0

Aku dan Rumah

Kini aku (masih) duduk sendiri, memegang erat buku gambar dan pensil yang masih tetap runcing. Tak ada yang beda. Hanya saja buku gambar yang dulu masih bersih kini sudah hampir penuh tak menyisakan banyak ruang kosong. Dan lihatlah, pintu depan rumah tempatku duduk sepanjang waktu kini terbuka lebar memperbolehkanku masuk. Masih ingat pertama kali aku mengunjungi rumah ini. Pintu itu, pintu yang sama seperti yang kulihat saat ini, terbuka lebar, sangat lebar, namun perlahan tertutup. Mungkin karena aku hanya membawa buku gambar kosong dan pensil yang belum diraut, sang pemilik rumah tak menginjinkan aku masuk melalui pintu depan. Aku pun hanya diam, terpaku dan merenung. Ku duduk di bawah naungan pohon rindang yang tumbuh di depan rumah itu. Ku ambil rautanku, ku tajamkan pensilku. Ku buka buku gambarku dan mulai melukis.

Satu per satu gambarku mulai terlihat. Meski tak begitu indah, namun masih layak untuk ditempel di dinding ruangan. Pemilik rumah pun hanya melihatku dari jendela tanpa ada niat untuk mengajak ku masuk dalam rumahnya. Sementara itu aku terus menggambar, meraut pensilku yang sudah tumpul, dilanjutkan dengan menggambar kembali.
Tiba-tiba sebuah angin menyibak rambutku, menerpa lembaran buku gambarku. Ku pandangi keadaan sekitarku. Lihat! Ada rumah lain yang membuka lebar pintu depannya. Aku bangkit dari duduk di bawah pohon, ku genggam erat buku gambar dan pensilku.

Aku berjalan perlahan menuju rumah yang pertama. Pintunya tak menutup ketika mendekat. Namun, sebelum bertemu dengan sang pemilik rumah, aku segera keluar dari rumah tersebut. Bukan lantaran takut atau apa, namun karena tempelan di dinding rumah tersebut. 'Dilarang membawa gambar'.

Aku berjalan menuju rumah yang kedua tanpa meninggalkan buku gambar dan pensilku. Di rumah yang kedua aku disambut baik. Aku bertemu dengan Sang pemilik rumah. Ia menyukai gambar dan aku menghadirkannya dalam buku gambarku. Sayangnya, sebelum aku menunjukkan gambar karyaku, sang pemilik rumah sudah terlihat tak menyukai buku gambarku. Aku pun melangkahkan kaki dengan bersedih hati. Namun, ketika ku keluar dari rumah kedua, masih ku dapati rumah ketiga dengan pintu yang menganga lebar. Aku berjalan menuju rumah tersebut. Melihat aku yang membawa pensil, sang pemilik rumah dengan baik mempersilahkanku masuk ke dalam. Namun ternyata, sang pemilik rumah ketiga salah sangka. Dengan pensil yang aku bawa, sang pemilik rumah menganggapku mahir menulis karena memang dia sedang mencari orang yang pandai menulis. Hatiku kembali bersedih. Namun, aku tak lantas patah arang. Ku paksakan kaki ini berjalan menuju rumah keempat. Berita baiknya, sang pemilik rumah sedang mencari orang yang pandai menggambar, tanpa peduli bagus atau tidak buku gambar yang dibawa. Aku senang. Sayangnya, tak hanya aku yang ingin masuk ke rumah itu. Aku dan mereka harus bersaing atas gambar yang kami miliki. Ku tunjukkan gambar-gambar yang pernah ku lukis. Namun, ternyata sang pemilik rumah lebih menyukai gambar milik orang lain.

Tak tahu lagi aku harus melangkahkan kaki. Ku lihat sekitarku. Ada beberapa rumah dengan pintu tertutup. Aku yakin pintu-pintu itu nantinya terbuka meski aku tak tahu kapan waktunya. Aku kembali, melangkahkan kaki menuju pohon besar yang menaungiku.

Hingga kini aku sekarang. Di depan rumah dengan pintu yang terbuka lebar. Aku ragu tuk masuk ke dalam. Bahkan pohon tempatku bernaung pun diam tak punya saran. Sementara itu angin terus menerpa ku, memperingatkanku agar tetap terjaga tuk memperhatikan keadaan sekitar. Barang kali masih ada pintu lain yang terbuka untukku.

Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus masuk ke rumah yang awalnya sang pemilik tak memperbolehkanku masuk? Apa aku harus menunggu pintu dari rumah lain terbuka? Entahlah...

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top