9

Indahnya Pagi di Pantai Jatimalang

Siapa yang pernah berlibur ke pantai?
Pasti banyak dong yang pernah merasakan deburan ombak pantai.
Tapi pernah nggak sih kalau main di pantai jam 5 pagi?
Itulah pengalaman liburanku bersama ibuku.

Tak terasa tiga tahun telah ku lewati di ibukota (Jakarta) untuk menuntut ilmu. Sementara itu, keluargaku (ibuk, bapak, mbak, adik) hidup damai di sebuah desa bernama Kebonsari, salah satu desa di kabupaten Purworejo. Keadaan inilah yang selalu membuatku rindu untuk pulang ke rumah. Jangankan liburan bersama keluarga, untuk berkumpul saja aku harus menunggu libur semesteran maupun libur akhir tahun.

Bukan ibuk namanya, jika saat aku berkesempatan pulang, aku tak dimanja. Salah satunya dengan mengajakku berlibur. Meski tak suka jalan-jalan, ibuku bersedia meluangkan waktunya untukku. 

Mengingat waktu liburku yang tak panjang, ibuk mengajakku ke suatu tempat yang dekat, murah, dan menyenangkan. Mana lagi kalau bukan Pantai Jatimalang.
Pantai Jatimalang
Jangan bayangkan pantai ini berada di kabupaten Malang karena Pantai Jatimalang terletak di desa Jatimalang, kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, masih satu kecamatan dengan rumahku. Jika dari rumah, perjalanan pun cukup memakan waktu 15 menit menggunakan sepeda motor. Dekat bukan?

Yang lebih menarik, ibuk selalu mengajak ke pantai dini hari. Mengapa? Mungkin inilah beberapa alasannya;
Sehat
Udara pagi tentu saja menyehatkan. Apalagi di pedesaan yang notabene masih banyak pepohonan dan jarang sekali ada polusi udara akibat banyaknya volume kendaraan.

Gratis
Pukul 5 pagi, para penjaga loket pintu masuk masih berkumpul bersama keluarganya. Otomatis dengan mudah kami masuk lokasi pantai tanpa harus membayar sepeser pun.

Sepi
Mungkin inilah alasan utama mengapa ibuku mengajakku di pagi hari. Secara ibuku tak suka keramaian. Misal pergi ke pantai siang hari, maka ibuk hanya duduk di warung dekat pantai dengan mengawasi polah anaknya.
Jika ke pantai siang hari, ibuk lebih memilih duduk di warung daripada menikmati deburan ombak
Biasanya aku ke pantai tak hanya berdua. Adekku selalu ikut dan Mbakku kadang ikut kadang nggak. Sementara Bapak, lebih asyik menonton tausyiah pagi di televisi.

Apa saja yang aku lakukan bersama ibuk (dan adekku)?
Pukul 5 pagi. Kami tak langsung bermain air. Udara yang menusuk tulang membuat kami enggan mengejar ombak. Kami pun memutuskan untuk menyisiri pantai. Berjalan kesana kemari meninggalkan jejak kaki dimana-mana.

Setelah badan terasa cukup hangat, saatnya kami mengejar ombak. Pantai Jatimalang termasuk pantai selatan sehingga ombaknya cukup ganas, perlu hati-hati dan kewaspadaan ekstra saat bermain disana. Awalnya aku dan ibuk hanya berdiri cukup jauh di bibir pantai, menanti ombak besar yang menghampiri kaki-kaki kami.
Senangnya bermain ombak
Semakin lama, kami semakin mendekat. Jarak kami ke pantai pun hanya beberapa meter. Dan kala ombak besar menerjang, aku hanya  bisa berpegangan kuat pada ibuku. Sekalinya bajuku basah terkena ombak, maka semakin berani aku menantang ombak.
Aku dan ibuk
Kala matahari terbit. Aku dan ibuk terdiam, menikmati sejenak sang mentari yang bangun dari peraduannya. Sayangnya, sunrise yang kami lihat tak seindah yang sering kami lihat di televisi karena di Pantai Jatimalang, matahari terlihat muncul dari daratan, bukan dari lautan. Meski demikian, ia cukup menawan.

Selanjutnya, pemandangan lain yang cukup indah untuk dinikmati adalah melihat para nelayan yang berjuang melawan ombak dengan perahu-perahu kecil mereka. Ombak Jatimalang yang besar membuat para nelayan harus berusaha keras agar perahu mereka bisa berlayar di tengah lautan. Aku sangat takjub melihat kegigihan para nelayan-nelayan itu. Mereka berjuang demi mencari sesuai nasi dengan mencari ikan-ikan di tengah lautan. Belum mendapat ikan, mereka harus berusaha menerjang ombak. 
Perahu yang digunakan para nelayan untuk mencari ikan
Begitu menikmati pemandangan pantai di pagi hari, tak terasa matahari sudah sepenggalah. Pantai perlahan mulai ramai oleh pengunjung. Para penjaja makanan pun mulai membuka lapak. Sementara itu, aku dan ibuk justru bersiap akan pulang dengan celana basah dengan pasir menempel.

Keluar kawasan pantai, ibuk mampir sebentar di pasar Jatimalang. Biasanya, ibuk yang berkeliling pasar mencari makanan. Sementara aku duduk di motor menunggu ibuk berbelanja sate lontong, gethuk, dan borjo (bubur kacang ijo).

Sesampainya di rumah, aku mandi, ganti baju dan menikmati makanan yang ibuk beli di pasar.

Ahh.. mengingat liburan ini membuatku ingin segera pulang.

jumlah kata: 630 kata

9 comments:

  1. sering banget malah pagi mash uput2, atau sore2 jlan2 kepantai... kn dulu sy pernah tinggal di bantaran pantai ... :)

    ReplyDelete
  2. Wah terimakasih banyak sob atas share nya ya. Sangat bermanfaat untuk saya. Salam :)

    ReplyDelete
  3. UDah lama banget kayanya gak ke pantai >.<

    ReplyDelete
  4. @choppie88: enak yaa klo ke pantai pagi2/sore2... ga panas :D

    @Ririn: sering-sering ya maen ke sini ^^

    @Ranii Saputra: maen ke pantai seruuu lohh

    ReplyDelete
  5. terakhir ke pantai bulan lalu? hihihi

    salam hangat dari Kesesi

    ReplyDelete
  6. Cerita yang bagus, terimakasih ya sudah mengikuti Mini Kontes Ane, salam sukses selalu

    ReplyDelete
  7. seru banget kalau ke pantai pagi .... indah pastinya sunrisenya ... tuh terlihat dari ekspresi foto-foto. jadi pingin gabung nih, slam ke bundanya. salam kenal juga bagi yang membungkam. sy juga suka puisi. sukses lombanya ya. sy tunggu di http://bchree.wordpress.com/2014/01/08/malaikatku-di-dunia/

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top