0

Aku Merindukanmu :')

Sore ini ada  yang aneh dengan handphoneku. Gambar message tanda SMS masuk itu kelap-kelip, tak diam seperti biasanya. Ada apa gerangan? Mungkin memori HPku sudah terlalu penuh. Tidak.  HP ini masih bisa untuk menampung seribu SMS. Tidak lama kemudian, sebuah notifikasi muncul. Rupanya, kakakku sedang mengirim MMS (Multimedia Messaging Service). Ada apa? Bukannya selama ini ia jarang menghubungiku. Apa yang sedang ia kirimkan untukku?
Penasaran. Sayangnya, rasa penasaran itu masih saja menggelayut karena MMS yang kakakku kirimkan gagal untukku terima. Tak apalah. Jika penting, dia pasti mengirimnya lagi, pikirku.
Hingga malam menjelang. Gambar message itu tak lagi kelap-kelip. Tak muncul malah. Namun, sebuah SMS dari MMSC itu mengisi Inbox-ku, menjadi bagian dari SMS-SMS yang lain. Isi pesan itu adalah sebuah link. Aku pun membukanya dan lihatlah apa yang ku dapatkan,

Adikku :')
Oh, rupanya foto adikku. Tak biasanya, ia mengirimkan fotonya lewat HP kakakku. Sebelumnya, ia juga mengirimkan fotonya bersama sepeda barunya atau foto Ninis, kucing keluarga kami yang sekarang entah ada dimana dan tak diketahui lagi kabarnya. Semua foto-foto itu ia kirim lewat HP ibuku. Kecanggihan teknologi membuat kita dekat walaupun jarak ribuan kilometer memisahkan kita.
Sekarang, tak penting lagi foto itu dikirim lewat HP kakakku atau HP ibuku. Perhatianku lebih tertuju pada foto itu. Ya, itu foto adikku yang sekarang duduk di bangku tertinggi Sekolah Dasar. Ia tengah memamerkan egrang-nya. Aku tak tahu apa motivasi dia memainkan egrang itu.
Hei, kalian tahu apa itu egrang bukan? 
Bagi kalian yang tidak tahu apa itu egrang, bisa dilihat di foto itu. Egrang merupakan tongkat atau galah yang digunakan seseorang agar bisa berdiri dalam jarak tertentu di atas tanah. Tongkat tersebut terbuat dari bambu. Egrang begitu populer dulu, namun sekarang kepopulerannya sedikit berkurang seiringnya perkembangan jaman dan perkembangan tekhnologi.
Perhatianku sekarang tertuju pada sisi yang lain. Masih pada foto itu, namun dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Aku merindukan rumahku :') Bukan. Rumah kedua orang tuaku dimana aku dibesarkan dalam kasih sayang mereka. Lihat, itu halaman rumahku. Terlihat sedikit berbeda pada saat aku di rumah itu September lalu. Perubahan musim. Itulah yang membedakannya.
September lalu, musim masih kemarau. Hujan enggan menyapa bumi. Awan hitam masih malu-malu menampakkan diri. Matahari dengan riangnya menyinari kami. Kering dan meranggas waktu itu. Pohon mahoni itu gundul. Serasa musim gugur tengah mengukung kami. Dedaunan itu melepaskan diri dari rantingnya. Melambai pelan menyentuh permukaan bumi. Begitu anggun dan elok. Pohon lain? Tak jauh berbeda. Kering. Mereka seperti kehilangan pigmen hijau, terlihat layu dan tidak segar. Mereka berbeda dengan debu yang setiap saat kejar-kejaran bersama kawanannya. Begitu bersemangat dan tak pernah tunjukkan lelahnya berlarian seharian.
Akan tetapi, lihatlah sekarang. Saat mentari enggan menampakkan wajahnya, hujan dengan senang hati selalu datang berkunjung. Pepohonan pun bersemangat, memberikan senyuman termanisnya bagi kami. Hijau menawan, tak tampakkan kelesuannya. Debu? Mereka tengah istirahat dengan tenang. Menanti saat tepat untuk kembali bermain. Dan aku? Saat ini aku seperti debu itu, sama menantinya. Aku menanti waktu agar bisa segera bertemu dengan mereka. :')

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top