tahu besok mau pergi kemana. Seketika aku mulai beranda-andai Ibu. Andai aku jadi pindah kerja di Yogya, pasti hari libur seperti besok akan ku habiskan waktu di rumah sekedar membantumu mengupas bawang.

Itulah mengapa aku ingin segera menyelesaikan kuliahku, agar bisa segera pindah ke Yogya dan bisa dekat denganmu, Ibu.
3

Kepuasan

April segera berlalu. Sebentar lagi aku akan mendapatkan lembar absensiku yang ke-7. Ini berarti bulan depan aku memasuki bulan kedelapan aku bekerja, menandakan 5 bulan lagi kontrak kerjaku habis. 

Aku masih belum ada bayangan apakah nanti jika kontrakku habis, aku mendapat kesempatan untuk menjadi karyawan tetap atau diperpanjang kontrak atau aku justru akan memutuskan untuk mencari lingkungan baru. Aku masih belum tahu.

Harus ku akui, keinginan untuk tidak melanjutkan masa kerja di tempatku sekarang sangatlah ada. Bagaimanapun aku merasakan ketidaknyamanan.

Ketidaknyamanan apa yang aku rasakan?
Aku merasa kurang puas. Bukan. Bukan soal gaji/upah kerja. Walaupun memang tergolong standart, aku tak pernah mempermasalahkan gaji yang ku terima. Ku syukuri setiap nominal yang ditransfer ke rekeningku setiap bulan. 
4

Nyesek itu ..

Heii... kau pikir jam berapa sekarang?
Ya.. kurasa, aku dan ribuan orang dimanapun mereka berada saat ini masih terjaga. Sebagian ada yang bersorak bahagia, namun kebanyakan dari mereka adalah kecewa. Sama halnya denganku.

Dengan setianya aku menunggu pukul 24.00 WIB hanya untuk memesan tiket kereta tanggal 25 Juli 2014. Setelah jam berdentang, perburuan pun dimulai. Sayangnya semua web untuk pesan tiket online tidak bisa diakses karena down.

Alhasil, setelah puluhan kali mencoba hingga waktu menunjukkan pukul 01.10 WIB, yang muncul adalah layar berikut.

8

Berkereta

Aku sekarang tengah dalam perjalanan panjang, larut dalam deru kencangnya laju kereta. Senja Utama Jogja, sebuah kereta jurusan Jogja Pasar Senen, yang akan mengantarku ke dunia yang sebenarnya. Aku naik dari stasiun Wates dan seperti biasa aku diantar oleh ibuk dan adikku. Kini entahlah aku sampai mana. Di luar sana gelap dan aku tak mengenalinya.

Beberapa menit yang lalu aku merasa kelaparan. Padahal aku tadi sudah makan sekitar pukul 15.00 WIB. Mengingat aku besok kerja dan tiap pagi hanya sarapan secuil roti dan aku membayangkan diriku akan sangat kelaparan, akhirnya aku memesan nasi goreng pada pelayan restorasi kereta.

Sekitar 15 menit nasi goreng sudah diantar di gerbong 2 no 13C, kursiku. Aku cukup terbelalak dengan bill yang diberikan pelayan. Rp 30.000,- Waduh, bilang nggak jadi rasanya nggak mungkin. Dan akhirnya aku membayarnya.

Dengan uang Rp 30.000 aku mendapatkan nasi goreng, paha ayam, telur, lalapan, dan segelas jus jambu biji. Daripada memikirkan harganya mending aku menikmatinya.

Berkereta. Menginjak tahun ke-4 aku wira wiri Jakarta (Bekasi) - Purworejo, aku benar-benar merasakan perubahan besar dalam dunia perkeretaan. Dulu tiket tanpa tempat duduk habis terjual, kini tak ada. Dulu penjual mijon popmi sering mondar-mandir, kini tak ku temukan. Benar-benar perubahan yang signifikan.

Sesungguhnya aku sangat penasaran. Kemana ya para penjual mijon popmi yang dulu jumlahnya sangat banyak, di setiap stasiun ada, tapi kini mereka seakan menghilang. Ya. Mereka benar-benar tak ada. Ketika misalnya kereta berhenti di stasiun, keberadaan mereka pun tak terlihat. Ah iya, aku lupa. Peraturan sekarang kan hanya yang membawa tiket yang bisa masuk ke peron. Para pengantar saja tidak diperbolehkan masuk, apalagi pedagang. Lantas kemana perginya mereka? Apakah beralih ke terminal? Atau justru beralih profesi? Ah dimana pun mereka, ku berdoa semoga rejeki mereka tetap mengalir dimanapun mereka berada.

Kalau harus menceritakan perkembangan kereta berdasarkan pengalamanku akan sangat panjang nantinya. Yang jelas sekarang ini, pemandangan yang terlihat berbeda sekali. Di masing-masing kursi ada colokan listrik sehingga tak perlu khawatir saat handphone atau smartphone kita kehabisan baterai. Dan heii lihatlah, ada yang nyalain laptop juga. Keren ya..
3

Rindu Kalian

Dear Teman-Teman MI 2010 Family,

Apa kabar kalian semua? Ku harap kalian semua baik-baik saja di tempat kalian berada saat ini. Aku sungguh merindukan kalian. Aku merindukan setiap momen bersama kalian semua.
MI 2010 Family
2

Daya Tahan dan Ketekunan

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas kuliah Self Development Minggu ke-7
 
Saya memiliki aspek resilience dan perseverance yang baik

Lulus kuliah, langsung kerja, kemudian melanjutkan kuliah SI.”
Sebuah kalimat sederhana yang mulai sering aku utarakan semenjak aku memasuki tahun ketiga ketika aku berkuliah di sebuah politeknik swasta di Jakarta Utara. Meski terdengar sederhana, namun aku sangat membutuhkan perjuangan dan pengorbanan untuk mewujudkannya.

Beruntungnya aku kuliah di politeknik yang mempunyai relasi yang baik dengan perusahaan-perusahaan besar, sehingga sebelum lulus aku bisa melamar pekerjaan di perusahaan tersebut.
2

Manfaat Kalian untuk Perkembangan Diri

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas kuliah Self Development Minggu ke-2

Manfaat Keluarga, Teman/Sahabat dan Jejaring Sosial untuk Perkembangan Diri

Manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Sejak kita lahir hingga sekarang ini kita tak pernah lepas dari bantuan keluarga, teman, sahabat, bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun. Keberadaan mereka di tengah kehidupan kita sedikit banyak mempengaruhi perkembangan diri kita.

Begitu pula yang terjadi pada diriku. Keluarga yang terdiri dari kedua orang tua, kakak, dan adik mempunyai peran yang  besar dalam perkembangan diriku. Kedua orang tuaku tidak otoriter. Mereka juga tidak memanjakanku dan mereka bukan tipe orang tua yang tidak peduli pada anak-anaknya. Orang tuaku selalu marah ketika aku masih menonton TV kala adzan magrib berkumandang. Bapakku akan mematikan TV sambil mengomel. Ditambah pintu dan jendela yang masih terbuka, kendaraan yang belum dimasukkan ke dalam rumah, maka menjadi ‘rame’ sore hari di rumah mungil kedua orang tuaku. Menurutku wajar jika Bapakku marah karena sudah saatnya adzan namun aku dan kedua saudaraku malah masih asyik nonton TV. Dari kebiasaan Bapakku yang  seperti itu, aku justru diajarkan untuk sholat tepat waktu. Demikian pula waktu subuh. Ibuku dengan setia me-missed call handphoneku agar aku terbangun dari tidurku dan bisa sholat subuh berjamaah. Aku pun terbiasa untuk sholat subuh tepat waktu, meski terkadang setelah sholat subuh aku tidur lagi.
5

Rotasi Tempat Duduk #2

Hari ini aku berasa masuk di kantor baru. Bagaimana tidak? Aku lihat ke depan, ke kanan, ke kiri, ke belakang, aku tak menemukan orang yang biasanya aku lihat. Suasananya pun terlihat berbeda.

Ya, kantorku, khususnya lantai 2, ruangan dimana aku bekerja, telah selesai direnovasi dan disusun dengan formasi baru.

Seperti yang pernah ku ceritakan sebelumnya, sebagai admin marketing area, aku terpisah dengan para marketing area. Aku terpisah dengan mereka. 

Ruang lantai 2 seakan terbagi menjadi 3 bagian;
Bagian 1: Marketing Area + Sales Planning
Bagian 2 : Inventory + 'campur-campur'
Bagian 3 : Ekspor & Impor + Master Data
5

Rasa

Aku tahu mengapa aku tak bisa akrab denganmu seperti aku akrab dengan yang lain. Ku rasa, aku tahu jawabannya. 

Sesungguhnya aku ingin sekali berteman denganmu. Setidaknya bercakap sepatah dua patah kata secara langsung. Bahkan cukup kau memanggil namaku saja, aku pasti sangat senang sekali. Sayangnya aku tak pernah bisa. Aku tak pernah bisa berucap padamu dan kau pun demikian. Tak ada momen yang mengharuskan bahkan memaksa kita tuk saling bicara.

Sebenarnya, tanpa momen pun kita bisa saling menyapa. Hanya saja, aku selalu membawa 'rasa'. Itulah yang membuat lidahku kelu, bahkan hanya tuk sekedar melempar senyum. Jantungku selalu berdebar kencang ketika ku di sekitarmu. Auramu membunuhku. Sedetikpun aku tak berani menatap matamu. Andai aku bisa meredam rasa ini, mungkin aku bisa lebih sedikit berani tuk mengajakmu bicara.
9

Pemenang GA Ketika Kami Berbicara

Happy Birthday to Me..
Happy Birthday to Me..

Hahaha... postingan ini kok kesannya ngarep biar pada ngucapin "Met Ultah" ya.. Padahal mah..
Padahal cuma pengen di-doa-in, semoga dengan bertambahnya usia, aku jadi pribadi yang lebih matang dan mulai harus memikirkan "bekal" buat kehidupan selanjutnya karena bagaimana pun juga jatahku hidup di dunia ini sudah berkurang. #sedih

Baiklah, di hari yang berbahagia ini, aku juga ingin berbagi kebahagiaan. Aku akan mengumumkan pemenang GA Ketika Kami Berbicara. Buat para peserta, siap-siap ya siapa tau benda kesayanganmu muncul sebagai pemenang.
6

Last Update Peserta GA Ketika Kami Berbicara

Halloo...
Lagi pada nunggu pengumuman GA Ketika Kami Berbicara yaa..?
Tenang.. tenang..
Aku sebutin pesertanya dulu yaa.. barang kali ada yang ketlingsut :p
Monggo dicek. Kalau nggak ada nama kalian, coba cek lagi di postingan GA nya. Passtikan kalian sudah mendaftar ^^
9

Giveaway : I'm in Wamubutabi

I’m participating in the Pay-it-Forward initiative. The first 5 people who comment on this status with “I’m in” will receive a surprise from me at some point in this calendar year – anything from a sweet dessert, a lovely CD, a ticket, a book or just absolutely any surprise I see fit! There will be no warning and it will happen when I find something that I believe would suit you and make you happy! These 5 people must make the same offer in their status (FB or Path or Twitter, etc.) and distribute their own joy. Simply copy this text onto your profile, (don’t share) so we can form a web of connection and kindness.

Let’s do more nice and loving things for each other in 2014, without any reason other than to make each other smile and show that we think of each other. Here’s to a more enjoyable, more friendly and love-filled year!

Nah lho... pada ngerti nggak tuh artinya apa..
Powered by Blogger.
Back to Top