2

Anak'e Pak Yatiman

Berbicara mengenai dokter, aku tak punya kenangan tertentu untuk diceritakan. Mengapa? Karena dengan penuh rasa syukur saya ucapkan terima kasih kepada Alloh SWT yang telah memberikan kesehatan kepada saya. Aku jarang periksa ke dokter karena sakit yang ku derita mungkin hanya demam, batuk, pilek, dan teman-temannya. Namun, kata bapak ibuk, aku pernah menderita penyakit mata ikan yang mengharuskanku tuk menginap di rumah sakit. Kata bapak ibuk lagi, aku adalah anak yang menghiasi malam di rumah sakit dengan suara tangisan yang riang. Tapi itu dulu, saat aku masih balita. Mana aku ingat kalau saat itu aku menggemparkan rumah sakit dengan suaraku yang nyaring. Mana ingat pula aku siapa dokter yang menyembuhkanku.

Satu-satunya dokter yang paling ‘ngena’ sepanjang hidupku adalah dokter gigi. Mengapa demikian? Karena di tangannya lah gigi-gigiku sewaktu aku kecil dicabut dengan paksa. Tak hanya sekali dua kali. Namun, lebih dari tiga kali. Aku ada sedikit kelainan dengan pertumbuhan gigi-gigiku sewaktu kecil. Jika kebanyakan anak kecil, giginya tanggal menyisakan ompong berkepanjangan, menanti gigi barunya yang mungil, lain halnya dengan ku. Gigiku masih kuat. Namun, sesuatu berwarna putih muncul di balik gusiku. Gigi baru? Ya. Mau tak mau gigi kuatku harus dicabut. Menyakitkan sangat. Ketika jarum suntik harus masuk mulutmu menusuk gusimu yang rapuh. Apakah aku menangis? Tidak, hanya diam menahan air mata yang sedikit lagi akan tumpah. 
Sejujurnya aku benci ke dokter, khususnya dokter gigi. Mengingat waktu kecil jarum-jarum itu menembus gusiku berkali-kali. Di bagian ini sudah, lanjut ke bagian lagi. Namun, secara jujur pula, aku akui mereka hebat. Tanpa tangan-tangan terampil mereka, gigiku entah bagaimana bentuknya. Yah, walaupun gigiku kini tetap tak rata, namun aku tak bisa bayangkan jika gigi-gigiku dulu tak dicabut paksa. Pasti jauh lebih berantakan dari sekarang. Terima kasih Bu Dokter, meski aku tak tahu siapa namamu dan dimana sekarang dirimu, semoga kau baik-baik saja dimana pun kau berada dan semakin banyak membantu para pasien yang mengalami masalah dengan gigi-gigi mereka. 

Satu dokter yang hingga kini masih ku ingat namanya, namun tak pernah ku sadari aku pernah bertemu dengannya, adalah seorang dokter yang akrab disapa Pak Yatiman. Beliau adalah orang yang bertanggung jawab atas keselamatanku, dan juga ibuku. Beliau satu-satunya orang yang meninggalkan jejak di perut ibuku. 

Jejak? Perut?

Munculkah pertanyaan itu? Yah, Pak Yatiman adalah seorang dokter yang membedah perut ibuku demi mengeluarkan aku yang malang ini. Aku terlahir dengan cara Caesar. Mungkin bukan hal yang aneh lagi jika kini banyak persalinan dengan cara macam ini. Bahkan, dengan alasan tak mau merasakan sakitnya melahirkan, para ibu-ibu masa kini memilih melahirkan dengan Caesar. Namun, berbeda dengan ibuku. Mengingat tahun 90an, trend Caesar belum booming, maka melahirkan dengan jalan tersebut sangat dihindari oleh kaum ibu. Apalagi biayanya yang tak murah. 

Namun, apa mau dikata, ibuku harus mengeluarkan ku dari rahimnya melalui perutnya dan Pak Yatiman lah yang membantu melakukan pembedahan. Aku pun terlahir dengan sehat. Yey.
Saat aku terlahir itulah pertemuan pertamaku dengan Pak Yatiman. Hingga kini, aku masih belum bertemu dengan beliau kembali.

Sewaktu SMA, setiap hari aku hanya bisa menatap (dengan mata berkaca-kaca) plank nama Dokter Yatiman di depan Rumah Sakit Kasih Ibu karena kebetulan SMAku bersebelahan dengan Rumah Sakit dimana aku dilahirkan. “Apa kabar Pak? Semoga Bapak sehat selalu” demikian yang selalu ku sampaikan bersama desahnya angin.
Penampakan RS Kasih Ibu
Demikianlah kisahku bersama Pak Yatiman. Meski aku tak pernah tahu bagaimana wajah beliau, aku merasakan sosoknya hingga kini. Apalagi tetangga-tetanggaku sering kali menganggapku sebagai “Anak’e Pak Yatiman”. Jika kakakku adalah anak-nya ibuk, maka aku adalah anak-nya Pak Yatiman. Mungkin karena dulu aku satu-satunya bayi di desaku yang lahir jauh-jauh ke rumah sakit kota dengan Caesar. Beda dengan teman-teman sebayaku yang lahir di rumah dengan normal.

Terima kasih Pak Yatiman. Kau membuatku menjadi istimewa. Terima kasih telah menjalankan tugasmu dengan baik sehingga aku dan ibuku selamat. Terima kasih untuk semuanya.

2 comments:

  1. Ternyata Pak Yatimam itu dokter yang nolong persalinan :)

    Semoga sukses untuk GAnya Om Fikri ya :D

    ReplyDelete
  2. semoga pak yatiman senantiasa berkah hidupnya...

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top