8

It's me



Dalam seminggu terakhir aku punya julukan baru, yaitu ~lala~. Indah ya kedengarannya, hanya saja mengingat asal usul julukan tersebut, mungkin beberapa dari kalian akan sakit hati mendapatkan julukan baru tersebut.
Awalnya aku hanya sekedar curhat ke temanku, berkeluh kesah dengan sesuatu yang tumbuh di wajahku.
“Eh, kok semakin lama di wajahku semakin banyak andeng-andeng ya? Lihat deh. Dulu tuh cuma titik-titik hitam kecil, kok semakin lama semakin lebar ya? Haduh.” 
*andeng-andeng=tahi lalat
“Kayak bule, banyak andeng-andengnya.” Komentar singkat dari temanku.

Di kemudian hari, temanku memberikan julukan ~lala~ itu padaku.
“ternak lalat ya, Mbak? Kok banyak tahinya di muka. Hahaha.”

Aku tahu temanku sedang bercanda. Namun, pertama kali mendengar rasanya ‘jleb’. Akan tetapi, semakin sering ku mendengarnya, semakin biasa pula ku menanggapinya. Seperti halnya julukan/sebutan lain yang diperuntukkan khusus untukku.
‘seperti orang India’ itu julukanku dari aku kecil hingga aku sekarang. Bagaimana tidak? ada satu tahi lalat kecil (lumayan besar) yang nangkring tepat di jidatku. Tidak tepat ditengah, namun mendekati simetris wajah. Tak jarang saat orang bertemu denganku, mereka menyambutku, “Waah.. ada orang India.”

Julukan atau sebutan itu semakin beragam jenis saat aku mengenal teman-teman kuliahku saat ini. “pesek” padahal hidungku mungil, kecil, dan lucu. “pendek” padahal  tinggiku lebih dari 150cm. Dan sebutan terakhir yang sering terdengar beberapa bulan yang lalu sebelum masa magang, yakni eyeshield 61. Kenapa 61? Kenapa bukan 21? Ya, karena mereka menganggap berat badanku sebesar 61 kg. padahal berat badanku … 63 kg. Tidaaaak. Aku tidak pernah menginjak angka 60 untuk berat badanku (semoga tidaaaaaak). Walau demikian, aku tetap terlihat … gemuk. Dan panggilan ‘gendut’ pun merupakan salah satu sebutanku.

Eyeshield 21; Lihat tokoh yang paling belakang. itulah aku -_-


Itu beberapa hal sepele yang mungkin bagi mereka-mereka yang ber-hati kecil akan merasa tersinggung dengan julukan atau sebutan tersebut. Namun, sejauh ini aku masih merasa percaya diri atas diriku yang pesek, pendek, dan gendut. Satu hal yang sering membuat aku merasa minder adalah gigi tarata-ku alias tak rata alias gingsul. Waktu SMP, ibuku menyuruhku untuk memakai kawat gigi. Namun, aku menolaknya. Selain malu karena waktu itu jaman Betty La Vea yang terkenal dengan kawat giginya, aku juga takut merusak ciptaan-Nya, pemberian dari Sang Maha Kuasa. Hingga kini aku sekarang, gigiku masih tarata. Terkadang aku sering tak percaya diri, apalagi saat sesi foto-foto, senyumku terlihat memaksa dan manisnya senyumku sedikit berkurang.
Sosok Betty
Akan tetapi, meski aku tidak sempurna secara fisik; hidung pesek, tinggi badan kurang, berat badan berlebihan, dan gigi tak rata, namun aku masih bisa berucap syukur alhamdulillah. Meski aku pesek, aku masih bisa bernapas, menghirup segarnya oksigen. Meski aku pendek, aku tak punya masalah dengan kaki-kakiku. Aku masih bisa berjalan normal. Kemudian, badanku yang agak gemuk nyatanya tak menghambat aktivitasku. Aku masih bisa ini dan itu. Apa bedanya dengan mereka-mereka yang bertubuh ideal? Tak ada bukan?
Foto tahun 2012; tebak aku yang mana? :D
Sementara itu, gigi gingsulku ku anggap sebagai bonus dari Alloh SWT. Dari sekian gigi rata yang diberikan Alloh SWT, aku adalah orang terpilih untuk mendapatkan gigi tarata ku. Lagi pula gigi-gigi ini masih bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Demikianlah aku mensyukuri segala kekuranganku. Dengan bersyukur maka Alloh SWT akan menambah rejeki untuk kita, salah satunya kesehatan. Bersyukur sekali hingga kini aku tak pernah ingat kalau aku pernah dirawat inap di rumah sakit karena seingatku dari aku SD hingga kini aku hampir selesai kuliah, aku tak pernah merasakan 'tidak nyaman'nya berbaring di sebuah kamar di rumah sakit. Bukan berarti aku tidak pernah sakit, namun, Alhamdulillah tiap kali sakit, bukanlah sakit yang parah. Bersyukur, itu kuncinya

Tahukah kamu, terkadang saat aku merenung sendirian, aku merindukan teman-teman yang memanggilku dengan julukan-julukan di atas. Aku justru tidak suka dengan orang yang merasa sungkan denganku, bersikap biasa saja di depanku, namun di belakangku membicarakan aku, "Mia gendut yah, ini itu bla bla bla." Itulah yang membuat aku merasa 'biasa saja' saat teman-temanku 'main fisik'. Toh, aku masih sehat wal afiat :)

Demikian kisah tentang aku yang tak sempurna. Bagi kalian yang memiliki kisah yang sama, tak perlulah merasa sakit hati, tersinggung, merasa tidak percaya diri, atau apapun. Berikan senyuman terbaik kita karena suatu saat kita akan merasakan rindu pada mereka yang telah memberi julukan kepada kita. Dan selalu ingat, Alloh SWT melihat hambanya bukan karena dia cantik atau tidak, menarik atau tidak, namun karena amal ibadah kita. Semoga menginspirasi ^^


Partisipan GA All About You

8 comments:

  1. Kalo saya liat cewek atau cowok gingsul kok kesannya lebih manis ya mbak,,heheh
    ucapan orang yang negatif mah gak usah digubris mbak. kasih senyum aja :)

    ReplyDelete
  2. hehehe.. iya mbak.. saya juga gitu, ga dimasukin ati, malah bagi saya 'buat seru-seruan' aja :D

    ngomong2 soal gingsul, gingsul itu banyak jenisnya, ada yang nambah manis, tapi ada juga yang buat penampilan jadi (maaf) kurang menarik, tapi balik lagi ke diri sendiri, selama percaya diri, pasti ngga akan jadi masalah :)

    ReplyDelete
  3. dari fotomu itu ada satu yg belum ketihatan..
    hidung udah, tarata udah..
    ada satu yg belum.. apa yah?
    Lala ~

    ReplyDelete
  4. jahaaaaattt >.<

    itu foto tahun lalu,
    belum ternak lala..

    hahaha :D

    ReplyDelete
  5. Kita itu harus bersyukur dengan semuanya mbak. Lagian kalau di perhatiin, orangnya cantik kok :)

    ReplyDelete
  6. yaps... bener banget itu mas...
    hehehe

    Makasih sudah bilang aku cantik..
    hahaha :D

    ReplyDelete
  7. Wah ceritanya 11-12 nih ama diriku waktu sekolah hehehe.
    makasih ya udah berpartisipasi di my 1st GA :)
    Setuju. bersyukur adalah kunci yang membuka pintu kebahagiaan kita.
    No matter what people say about us.
    Alloh SWT hanya menilai amal ibadah kita.
    Sukses terus ya Dik...

    ReplyDelete
  8. Iya Mba,, lebih baik menyempurnakan amal ibadah kita dibandingkan sibuk mendengarkan 'omongan2 tidak baik' tentang diri kita :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top