0

Kamu,,


Aku melihatmu, berjalan gontai, sendirian. Kau begitu ceria, tak pernah nampakkan kesedihanmu. Riang, itulah dirimu. Aku sama sepertimu, sendiri. Bedanya, aku tak seceria dirimu. Tapi, inilah diriku.
Kita dipertemukan oleh waktu. Waktu yang menentukan kapan dan dimana kita berjumpa. Aku disini dan kau disana, namun kita dipertemukan di tempat ini, memulai hari-hari bersama. Persahabatan ini pun dimulai. Ya. Aku dan kamu berteman.
Hari demi hari aku mulai mengenalmu. Ku temukan persamaan antara ku denganmu. Di balik tingkah lakumu, ada sifat tersembunyi yang ku rasa mirip denganku. Itulah yang membuatku berpikir, mungkin kau bisa jadi sahabat terbaikku. Kau sosok yang luar biasa, walau sebenarnya ada bagian darimu yang rapuh. Begitu pula denganku. Aku terlihat tegar tanpa masalah, walau sebenarnya masalah selalu menderaku. Aku ingin kita berbagi cerita denganmu, agar kita bisa saling menguatkan.
Aku menanti waktu yang tepat. Biarlah waktu yang mengatur kapan dan dimananya. Sayangnya, waktu yang ku nanti tak pernah datang. Hingga ku harus jalani hari seperti biasanya.

Aku masih menanti waktu yang lain. Berharap kali ini ia akan datang mempersatukan kita. Lagi-lagi tidak. Alam telah membuat keputusan. Seleksi alam telah terjadi. Kau telah dipersatukan dengan mereka. Dan aku telah dipersatukan dengan mereka yang lain. Walau demikian, kita masih tetap bersama.
Hari demi hari aku semakin mengenalmu. Kau begitu bahagia dengan mereka. Dan aku? Aku juga bahagia dengan mereka yang lain. Namun, terkadang aku merasa tak suka dengan kebahagiaanmu. Tapi, alam masih baik. Ia masih memberikan waktu untukku bersamamu, walau dengan cara yang berbeda.
Seiring berjalannya waktu, kau mulai menampakkan dirimu yang sebenarnya, berbeda dari pertama ku mengenalmu. Aku memang tak mengenalmu seutuhnya. Namun, jujur aku tak suka. Aku lebih suka kamu yang dulu, saat pertama kali kita bertemu. Kau begitu lugu, cocok sekali dengan namamu.
“Inilah aku yang sebenarnya,” katamu. Tapi aku tetap suka kamu saat kita pertama kali bertemu.
Aku tak tahu mengapa alam masih memberikan waktunya untukku bersamamu. Tak masalah. Aku masih sama seperti yang dulu. Aku masih bahagia dengan mereka yang lain ku. Dan kau? Masihkah kau bahagia dengan mereka ­mu? Sepertinya masih, namun kau tak sebahagia dulu dan kau tak sebahagia aku saat ini.
Kau merasa kesepian. Benarkah demikian? Mungkin ini salahku. Alam yang membuat kita selalu bersama, namun, hati kita belum bisa bersatu. Aku sedih melihatmu merasa seorang diri. Bukan hanya aku, tapi mereka yang lain ku. Kami semua memikirkanmu. Tahukah kau akan hal itu?
Akan tetapi, bukan kami yang menghindar darimu hingga kau merasa sendiri. Bukan kami yang tak mau bersamamu. Namun, ada satu hal yang seharusnya kau lakukan. Cukup satu hal. Cobalah dalami aku dan mereka yang lain ku, cari tahu apa yang kami inginkan. Jangan tunggu kami datang padamu. Tapi, mendekatlah pada kami. :)

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top